by

Patung Badak Putih di Balkot Bandung, Simbol Kerinduan Kelestarian Alam Subur dan Teratur

BandungKita.id, SEJARAH – Sebagian dari kita mungkin pernah melihat harimau, macan tutul, dan badak. Setidaknya sekali dalam seumur hidup, seseorang pasti pernah melihatnya secara langsung di kebun binatang.

Bagi kamu milenial saat ini, mungkin tidak menyangka atau membayangkan jika binatang-binatang itu berkeliaran bebas di Kota Bandung.

Namun hal itu ternyata benar, hewan-hewan tersebut pernah bebas hidup dan berkeliaran di Kota Bandung. Setidaknya itu yang digambarkan oleh Haryoto Kunto dalam bukunya “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” (PT Granesia 1985).

Ia menuliskan, pada 1866, setengah abad sejak Kota Bandung berdiri pasca beralih dari Dayeuhkolot yang kini masuk wilayah Kabupaten Bandung, orang masih melihat kawanan badak yang berkeliaran di daerah Cisitu, beberapa ratus meter dari sebelah utara Kampus Institut Teknologi Bandung.

BACA JUGA :

Peduli Lingkungan dan Sejarah, Para Pemuda Ledeng Bersihkan “Gedong Cai Tjibadak”

Hari ini Gedung Sate Genap Berusia 100 Tahun, Begini Sejarah Singkatnya

Usia ITB Genap 100 Tahun, Begini Sejarah Singkatnya

Suasana Kota Bandung 17 Agustus 1945: Walikota Bingung dan Menangis Karena Pemuda Berontak

Bahkan Haryoto mengisahkan, proses pembangunan Kota Bandung pada masa itu sering terhalang oleh kawanan hewan buas seperti harimau, macan tutul, dan badak. Tentunya, karena hewan-hewan itu merasa habitatnya terancam. Untuk mengatasinya, setiap proyek pembangunan saat itu sering melibatkan jasa pawang hewan.

Sejumlah sumber juga menyebutkan, Bandung tempo dulu memiliki sejumlah lokasi habitat badak atau masyarakat Bandung ketika itu menyebutnya “pangguyangan badak”. Salah satunya bahkan tak jauh dari Pendopo saat ini.

Sebab itu pula di sekitar tempat tersebut terdapat tempat yang diberi nama Jalan Cibadak, yang kini menjadi pusat pertokoan.

Mungkin hal itu juga yang membuat adanya patung badak di Balai Kota Bandung hingga saat ini.

Pemilihan pusat pemerintahan Kota Bandung di Jalan Wastukencana juga karena kawasan tersebut dulunya merupakan pangguyangan badak.

Husein Wangsaatmadja (kiri) adalah Wali Kota Bandung periode (1978–1983) . (istimewa)

Tempat-tempat lainnya yang sebelumnya merupakan lokasi pangguyangan badak yakni Rumah Sakit Umum Rancabadak (sekarang Rumah Sakit Hasan Sadikin), dan juga Institut Teknologi Bandung.

Koran Pikiran Rakyat edisi 10 Oktober 1981 menuliskan, Wali Kota Bandung kala itu, Husein Wangsaatmadja sempat menceritakan kisah tentang patung badak putih.

Monumen Badak putih di halaman Balai Kota Bandung, sama sekali bukan lambang daerah. Melainkan merupakan simbol kerinduan Kota Bandung akan kehadiran kembali kelestarian alam yang sehat, tertib, tanpa kekurangan air serta pepohonan yang rindang.

Monumen tersebut juga merupakan pencerminan kehendak Bandung masa kini (saat itu) dan Bandung masa mendatang untuk kembali memiliki lingkungan yang subur dan teratur.

Monumen Badak Putih menjadi representasi tekad Kota Bandung untuk mengembalikan keadaan lingkungan yang sehat.

BACA JUGA :

Lindungi Sejarah, Yuk Kenali Ciri-ciri Bangunan Cagar Budaya

BERITA FOTO: Melihat Sejarah Kota Kembang di Museum Bandung

Pemkot Bandung Harus Serius Rawat Bangunan Bersejarah

Inilah Asal Muasal Nama Lapangan Gasibu, Benarkah Dari Kata Gazeebo?

“Penempatan monumen Badak Putih juga sebagai perlambang betapa manusia sebenarnya tidak bisa hidup tanpa kehidupan satwa. Hewan itu tak perlu dibenci apalagi dimusnahkan. Kemusnahan hewan-hewan liar akan berarti pula musnahnya atau rusaknya tata lingkungan yang sehat,” ujar Husen kala itu.

Lalu kenapa berwarna putih? Husein Wangsaatmadja mengatakan, di antara badak yang terdapat di Bandung kala itu ada seekor badak yang memiliki warna berbeda. Yakni putih, dan diduga merupakan pemimpin di antara para badak lainnya. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan monumen badak di halaman Balai Kota Bandung jadi berwarna putih.

Dia menyatakan, kehidupan badak tidak lepas dari sejarah pertumbuhan Kota Bandung. Sayangnya, karena di masa lalu habis diburu, kini keberadaan badak serta hewan endemik lainnya seperti harimau dan macan tutul di Kota Bandung akhirnya punah.

Ilustrasi Badak Putih. (net)

“Tidak salah kiranya jika dibuat suatu monumen badak putih, untuk mengenang kelestarian alam yang sempurna pada masa lalu, sambil mencoba mengembalikan kembali kondisi itu bagi masa kini dan mendatang,” tuturnya.

“DALAM DADA KAMI TAK PERNAH PADAM MENGEMBAN TUGAS MENERUSKAN HARAPAN AGAR NAMA DAN TITIPAN INI BANDUNG SEMERBAK SEPANJANG MASA”

Demikian tulisan yang terdapat pada prasasti peresmian yang diabadikan di bawah patung badak. Wali Kota Husein Wangsaatmadja meresmikannya pada 10 Oktober 1981. (*)

Editor : Azmy Yanuar Muttaqien

Sumber : Humas Pemkot Bandung

Comment