by

Antisipasi Potensi dan Minimalisir Dampak Bencana, Pemkot Cimahi Lakukan Hal Ini

BandungKita.id, CIMAHI – Meski tidak termasuk dalam zona merah bencana alam di Jawa Barat, Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi terus menyiapkan masyarakatnya sigap menghadapi potensi bencana yang sewaktu-waktu terjadi.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jawa Barat menjadi provinsi dengan angka bencana paling banyak, yakni 700 kejadian. Bencana yang dominan terjadi seperti banjir dan longsor yang paling banyak terjadi di wilayah Garut, Tasikmalaya, dan Sukabumi.

Pemkot Cimahi kembali menetapkan satu kelurahan sebagai Kampung Siaga Bencana (KSB). Terbaru, Kelurahan Leuwigajah disiapkan sebagai KSB. Pengukuhan Kelurahan Leuwigajah sebagai KSB dilakukan di Lapangan Poral, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan.

Wakil Wali kota Cimahi, Ngatiyana mengatakan, bekal penanggulangan bencana mesti menjadi hal yang dikuasai oleh masyarakat.

“Masyarakat adalah pihak pertama yang langsung berhadapan dengan ancaman bencana. Kesiapan masyarakat menentukan besar kecilnya dampak bencana,” ujar Ngatiyana saat ditemui disela-sela kegiatan, Minggu (28/10).

Apel siaga merupakan bentuk kesadaran bersama bahwa rentetan bencana yang terjadi di tanah air merupakan rangkaian peristiwa yang dapat mengancam dan mengganggu aktivitas serta kehidupan masyarakat.

Berbagai kejadian bencana tersebut tidak jarang mengakibatkan korban jiwa, kerugian harta benda dan dampak psikologis para korban.

Bencana juga menimbulkan permasalahan lain seperti pemenuhan kebutuhan hidup bagi masyarakat yang mengungsi, kerawanan penyakit menular, serta masalah keamanan harta benda yang ditinggalkan.

BNPB merilis kawasan Bandung Raya sebelah utara dan barat laut, termasuk Kota Cimahi di dalamnya, memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi karena termasuk dalam kawasan Sesar Lembang.

Jika Sesar Lembang terjadi, potensi yang ditimbulkan menimbulkan bencana gempa bumi dan tanah longsor, juga potensi bencana lainnya seperti kebakaran, banjir, dan kekeringan.

“Sebelum terjadi, masyarakat mesti menyadari dia berada di lingkungan yang potensi bencananya sangat besar, tidak tahu kapan terjadi, tapi mesti waspada,” kata Ngatiyana.

Terkait penetapan Kelurahan Leuwigajah sebagai Kampung Siaga Bencana, Ngatiyana berharap daerah lain di Cimahi bisa mengikuti jejak yang sama.

“Ke depannya akan kita upayakan kelurahan lain juga jadi KSB, selain Cipageran dan Leuwigajah. Sangat bagus, tentunya untuk meminimalisir dampak buruk dari bencana itu sendiri,” tandasnya. (SDK/BandungKita.id)

Comment