Bertahun-tahun Warga Lembang Diserang Monyet, Dishut Akui Belum Menemukan Solusi, Ini Alasannya

Bandungkita.id, BANDUNG – Warga Desa Mekarwangi, Lembang, Bandung, mengaku resah akibat kehadiran puluhan monyet yang disinyalir sering mencuri makanan. Salah satu warga, Zaki mengatakan, puluhan monyet tersebut selain mencuri, juga merusak bangunan rumah warga.

“Gerombolan monyet itu merusak rumah, genteng bocor, kabel putus, kanopi penyok dan sebagainya,” ungkap Zaki, seperti dikutip BBC, Senin (28/1/2019).

Zaki juga mengakui gangguang monyet tersebut sudah dirasakan warga sejak dua tahun yang lalu. Karena lokasi pemukiman berdekatan dengan kawasan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura).

Zaki mengatakan telah menggelontorkan dana sebesar Rp 20 juta untuk meminta bantuan otoritas untuk menangkap monyet-monyet tersebut. Namun, penangkapan ternyata bukan langkah yang tepat.

“Datang lagi dan lagi,”tandas Zaki.

“Solusinya nggak jelas, kita sudah mengikuti arahan dari BBKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), nyatanya ya begitu,” tambahnya.

Menanggapi itu, Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Jawa Barat, Epi Kustiawan menyebutkan, populasi monyet dengan nama latin Macaca fascicularis ini mencapai lebih dari 600 ekor.

Overpopulasi tersebut disebabkan karena kelahiran monyet tidak terkendali. Karena satu ekor monyet jantan bisa mengawini 25 ekor monyet berita, dengan tingkat kelahiran lebih dari tiga ekor per kelahirannya.

Dampaknya, monyet kekurangan sumber makanan dari habitat aslinya, sehingga mereka keluar hutan dan mencari makanan di pemukiman warga.

“Jumlah itu terlalu padat bagi kawasan Tahura yang luasnya hanya 528 hektar,” kata Zaki.

Sampai saat ini,  kata Epi, belum terpikir untuk melakukan sterilisasi, khususnya pada monyet jantan.

“(Sterilisasi) belum. Saya juga belum mempelajari caranya. Saya kira itu menarik juga kalau dipelajari. Metodenya bisa si raja monyetnya disterilkan. Cuma nangkap rajanya gimana, susah,” tuturnya.

Sementara saat ini Dishut Jabar mengendalikan monyet di Tahura dengan cara menangkap dan memindahkannya ke kawasan konservasi yang lain. Serta bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jabar. (DIA/Bandungkita.id)

(Sumber: BBC Indonesia)

Comment