oleh

CERPEN : “Gaun Cantik Untuk Adikku Tersayang”

Pengantar Redaksi : Mulai Minggu (24/2/2019) ini, Redaksi BandungKita.id akan menayangkan tulisan berupa cerita pendek (cerpen),  puisi, dongeng atau cerita bersambung karya para pembaca yang budiman. Oleh karena itu, bagi Anda yang gemar dan memiliki hobi menulis cerpen, dongeng atau cerita bersambung, silakan kirimkan tulisan Anda ke email Redaksi BandungKita.id : [email protected]

Syarat tulisan : Tulisan harus merupakan karya orisinil, tidak hasil menjiplak sebagian atau seluruhnya. Tulisan tidak boleh mengandung muatan politis, SARA dan berbau pornografi dan vulgar. Tulisan minimal 1.000 karakter (kata) dan maksimal 20.000 karakter (kata). Tulisan boleh berbahasa Indonesia dan Sunda. Tulisan terpilih, akan kami tayangkan setiap akhir pekan. Yuk, menulis bersama BandungKita.id.

 

“Gaun Cantik Untuk Adikku Tersayang”

Oleh : Metta Arianthi

Menggores tinta pada lembaran kertas adalah hobiku. Setiap garis, lekukan, lingkaran, dan warna-warni dunia, kutoreh dengan sepenuh hati. Hingga tiada kata lelah, bahkan dalam kondisi seperti sekarang.

Selang infus, aroma menyengat obat-obatan, serta nuansa putih di kamar ini, adalah makanan sehari-hari. Selama hampir lima tahun, bertahan di sini, di sebuah rumah sakit. Kanker kulit stadium akhir … dokter memvonisku.

Tidak sanggup menggambarkan keadaanku ini sekarang. Cukup melihat reaksi orang-orang ketika melirik, maka siapa pun tahu, betapa tubuh ini tidak enak dipandang. Pasrah … hanya itu satu-satunya pendar hidupku kini.

Menempati kamar kelas VIP, bukan berarti tidak jenuh. Rumah sakit tetaplah membosankan. Sebuah televisi pun selalu menemani keseharian di ruangan ini. Selain suster dan dokter yang sesekali datang, hanya benda elektronik itu yang mengajakku bicara. Tidak ada siapa pun yang menjenguk. Tidak ada….

Salah satu saluran televisi swasta, menampilkan wawancara seorang model papan atas yang sedang naik daun.

 

Ilustrasi (net)

 

Aku tersenyum melihat gadis berkulit sawo matang itu. Ia tampak anggun dengan satu gaun bernuansa hijau. Baju cantik yang sangat cocok untuk pemiliknya. Melani, nama model berlesung pipi itu.

“Siapa pun Anda, ku ucapkan terima kasih banyak atas rancangan gaun ini. Luar biasa elegan, aku sangat menyukainya,” Melani berbicara di depan kamera ketika selesai mengisi sebuah acara besar.

Pasalnya, gaun yang ia pakai sekarang adalah hadiah dari seorang penggemar rahasia, yang memberikan rancangan baju indah. Bahkan, ini sudah kebelasan kali diterimanya.

Aku kembali tersenyum. Sungguh beruntung, ya? Baju cantik untuk wanita cantik. Serasi.

 

Ilustrasi (net)

 

Sekelebat, ingatanku tertarik pada masa remaja, ketika mengalami susahnya bertahan hidup, dua puluh tahun silam.

Langkahku terseok-seok di pinggir jalanan berbatu. Bau keringat menguar dari badan lusuh ini. Bersyukur, keranjang makanan berukuran sedang yang kutenteng telah kosong. Karena di terminal tadi banyak sekali pembeli. Jadi, saat matahari masih terik, aku sudah bisa diam di rumah, menjaga adik.

Lelah, memang. Karena aku berperan ganda, tidak hanya sebagai kakak, tetapi juga sebagai ibu dan ayah untuk adik.

Namaku Yuli. Baru saja lulus SMP, dan … mungkin tidak akan melanjutkan sekolah. Bukan tidak ingin, tetapi tidak mampu. Memangnya apa yang bisa dilakukan seorang yatim piatu sepertiku dan adik yang masih balita? Ah, bisa makan saja, itu sudah cukup.

BACA JUGA :

Jadi Fashion Stylist Sandiaga Uno, Nur Asia: Yang Penting Cocok

 

Fashion Unik : Kala Batik Bertemu Seni Tato, Begini Hasilnya

 

 

Di tengah perjalanan yang masih memakan waktu satu kilometer dengan berjalan kaki, kulewati sebuah toko baju anak. Sebenarnya tempat itu tidak pernah menarik perhatian. Bukan karena barang yang dipajangnya jelek, tapi aku tahu diri. Memangnya uang dari mana?

Namun, kali ini aku masuk ke sana, karena tertarik dengan tumpukan baju obral di dalam keranjang.

Setelah memilah-milah, kuambil satu dress selutut bercorak daun-daun yang sedikit kusam. Biarlah, toh ini tetap cantik untuk adik. Beruntung, tabunganku selama sebulan ini cukup untuk membelinya.

Begitu sampai di rumah, aku menjemput adik yang selalu dititipkan pada bibi, ketika aku berjualan di terminal. Kebetulan, rumah bibi dan gubuk kecilku bersebelahan.

“Dik, kakak punya sesuatu, lho!” ucapku, sambil menggendong adik.

Adik kecilku yang baru berusia 5 tahun ini, tersenyum semringah dengan lesung pipitnya yang menggemaskan.

“Wah … Kakak bawa susu kotak?” tanya adikku, matanya berbinar.

Aku menggeleng, “Bukan, Dik.”

Adik tampak cemberut. Dia pasti kecewa, susu kesukaannya tidak ada untuk hari ini.

“Kakak beli baju buat kamu, Dik,” bisikku, dan sontak membuat mata adik membulat.

Adik bertepuk tangan dan meloncat girang, setelah turun dari gendonganku. “Horeee!”

 

Ilustrasi (net)

 

Bungkusan dalam keresek hitam dibuka, dan langsung kupasangkan baju itu untuk adik. Cantik sekali.

“Kamu suka, Dik?”

“Suka sekali. Terima kasih, Kak,” ucap adik, sembari memeluk dan menciumiku berkali-kali.

Lalu kami tertawa bersama.

Begitulah. Baju yang kubelikan setahun sekali, bisa membuat adik tersenyum. Walau aku sendiri tidak pernah membeli keperluan pribadi, tapi tetap senang melihat adik bahagia.

Ketika adik sudah menginjak Sekolah Dasar, ia menunjukkan bakat. Kepintaran, caranya bercakap, dan bergaul, membuatnya bercita-cita tinggi.

Jika dia menceritakan impiannya yang luar biasa, aku hanya bilang, “Belajarlah sungguh-sunguh, Anak Pintar. Kakak yakin, kamu akan sukses dan meraih cita-citamu di kemudian hari. Kakak akan membantumu sekuat tenaga.”

Tahun berganti, adik semakin berprestasi dan membanggakan. Tak peduli sepayah apa aku bekerja, berdagang makanan asongan dan kadang menjadi buruh cuci, semua dilakukan untuk menghidupi kami dan membantu adik mencapai cita-cita. Pada akhirnya, kehidupan kami pun berubah.

Karena berbakat, adik merambah dunia model saat lulus SMA, dan akhirnya di usia ke-20 tahun, dia mencapai mimpinya.

Roda kehidupan makin naik. Berkat kesuksesan adik, kami pun mencicipi segala hal lebih layak. Dunia begitu menyenangkan. Namun, tidak sejak aku sakit.

BACA JUGA :

Weekend Telah Tiba! Ini Dia 7 Tips Mengisi Libur Akhir Pekan yang Bermanfaat

 

 

Kesibukan dan pergaulan adik dengan kalangan atas, serta sakit yang kuderita, menjadikan hubungan kami renggang. Tidak, aku tidak menjauh. Akan tetapi, adik yang pergi.

Adik meninggalkanku di rumah sakit, hanya memberikan biaya perawatan dan segala macam kebutuhan, tetapi ia tidak pernah lagi menemuiku.

“Maaf. Lebih baik Kakak di rumah sakit saja, untuk menjalani pengobatan. Tapi aku tidak bisa sering menjenguk, karena banyak kesibukan. Perihal keadaan Kakak sekarang ini, aku tidak ingin siapa pun tahu. Karena aku hanya ingin sukses karena prestasi, bukan dari rasa iba orang lain.”

Itulah, kalimat terakhir yang diucapkan adik ketika mengantarku ke rumah sakit. Sejak saat itu, kami tidak pernah bertemu. Hanya sesekali bertukar kabar lewat pesan singkat atau telepon, yang kadang hanya dijawab asisten pribadinya.

Apa aku sakit hati? Ah, tidak. Rasa syukurku lebih besar, karena melihat keberhasilan adik kecilku tersayang.

***

Sebuah sketsa rancangan gaun malam, telah terlipat rapi dalam amplop merah muda.

“Suster Dewi, tolong kirimkan lagi, ya!”

Ilustrasi (net)

Aku meminta seorang suster yang paling akrab denganku di tempat ini. Dia selalu menyuruh kurir untuk mengirimkan hasil karyaku pada seseorang.

“Untuknya lagi, Mbak?” tanya Suster Dewi.

“Ya, tentu. Memangnya siapa lagi?”

“Kenapa Mbak tidak bilang jujur saja padanya? Rancangan gaun yang selama ini diterima, adalah dari kakak kandungnya sendiri.”

Aku tersenyum. “Tidak sekarang, Sus. Nanti … nanti ketika aku sudah tiada, dia pasti mendatangiku ke sini, bukan?” Suaraku bergetar. “Maka pada saat itu, tolong Suster beritahu adikku, bahwa aku sangat bangga dia bisa memakai hasil coretan tanganku.”

Aku hanya mengeluarkan sebulir bening dari sudut mata, tetapi suster muda itu justru terisak pelan. Ia mengusap pipinya yang basah, mengangguk, lalu berlalu dari kamar dengan membawa amplop yang kutitipkan padanya.

Adik … sejauh apa pun jarak kita, kakak selalu ingin bersamamu, dekat denganmu.

Adikku tersayang…Melani.  (*Metta Arianthi/Cerpenis tinggal di Cangkuang, Kabupaten Bandung)

Editor : M Zezen Zainal M

Komentar