BANDUNG, bandungkita.id – Rabu (17/12/2025) menjadi saksi konsolidasi besar para pejuang Kebun Binatang Bandung (Bonbin) yang menolak keras segala bentuk upaya pengambilalihan lembaga konservasi tersebut oleh pihak-pihak yang diduga terafiliasi dengan kepentingan koruptif. Tiga rangkaian aksi digelar serentak: teatrikal perlawanan, diplomasi militer, dan konsolidasi sipil. Semua menyuarakan satu hal: Bonbin bukan ladang bancakan.
Aksi Teatrikal: Kuburan Para Koruptor
Di tengah terik siang, massa aksi yang tergabung dalam gerakan “Save Dereunten” menggelar pertunjukan teatrikal di depan pintu utama Bonbin. Di bawah komando lapangan Priston, Trisno, dan Dedi Koral, aksi ini menyuarakan penolakan terhadap segala bentuk privatisasi dan komersialisasi yang mengancam keberlangsungan satwa dan kedaulatan publik atas ruang konservasi.
VIDEO TERKAIT
“Jangan pernah serahkan Kebon Binatang Bandung kepada siapapun, termasuk para koruptor. Konflik Bonbin akan menjadi kuburan bagi para koruptor serakah,” tegas salah satu orator dalam aksi yang berlangsung dari pukul 11.00 hingga 13.00 WIB itu.
Di waktu yang hampir bersamaan, Mayjen (Purn) Saurif Kadi melakukan silaturahmi strategis dengan Pangdam III/Siliwangi di Makodam Siliwangi. Pertemuan yang difasilitasi Nina Kurniawati dan Henda Surwenda ini menghasilkan sejumlah komitmen penting:
- Pangdam menyatakan bahwa dalam situasi darurat, militer berhak turun tangan.
- Akan dilakukan penggalangan donasi untuk pakan satwa dan operasional Bonbin.
- Dandim Kota Bandung diminta menjalin komunikasi intensif dengan Wali Kota Bandung.
- Pangdam akan mengajak Kapolda Jabar meninjau langsung kondisi Bonbin.
- Komitmen untuk tidak membiarkan satwa mati karena kelalaian birokrasi.
- Rencana pemberian nama anak harimau yang baru lahir sebagai simbol harapan.
- Dukungan penuh terhadap perjuangan masyarakat sipil menyelamatkan Bonbin.
- Koordinasi untuk mendorong Wali Kota segera membuka kembali Bonbin.
Pertemuan ini dihadiri sejumlah tokoh, termasuk istri Mayjen Saurif Kadi, Andri Kantaprawira, Ibu Yani Solihin GP, Abah Syam beserta istri, dan Rully Alfiady.






Konsolidasi Sipil: Ultimatum untuk Wali Kota
Sore harinya, pukul 14.00–16.00 WIB, puluhan tokoh masyarakat dan organisasi sipil berkumpul dalam forum konsolidasi yang dipimpin Asep Andriana, Apipudin, Yan Rizal (Caca), dan Dyna Ahmad. Mereka menyampaikan tuntutan tegas:
- Mendesak Wali Kota Bandung segera membuka kembali operasional Bonbin demi keselamatan satwa dan nasib para pekerja.
- Jika pemerintah abai, masyarakat siap membuka Bonbin secara non-komersial dengan sistem donasi rakyat.
- Usulan petisi dukungan tokoh dan masyarakat agar Bonbin segera dibuka.
- Rencana pelaporan Wali Kota ke Kejaksaan Negeri atas dugaan pembiaran kerugian daerah dan kelalaian terhadap satwa.
- Mendorong eskalasi isu ke tingkat nasional dan internasional melalui DPR RI dan NGO global.
- Permintaan kepada Presiden RI melalui Mayjen (Purn) Saurif Kadi untuk menegur Wali Kota Bandung yang dinilai gagal mengambil sikap.
Forum ini dihadiri tokoh-tokoh seperti Nu’man Abdul Hakim, dr. Andi Talman, Radhar Tribaskoro, dan Abah Syam, serta perwakilan dari GEMA PS, FK3I, WALHI, KPJ Bandung, FKPPI, UMKM Kebon Seni, Buah Batu Coret, MMS, GMBI, PEWARIS, GMNI, AMS, Aliansi Bandung Melawan, Paguron Sekar Rahayu, Daya Sunda Aliansi Garut-Sumedang, dan karyawan Bonbin Bandung.
Bandung Darurat Korupsi. Bonbin bukan sekadar kebun binatang—ia adalah simbol perlawanan terhadap kerakusan dan pembiaran. Warga telah bersuara. Kini, bola ada di tangan Wali Kota Bandung.
Laporan: Redaksi Bandungkita.id
Editor: Dhomz





Comment