Oleh Redaksi Bandungkita.id
ACEH TAMIANG — Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang bukan sekadar bencana alam. Ia adalah cermin dari krisis ekologis yang dipicu oleh degradasi tutupan lahan dan lemahnya pengawasan tata ruang. Melalui analisis citra satelit Sentinel-2 yang diproses dengan kecerdasan buatan (AI), terungkap bahwa perubahan tutupan lahan secara masif menjadi pemicu utama luapan air yang memorakporandakan pemukiman warga.

Dalam video berjudul “Analisis AI pada Banjir Aceh Tamiang” yang diunggah oleh Ridho Rahmadi di kanal YouTube @RidhoRahmadiOfficial, ditampilkan visualisasi spasial dampak banjir dengan pendekatan teknologi. AI digunakan untuk mengklasifikasikan jenis tutupan lahan—hutan, lahan terbuka, dan permukiman—sebelum dan sesudah banjir. Hasilnya menunjukkan penurunan signifikan area hutan di wilayah hulu, yang berkontribusi pada berkurangnya daya serap air dan meningkatnya risiko banjir bandang.
“Dulu di sini masih banyak hutan. Sekarang sudah jadi kebun sawit dan perumahan. Air hujan langsung turun ke kampung,” ujar M. Yusuf (47), warga Desa Tanjung Seumantoh, yang rumahnya terendam hingga atap.
VIDEO TERKAIT
Banjir yang terjadi pada akhir tahun ini merusak ratusan rumah, memutus akses jalan utama, dan memaksa ribuan warga mengungsi. Selain kerugian material, trauma psikologis juga membekas, terutama bagi anak-anak dan lansia. Warga menyebut banjir kali ini sebagai yang terparah dalam satu dekade terakhir.
“Kami sudah lama mengingatkan soal pembalakan liar dan alih fungsi lahan. Tapi suara kami tidak pernah didengar,” kata Nuraini, relawan lingkungan dari Forum Peduli Tamiang.
Ridho Rahmadi, dalam analisisnya, menekankan bahwa teknologi seperti AI dan citra satelit bukan sekadar alat bantu akademik, melainkan bukti visual yang dapat mendorong akuntabilitas kebijakan. Ia menunjukkan bahwa degradasi lingkungan bukan hanya terlihat dari data, tapi juga dari penderitaan warga yang terdampak langsung.
“Data satelit dan AI bisa jadi bukti kuat untuk menuntut perubahan. Tapi tanpa kemauan politik, semua akan sia-sia,” tegas Dedi Saputra, peneliti kebencanaan dari Universitas Syiah Kuala.
Pemerintah daerah mengklaim telah melakukan upaya mitigasi, namun data AI menunjukkan bahwa degradasi lingkungan terus berlangsung. Minimnya pengawasan dan lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran tata ruang menjadi sorotan utama.
Bandungkita.id mencatat bahwa banjir Aceh Tamiang bukanlah peristiwa tunggal, melainkan bagian dari pola bencana ekologis yang berulang. Teknologi kini hadir sebagai saksi, warga sebagai korban, dan pemerintah sebagai pihak yang dituntut untuk bertindak.(Joe/BandungKita.id)





Comment