by

Tekan Angka Stunting dan Diabetes, LIPI Ciptakan Superfood dari Daun Singkong dan Kedondong

BandungKita.id, BANDUNG – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) manfaatkan daun singkong dan daun kedondong untuk cegah stunting dan diabetes. Peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Ahmad Fathoni menuturkan, singkong dipertimbangkan untuk program penekanan angka stunting karena dapat ditanam di mana saja dan tahan kekeringan.

Singkong yang ditanamĀ  dari bibit unggul tersebut, kata Ahmad, kaya akan beta karoten, zat besi, zinc, dua mikronutrien yang dibutuhkan anak-anak stunting, selain protein dan vitamin. Kandungan gluten dalam singkong juga sangat bagus untuk pengidap diabetes.

Meski demikian, permasalahannya singkong diketahui rendah protein. Untuk mengatasi itu, Ahmad memproduksi tepung termodifikasi atau mocaf untuk dijadikan bahan baku makanan seperti mie atau kue.

“Kuncinya kita butuh inovasi supaya sampai ke masyarakat. Kalau kita kasih brownies, orang nggak ngeh kalo dia makan singkong padahal tepungnya pakai tepung singkong. Kita bikin mie ayam, soalnya siapa sih sekarang yang nggak makan mie? Artinya pasar mie ini luar biasa, cuma mie yang di luar itu terbuat dari terigu yang glutennya tinggi. Kita juga campur dengan sayuran supaya anak-anak yang nggak suka sayur bisa tetap mendapat nutrisinya,” kata Ahmad Fathoni, Kamis (28/2/2019) dilansir Detik.com.

Sementara untuk mencegah diabetes, Peneliti dari Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Wawan Sujarwo melakukan riset kolaborasi pada daun kedondong hutan. Buah dengan nama ilmiah Spondias Pinnata ini berbeda dengan kedondong yang sering kita temui.

Meski memiliki daun yang sama, namun buahnya lebih kecil dan bunganya berbeda. Wawan mengatakan, daun kedondong hutan memiliki kandungan antioksidan dan senyawa fenolik yang tinggi untuk menangkal radikal bebad.

Masyarakat Bali, khususnya di daerah Penglipuran, telah menggunakan daun ini sebagai bagian dari pengobatan tradisional. Mereka sudah lama mengonsumsi daun kedondong hutan untuk pencegahan diabetes. Biasanya dikonsumsi dengan dimasak jadi sayur atau direbus dan diminum jadi jamu atau loloh.

“Saya bilang ini bukan obat, tapi untuk mencegah. Diabetes itu kan pola hidup yang nggak sehat, makanan, olahraga. Kalau saya, jamu kita tidak bisa melihat dosisnya, diserap tubuhnya seberapa kita nggak tahu. Kelemahan herbal kan gitu, tapi kalau mencegah saya setuju. Kalau obat kan udah kelihatan ya,” jelas Wawan.

Diinformasikan, angka stunting dan diabete masih terus menghantui dunia kesehatan Indonesia. Dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, pravalensi stunting berada di angka 30,8 persen dan diabetes pada angka 8,5 persen.

Meski Stunting tercatat mengalami penurunan, masih ada beberapa daerah yang memiliki angka kasus tinggi. Sedangkan pengidap diabetes mengalami kenaikan.

Untuk itu, Fathoni dan Wawan berharap pangan lokal Indonesia bisa lebih dimanfaatkan. Sekaligus membantu kualitas kesehatan masyarakat Indonesia dengan makanan yang kaya nutrisi. (Dian Aisyah/Bandungkita.id)

Sumber: Detik.com

Comment