by

Mengenal Dampak Negatif Penggunaan Gadget Berlebihan

BandungKita.id, BANDUNG – Masifnya teknologi digital khususnya gadget, tak hanya memudahkan komunikasi. Dibalik itu, teknologi digital bisa jadi bumerang. Bahkan bila berlebihan, berbagai gangguan perilaku justru mengintai, salah satunya memicu stress.

Pakar Psikologi Klinis Dr Henddy Ginting menjelaskan, stress yang dipicu penggunaan gadget terjadi lantaran komunikasi melalui gadget cenderung satu arah. Di mana pengguna gadget, mayoritas hanya menerima konten di media sosial yang tampil dalam gadget.

“Gadget atau teknologi digital itu kan mesin, kita seringkali mendapati setiap orang dalam perkumpulan bukanya saling berbincang namun sibuk dengan gawai,” kata Henddy saat ditemui pada Temu Ilmiah Nasional Psikologi Klinis Indonesia, di Bandung, Sabtu (24/8/2019).

Selain Henddy, Psikolog Klinis lainya Dr Indria L Gamayanti menjelaskan, setidaknya ada tiga jenis gangguan yang disebabkan penggunaan gawai berlebih. Yakni Electronic Screen Syndrome (ESS), Internet Adiction Disorder (IAD) dan Internet Gaming Disorder (IGD).

“ESS pada umumnya adalah dampak penggunaan gadget yang berakibat pada ketidak mampuan mengatur suasana hati, perhatian, keinginan, serta perilaku,” papar Indria.

Baca juga:

Selain Usir Stres, Ini 6 Manfaat Liburan untuk Kesehatan Mental Kita

 

Adapun, IAD adalah gangguan perilaku yang muncul akibat kecanduan internet.
Jenis kecanduan tersebut, kata Indria ada enam. Berlebihan belanja online, sosial media, game online, judi online, blogging, hingga kecanduan konten pornografi.

“Yang tak kalah berbahaya yaitu kecanduan Game atau IGD tadi, cirinya ada sembilan, saat asyik bermain game individu itu seringkali sulit melakukan kegiatan lain, kemudian mudah marah, intoleransi, sulit mengontrol prilaku,” papar Indria.

Tak hanya itu, ciri IGD lainya yakni individu cenderung tetap bermain game meskipun tahu dampak psikososial yang timbul. “Ciri lainya, individu seringkali berbohong saat ditanya berapa lama dia bermain game, akhirnya ini berujung pada hilangnya kesempatan kerja, pendidikan, hubungan, secara signifikan,” ujar Indria.

Meski begitu, salah satu solusi yang mungkin dilaksanakan adalah membatasi akses individu terhadap gadget.

Dalam sebuah penelitian kata Indria, idelanya gawai hanya boleh digunakan bagi seorang berusia 13-18 tahun itupun dengan durasi maksimal dua jam saja per hari. (Tito Rohmatulloh/Bandungkita.id)

Editor: Restu Sauqi

Comment