Revitalisasi Pasar Tagog: Pemda Bandung Barat Harus Jamin Kepentingan Pedagang Tak Dirampas Investor

Headline, KBB, Terbaru616 Views

BandungKita.id, PADALARANG – Pemerintah Kabupaten Bandung Barat berencana melakukan revitalisasi Pasar Tagog Padalarang. Untuk merealisasikan hal itu, Pemkab Bandung Barat melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) telah menggandeng sejumlah investor sebagai pelaksana proyek.

Menanggapi rencana tersebut Pengamat Ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, mengkhawatirkan revitalisasi itu akan berdampak buruk kepada pedagang pasar.

Pasalnya, kata Acu, digandengnya investor untuk merevitalisasi pasar akan berdampak pada beralihnya pengelolaan pasar dari tangan Pemda ke pihak ketiga. Hal ini tentu akan mengakibatkan perbedaan kepentingan anatara pedagang dengan pengelola.

“Saya kira jangan sampai kepentingan pedagang yang lama terabaikan karena dengan masuknya investor pasti ada konsep baru yang tentu itu memiliki kepentingan profit bagi investor. Dan itu sudah terjadi di banyak pasar lain di berbagai tempat, bukan hanya di KBB,” tegasnya saat dihubungi BandungKita.id, Selasa (15/1/2019)

Menurut Acu, harusnya pemerintah daerah yang mendanai perbaikan pasar tagog agar kepentingan pedagang bisa terjamin.

“Lebih baik didanai oleh pemerintah saja pembangunan pasar itu. Sehingga kemudian bisa terjamin kepentingan para pedagang. Karena kita kan berusaha menjaga agar kepentingan para pedagang UMKM di sana bisa tetep terjamin,” tuturnya.

Baca juga: Pemkab Bandung Barat: Hambur di Bidang Infrastruktur, Acuh pada Aspek Mitigasi Bencana

Dia juga menilai, masuknya investor ke Pasar Tradisional akan menggerus secara perlahan pedagang dengan modal kecil yangsudah lebih lama eksis.

“Pasti investor itu akan mengoptimalkan potensi yang ada di pasar. Tentu akan masuklah investor lain, pedagang lain dengan kepemilikan modal yang besar. Kemudian hal itu bisa berpotensi mengganggu dan mengabaikan potensi pedagang yang lama. Jangan sampai penyerahan pada investor kemudian menghilangkan, mengaburkan atau mengurangi eksistensi pedagang lama,” kata Acu.

Acu berpendapat, jika para pedagang diwajibkan membayar sewa, belum tentu semua pelaku usaha memiliki kemampuan untuk membayar biaya sewa. Ia menegaskan hal itu salah satu bentuk dampak yang buruk akibat masuknya investor.

“Artinya menurut saya harus ada insentif terhadap uang sewa bagi pedagang yang lama. Tentu insentifnya bisa didiskusikan, karena perbaikan pasar idealnya memperbaiki infrastruktur, mempermudah aksesibilitas, dan pasarnya jadi lebih baik lebih, sehat juga lebih bagus,” paparnya.

“Namun spiritnya, yang jelas jangan sampai merugikan pedagang lama dan juga pelaku usaha yang sudah berdiri selama ini di pasar Tagog itu,” pungkasnya.

Baca juga: Terkait Video Viral, Bupati KBB Aa Umbara Diperiksa Pagi Buta Demi Hindari Wartawan? Ini Kata Bawaslu

Ditemui di tempat terpisah, Plt Kepala Disperindag Kabupaten Bandung Barat, Maman Sulaiman mendata setidaknya ada empat investor yang telah siap merevitalisasi Pasar Tagog tersebut.

“Ada 4 perusahaan yang mengajukan lelang. Diantaranya, Inter Nusa, Bangun Bina Persada, dan ada dua lagi saya lupa namanya,” ujar Maman, Selasa (15/1/2019).

Bentuk Pasar yang ditawarkan oleh investor, kata Maman, akan dibangun dua lantai yang dilengkapi sistem saluran air di belakang gedung, mengingat banjir sering terjadi di kawasan tersebut.

“Rencananya akan ada dua lantai. Ada basement. Ada pengairan di belakang karena kan sering banjir. Jadi jangan hanya investasi saja, tapi juga harus diperhatikan sarana dan prasarananya,” tuturnya.

Terkait rencana tersebut, Maman mengatakan ada beberapa pedagang menolak dengan konsep pasar yang mengelompokan pedagang di satu area tertentu dengan pedagang lain. Karena dirasa bakal merugikan pedagang.

“Kemarin ada ekspose dari peminat lelang. Tapi dikritisi oleh pedagang. Jadi kita menyarankan investor harus benar-benar mengakomodir keinginan pedagang,” kata Maman.

Dia juga berharap selain tidak kumuh, adanya revitalisasi pasar Tagog Padalarang yang memiliki luas tanah 7.449 m2 dengan jumlah 1427 pedagang itu, mampu mengurai kemacetan di kawasan Tagog Padalarang.***(BGS/BandungKita)

Comment