by

Neng Daysi, Nasi Sejuta Khasiat dari Bawang Dayak Penemuan Mahasiswa Unpad

BandungKita.id, INSPIRASI – Berangkat dari kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia dalam menjaga pola makan sehat, lima mahasiswi dari Universitas Padjajaran (Unpad) yakni Fadilla Ridwan (22), Belinda Dwi Astuti (22), Novi Dwi Apriliani (22), Ika Rohani (22), dan Listya Cahyaningtyas (20) menciptakan panganan nasi dari olahan bawang dayak.

Bawang dayak kerap dimanfaatkan masyarakat Indonesia khususnya orang Kalimantan dalam mengobati berbagai penyakit. Mulai dari penyakit infeksi, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, sembelit, batu ginjal, hingga stroke.

Tercatat dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) sejak tahun 2013 rentetan penyakit tersebut kian meningkat hingga tahun 2018.

“Prevalensi kanker naik dari 1,4% (Riskesdas 2013) menjadi 1,8%; prevalensi stroke naik dari 7% menjadi 10,9%; dan penyakit ginjal kronik naik dari 2% menjadi 3,8%. Berdasarkan pemeriksaan gula darah, diabetes melitus naik dari 6,9% menjadi 8,5%; dan hasil pengukuran tekanan darah, hipertensi naik dari 25,8% menjadi 34,1%,” tulis Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam situs resminya.

Pravelansi penyakit itu berkaitan erat dengan pola hidup, khususnya mengonsumsi panganan yang tidak sehat. Bahkan mengonsumsi nasi pun diklaim tak begitu sehat, apalagi jika dikonsumsi berlebihan.

Sementara masyarakat Indonesia tak lepas dari makan nasi. Tradisi ini diyakini masyarakat sebagai sumber karbohidrat yang baik untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bahkan ada kalimat “belum makan kalau belum makan nasi” menjadi mitos yang diyakini masyarakat Indonesia. Sedangkan nasi putih mengandung glikemik yang tinggi. Kandungan tersebut berubah menjadi gula oleh tubuh manusia.

Jika dikonsumsi berlebihan maka akan berisiko terhadap tubuh seperti diabetes, meningkatkan berat badan, resiko penyakit jantung dan risiko lainnya.

BACA JUGA :

Peneliti UI Temukan Bakteri Genus Baru di Sukabumi

 

 

Menristekdikti Wacanakan Rektor Asing Untuk Pimpin Kampus

 

Kelima mahasiswa Unpad tersebut pun mengkolaborasikan komoditas bawang dayak dengan nasi yang dimodernisasi dalam pengolahan berasnya, yaitu nasi cepat matang atau nasi instan. Inovasi tersebut dinamai “Neng Daysi” (Nasi Herbal Bawang Dayak Siap Saji).

“Dalam nasi ini ada kantung herbalnya untuk meningkatkan keefektifan pengolahan nasi dan nilai gizinya,” ujar Fadhilla, salah satu anggota Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Neng Daysi asal Solok Sumatera Barat.

Proses pembuatannya dengan cara mencampur air rebusan bawang dayak dengan beras. Lalu dipanaskan ke dalam presto. Dengan menggunakan presto, pori-pori nasi akan terbuka sehingga kandungan bawang dayak akan meresap ke dalam serat nasi. Warna merah yang ditimbulkan dari ekstra bawang dayak juga akan merubah nasi putih menjadi kemerahan.

Nasi bakar Neng Daysi hasil kreasi mahasiswa Unpad (foto:istimewa)

Setelah itu nasi dimasukkan ke dalam pendingin agar pori-pori tertutup kembali. Di dalam proses ini kadar air dalam nasi akan menguap, sehingga bisa menjadi nasi instan. Meskipun menjadi nasi instan, kandungannya diyakini baik untuk kesehatan.

Penemuan ini telah membuat mereka ‘didanai’ oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) setelah bersaing dengan ribuan kelompok dari berbagai universitas di Indonesia dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa 2018 (PKM 2018) beberapa waktu lalu.

BACA JUGA :

Kisah Uu Sang Kuli Bangunan Kuliahkan Anaknya ke ITB dan Unpad : Yakin Pendidikan Bisa Ubah Nasib Mereka

 

Beras Neng Daysi bisa dikonsumsi masyarakat dan sudah dipasarkan. Terdapat dua ukuran yakni 150 gram dan 250 gram, masing-masing seharga Rp 20.000 dan Rp 30.000. Produk ini bertahan selama enam bulan tanpa bahan pengawet sehingga bisa dikirimkan ke luar daerah.

Selain itu juga mereka memproduksi nasi bakar dan nasi liwet dengan berbagai jenis paket. Harganya mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 30.000. Untuk yang berdomisili di Jatinangor dan Bandung, menu tersebut bisa juga diantarkan ke lokasi pemesan.

Fadhilla berharap inovasi Neng Daysi bisa menjadi solusi makanan sehat bagi masyarakat Indonesia.

“Juga mensejahterakan petani beras lokal dan menangkatkan nilai jual tumbuhan bawang dayak,” tutupnya. (Dian Aisyah/Bandungkita.id)

Editor : M Zezen Zainal M

Comment