Tamparan Keras Bagi Indonesia Power! Saat Dana Konservasi Diduga Macet, Eyang Memet Justru Papah Hulu Citarum Pakai Keringat Rakyat!

Sosok31128 Views

BANDUNGKITA.ID, BANDUNG — Di tengah sengkarut birokrasi dan tarik-ulur regulasi finansial antara korporasi raksasa seperti PT PLN Indonesia Power dengan otoritas pengelola wilayah sungai, hulu Sungai Citarum sebenarnya masih memiliki napas kehidupan. Napas itu dijaga oleh para pejuang lingkungan militan di akar rumput yang bergerak tanpa kompromi.

Salah satu figur sentral yang dikenal konsisten dan tanpa basa-basi bersuara serta beraksi nyata menyelamatkan ekologi adalah Eyang Memet. Melalui gerakan personalnya yang disokong oleh Yayasan Panata Giri Raharja, ia menjadi antitesis dari kelalaian korporasi yang kerap berlindung di balik meja mediasi birokrasi.

Menjaga Akar Rumput Saat Dana Konservasi Menguap

Ketika korporasi energi terjebak dalam sengketa tarif Biaya Jasa Pengelolaan Sumber Daya Air (BJPSDA) dan diduga menahan dana ekologis selama bertahun-tahun sebelum 2022, dampak nyata di lapangan adalah terlantarnya kawasan tangkapan air (catchment area). Di sinilah korelasi gerakan Eyang Memet menjadi sangat krusial.

Saat alokasi dana amanah (trust fund) dari sektor industri dan energi macet di jalur birokrasi, Eyang Memet bersama Yayasan Panata Giri Raharja justru melompati sekat-sekat formal tersebut. Mereka turun langsung ke lapangan, salah satunya dengan melakukan identifikasi titik-titik mata air kritis di kawasan Pacira (Pasirjambu, Ciwidey, Rancabali) yang merupakan bagian penting dari bentang hidrologi penyuplai air ke cekungan Bandung dan aliran Citarum.

“Kerusakan ekologi tidak bisa menunggu ketukan palu ruang sidang Mahkamah Konstitusi atau selesainya meja mediasi BPKP. Ketika mata air mati, kehidupan di hilir ikut mati. Kami bergerak menanam dan mengidentifikasi sumber air sebelum semuanya terlambat,” tegas prinsip gerakan nirlaba tersebut.

Kolaborasi Publik vs Kompromi Korporasi

Jika penyelesaian sengketa antara PLN Indonesia Power dan PJT II harus dimediasi oleh BPKP di ruang tertutup yang memicu kecurigaan eks Direktur WALHI Jabar Taufan Suranto mengenai adanya potensi pemutihan atau pengurangan angka utang Eyang Memet justru menawarkan model penyelesaian yang 180 derajat berbeda: Transparansi dan Kolaborasi Rakyat.

Melalui Yayasan Panata Giri Raharja, Eyang Memet secara konsisten mengajak masyarakat, komunitas lokal, hingga elemen pemangku kebijakan daerah untuk berkolaborasi menyelamatkan sumber-sumber air secara mandiri.

Gerakan ini menekankan bahwa hak atas air tidak boleh dikompromikan demi kepentingan margin keuntungan korporasi semata.
Secara teoritis, dalam infografis pengelolaan Wilayah Sungai Citarum, terdapat porsi 10% anggaran BJPSDA yang wajib dialokasikan murni untuk konservasi lahan kritis di hulu dan pembangunan sabuk hijau (greenbelt).

Aksi nyata yang dilakukan Panata Giri Raharja di lapangan seolah menjadi tamparan keras bagi para water users (pengguna air skala besar): bahwa kerja-kerja pemulihan lingkungan di hulu Citarum selama ini justru dipapah oleh keringat komunitas lokal di saat korporasi sibuk berdalih secara administratif.

Jangkar Investigasi Lanjutan
Memasukkan figur seperti Eyang Memet dan gerakan Yayasan Panata Giri Raharja ke dalam serial liputan khusus Bandungkita.id memberikan keseimbangan narasi (human interest) yang sangat kuat.

VIDEO PILIHAN

Laporan khas ini tidak hanya melulu soal angka utang triliunan rupiah atau pasal-pasal hukum yang kaku, melainkan memperlihatkan wajah nyata dari pihak yang paling dirugikan akibat kelalaian korporasi: alam dan masyarakat hulu.

Langkah investigasi selanjutnya adalah menyandingkan data: Berapa besar porsi dana dari skema cicilan pasca-mediasi BPKP oleh Indonesia Power yang benar-benar terserap sampai ke kelompok aksi lingkungan lokal seperti yang digerakkan Eyang Memet? Atau justru dana triliunan tersebut habis menguap di pos pemeliharaan teknis turbin semata?(Red/BK)

Film Pendek BANDUNGKITA.ID

Comment