oleh

Duka Warga Kampung Cicapeu Cililin di Pelupuk Mata yang Berkaca-kaca

Mengenang Peristiwa Longsor di Desa Kidangpananjung Cililin KBB

BandungKita.id, CILILIN – Puluhan pasang mata di tenda pengungsian berkaca-kaca saat mengenang kejadian Minggu (12/5/2019) malam. Kampung Cicapeu yang berada di lereng Desa Kidang Pananjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, terpaksa harus berduka.

Malam itu, Iding (73) Ketua RT 05 hendak berbuka puasa dengan istri dan cucunya yang memiliki keterbatasan fisik. Rumah yang berada di tepi lereng, menjadikannya terjaga dalam kondisi waspada.

Belum juga adzan maghrib berkumandang, aliran listrik padam dan hujan deras mengguyur kampung tersebut. Dengan khidmat, Iding bersama istri dan cucunya memulai berbuka puasa dalam ruang yang gelap. Tak jarang ruangannya dimasuki cahaya dari kilatan petir yang masuk di sela-sela jendela.

Tidak lama waktu berselang usai berbuka, kewaspadaan Iding meningkat. Spontan, dia menengok pelataran rumah. Didapatinya, air dengan arus deras melintas di ruas jalan depan rumahnya.

Iding (73), Ketua RT 05 Kampung Cicapeu, Desa Kidangpananjung, Cililin, KBB (Bagus Fuji Panuntun/BandungKita.id)

Kekhawatiran Iding meningkat. Lekas Iding mengambil langkah membopong istrinya yang sudah tak lagi stabil untuk lari. Sementara cucunya yang mengalami keterbatasan fisik digendong oleh tetangganya berlari ke tempat yang dinilai lebih aman.

“Saya langsung gendong istri saya ke rumah tetangga yang di atas. Cucu saya karena susah jalan juga, dia digendong sama tetangga,” kata Iding, saat ditemui BandungKita.id, Jumat (17/5/2019).

Benar saja. Kekhawatiran Iding terbukti. Sesampainya di teras rumah tetangganya, dengan jelas Iding menyaksikan bagaimana tanah berjalan menimbun satu rumah dan satu masjid yang malam itu hendak dilakukan ibadah salat tarawih seperti malam-malam biasanya.

“Mungkin karena hujan dan mati lampu. Sehingga warga tak berangkat ke masjid,” tutur Iding.

BACA JUGA :

Bandung Barat Rawan Longsor, Ini Imbauan Aa Umbara Kepada BPBD KBB

 

Tagana Siapkan 250 Porsi Makanan Setiap Sahur dan Buka Puasa untuk Korban Longsor Cililin

 

Longsor tak hanya di satu titik. Sepanjang penulusuran ada empat titik longsor besar di Kampung Cicapeu. Titik terparah berada di samping rumah Iding seperti yang disaksikannya.

Sementara, Imam (50) beserta istri dan anaknya sempat melarikan diri dari rumah sebelum dapur rumahnya dihantam longsoran tanah. Kampung yang gelap dan hujan yang deras, selimuti kepanikan warga malam itu.

Imam mencoba keluar dari rumahnya untuk mengatur arus air yang mengalir deras dari arah atas. Saat menggenggam cangkul di tengah hujan dan lumpur, istrinya berteriak memanggil. Sontak Imam berlari menuju rumahnya dan membawa istri dan anaknya mengungsi ke dataran lebih tinggi.

Berbekal handphone dan senter, satu keluarga Imam berjam-jam diam di atas bukit disertai hujan yang tak kunjung reda. Barulah setelah beberapa lama, Imam beserta istri dan anaknya dijemput anggota Linmas untuk turun.

“Kalau dibilang panik, ya jelas panik. Apalagi istri saya,” ujar Imam dengan mata yang berkaca-kaca.

Dari atas bukit, Imam menyaksikan dengan jelas proses longsor tersebut terjadi. Kebun jeruk yang dirawatnya sejak puluhan tahun lalu, terpaksa harus terkubur.

“Mungkin sekitar seratus jutaan. Tapi biarlah dengan apa kita menyikapi kecuali dengan ikhlas?” kata itu keluar dari bisikan Imam saat dimintai cerita.

Hujan berhenti sekitar pukul 22.00 WIB. Sejumlah warga berkumpul di titik aman. Jangankan untuk tidur, unuk sekdar meminimalisir ketakutanpun sulit.

Mata harus tetap terjaga tak boleh terlelap. Ditakutkan ada longsor susulan datang menyerbu kampung lagi.

Meskipun begitu, warga Kampung Cicapeu harus terus melaksanakan Ibadah Puasa. Makan sahur pada Senin (13/5/2019) dini hari menjadi momentum sahur bersama satu kampung.

Tidak ada menu lain yang tersaji di meja saat saat itu selain ketakutan. Malam yang tidak bisa dilupakan warga Kampung Cicapeu masih menyisakan bayang-bayang ketakutan, kegelapan dan hujan deras, masih menjadi hantu dalam benak warga.

Pasca kejadian mengerikan malam itu, satu kampung tidak ada lagi yang berani tidur di rumahnya. Tidur bersama-sama di posko pengungsian menjadi pilihan warga untuk mengobati trauma.***(Bagus Fallensky/BandungKita.id)

Editor : M Zezen Zainal M

Komentar