by

Problem Penyandang Disabilitas di Kota Bandung: Tenaga Medis Kurang Pengetahuan, Hingga Guiding Block Mirip Ketupat

BandungKita.id, BANDUNG – Direktur lembaga advokasi penyandang disabilitas, Bandung Independent Learning Center (Bilic), Yuyun Yuningsih menyayangkan masih adanya temuan tenaga medis di Kota Bandung yang belum mengetahui bagaimana memperlakukan penyandang disabilitas.

Hal itu ditemukan Bilic dalam riset yang dilakukan sepanjang April-Juni 2019 di lima Kecamatan yakni Cicendo, Regol Sukajadi, Bandung Kulon dan Batununggal dengan jumlah keseluruhan 200 responden.

“Pelayan kesehatan atau medis itu harus tau cara berinteraksi dengan penyandang disabilitas, misal ada disabilitas netra datang ke puskesmas, bagaimana caranya menuntunnya, apakah ditarik aja atau bagaimana? Itu masih dikeluhkan oleh responden kami,” kata Yuyun, Kamis (29/8/2019).

Baca juga:

Bilic Kecam TCT Bandung Karena Unggah Video Berisi Perundungan Terhadap Penyandang Disabilitas

 

Yuyun juga menerima keluhan dari para responden, terkait bahasa yang digunakan terutama bagi penyandang tuli atau gangguan pendengaran. Menurutnya, responden mengaku tak jarang kebingungan dalam memahami arahan para tenaga medis, lantaran tidak menguasai bahasa isyarat.

Tak hanya itu, pihaknya juga menemukan fakta bahwa adanya pembatasan akses dalam pembuatan catatan kependudukan. Ada kasus di mana saat penyandang disabilitas akan membuat kartu tanda penduduk (KTP) justru dianjurkan oleh pemerintah setempat tidak perlu membuat KTP dengan alasan tidak akan pergi kemana-mana.

“Tapi alhamdulillah, hadir juga tadi kebetulan dari Disdukcapil Kota Bandung mengatakan akan memberikan akses bagi para penyandang disabilitas untuk membuat KTP meskipun dengan sejumlah persyaratan, surat keterangan dan lain-lain,” ujar Yuyun.

Yuyun menegaskan, upaya untuk mencapai predikat Bandung kota ramah disabilitas memang perlu nafas panjang. Tak hanya pengetahuan, infrastruktur bagi disabilitas pun masih sulit dikatakan layak.

Terkait pemasangan infrastruktur pemandu disabilitas misalnya, khususnya di sejumlah trotoar, Yuyun juga masih menemukan adanya sejumlah kejanggalan.

Baca juga:

Tuntut Perbaikan Nasib, Kaum Disabilitas Gelar Aksi

 

Misalnya, dalam posisi pembuatan guiding block atau garis penuntun yang justru rutenya menabrak pot, tiang, hingga kubangan. Bahkan beberapa diantaranya guiding block justru dipasang seperti ketupat dan tidak menunjukkan garis lurus.

Makna guiding block berbentuk lurus adalah bermakna jalan terus, sementara guide block bentuk titik atau bulat bermakna hati-hati.

Pihaknya berharap agar dinas terkait tidak bekerja sendirian, tapi melibatkan lembaga-lembaga independen sehingga kebijakan terhadap disabilitas bisa lebih tepat sasaran.

“Misalkan Dinas Sosial atau juga Dinas Kesehatan, bahkan mungkin Dinas Pekerjaan Umum, kita terbuka untuk kita saling berkomunikasi bagaimana seharusnya menuju jalan yang pas untuk mencapai Bandung ramah disabilitas,” ujar Yuyun.***(Tito Rohmatulloh/BandungKita.id)

Editor: Restu Sauqi

Comment