BANDUNGKITA.ID — Gairah Kota Kembang belum juga surut. Sejak Maung Bandung kembali menahbiskan diri sebagai jawara di tanah air, jalanan di setiap sudut kota ini seolah tak pernah tidur.
Merayakan kebanggaan, melepas rindu akan kejayaan yang sekian lama dinanti. Namun, di balik pendar kemenangan dan gegap gempita konvoi raksasa yang mewarnai hari-hari kemarin, sebuah realita yang sedikit “pahit” kini menyeruak di antara rona bahagia itu.
Suara klakson dan yel-yel “Persib Juara!” yang menggema di kawasan Simpang Lima, Asia Afrika, hingga Jalan Sudirman, kini telah berganti dengan kesibukan lain. Suara sapu lidi yang beradu dengan aspal basah dan deru mesin truk sampah menjadi simfoni baru di subuh buta.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mencatatkan rekor yang tak biasa: lebih dari 112 ton sampah dadakan yang harus diurus dalam satu malam. Sisa-sisa perayaan itu menjelma menjadi “monumen” lautan plastik, botol minuman, hingga selongsong besi bekas flare yang kini jadi saksi bisu di balik euforia.
Di sela-sela tumpukan yang meninggi, Dadang Utun Hermawanatau yang akrab disapa Mang Utun mengamati realitas ini dengan pandangan yang dalam. Sebagai praktisi budaya, lingkungan, sekaligus founder dari gerakan Sunda Kiwari, Mang Utun yang juga death love (Bobotoh) melihat angka 112 ton itu bukan sekadar volume sampah fisik, melainkan refleksi dari runtuhnya tatanan adab dalam sebuah pesta.
“Kita semua tahu, dan kita semua bangga, Persib adalah bagian dari identitas, darah, dan daging warga Bandung. Kemenangan ini adalah kemenangan kultural. Tapi, merayakan kebanggaan dengan mengorbankan ruang hidup bersama? Di situ letak masalahnya,” ujar Mang Utun saat berbincang hangat dengan Bandungkita.id salah sati caffe dibilangan Cimahi utara.
Bagi Mang Utun, tumpukan sampah ini adalah biaya sosial yang mahal dari sebuah kebahagiaan yang tidak terkelola dengan bijak.
“Di satu sisi, ada ‘monumen’ sampah 112 ton yang sedang kita bersihkan dari jalanan. Di sisi lain, ada jutaan senyum dari pengusaha kecil hingga hotel yang akhirnya ‘kembali bernapas’ setelah lama terengah-engah. Inilah paradoks kemenangan kita. Tugas Sunda Kiwari adalah mengingatkan, budaya sejati itu merawat, bukan mengotori.”Dadang ‘Mang Utun’ Hermawan
“Efek Karambol” Ekonomi di Balik Lautan Sampah
Meski masygul melihat kondisi lingkungan kota yang sempat carut-marut, Mang Utun dengan jeli menolak untuk menutup mata dari sisi terang koin yang sama. Ia mengakui, gairah kemenangan Persib kali ini telah memicu “efek karambol ekonomi” (domino) yang luar biasa, persis seperti yang pernah diulas oleh redaksi Bandungkita.id sebelumnya.
Sektor-sektor hilir ekonomi riil Bandung mendapat injeksi dana segar secara masif:
1.Pariwisata & Hotel: Okupansi hotel di Bandung dan sekitarnya melonjak drastis. Ribuan bobotoh dari luar kota berbondong-bondong datang, menyewa kamar, dan berbelanja, yang secara langsung mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
2.Kuliner, UMKM, hingga Kaki Lima: Dari kafe estetik yang menggelar nonton bareng (nobar) hingga pedagang kaki lima (PKL) di pinggir jalan, semua kecipratan “berkah Maung”. Penjualan jersey, syal, bendera, hingga jajanan pasar laku keras.
3.Perputaran Uang Tunai (Fast Money): Perputaran uang di level akar rumput bergerak dalam hitungan jam. Ini memberikan napas baru bagi para pelaku ekonomi kecil yang langsung memegang uang tunai dari sirkulasi massa yang masif.
Menimbang Berkah dan Beban
Jika dikalkulasikan secara matematis, Mang Utun mengamini bahwa nilai materiil yang berputar di ekosistem hotel, kuliner, dan UMKM selama pekan perayaan juara ini jauh melampaui biaya operasional pembersihan kota yang dikeluarkan pemerintah. Keuntungan ekonomi makro dan mikronya bisa menyentuh angka miliaran rupiah.
Namun, sebagai penjaga nilai budaya Sunda, Mang Utun mengingatkan agar kalkulasi kita tidak melulu soal angka dan uang.
“Secara ekonomi, ini jelas berkah luar biasa bagi rakyat kecil hingga pengusaha besar. Tapi secara budaya dan ekologi, ini peringatan keras. Sunda Kiwari ingin mengetuk hati kita semua: mampukah kita ke depan merayakan kemenangan sepak bola dengan cara yang beradab? Bersorak tanpa merusak, berpesta tanpa menyisakan beban bagi para petugas kebersihan kita,” pungkas Mang Utun menutup obrolan.
Sementara para petugas DLH masih terus berjibaku menyapu sisa-sisa plastik di sudut Asia Afrika, Kota Bandung kembali diingatkan pada satu hal: bahwa sebuah kemenangan besar memang selalu datang dengan paradoksnya tersendiri. Dan tugas kita berikutnya adalah memastikan, berkah ekonomi itu tidak habis hanya untuk membayar ongkos kerusakan lingkungan. [Dhomz/Bandungkita.id]





Comment