by

Inilah Asal Muasal Nama Lapangan Gasibu, Benarkah Dari Kata Gazeebo?

BandungKita.id, SEJARAH – Lapangan Gasibu yang telah ada sejak zaman Hindia Belanda ini dahulu pernah bernama Wilhelmina Plein (lapangan Wilhelmina). Nama ini diambil dari Ratu Belanda.

Menurut Sudarsono Katam, dikutip BandungKita.id dari bukunya “Album Bandung Tempoe Doeloe”. Pada 1950-an, nama lapangan tersebut kemudian berganti menjadi Lapangan Diponegoro.

“Kemudian pada tahun 1955, Lapangan Diponegoro lebih dikenal dengan nama lapangan Gasibu,” tulisnya.

 

BACA JUGA :

Seperti Ini Kondisi Bandung Masa Lampau, Sebelum Jadi Kota Seperti Saat Ini

 

 

Nama Gasibu sendiri, menurutnya, berasal dari sebuah perkumpulan sepakbola yang dimana anggotanya merupakan masyarakat Bandung Utara. Gasibu kepanjangan dari Gabungan Sepakbola Indonesia Bandung Utara. “Keliru jika selama ini ada anggapan Gasibu berasal dari kata Gazeebo,” kata penulis Bandung Kilas Peristiwa di Mata Filatelis, Sebuah Wisata Sejarah ini.

Sebelum main di lapangan ini, tim Gasibu sering berlatih di sebuah lahan di Jalan Badak Singa, yang saat ini kantor PDAM. “Karena lapangan di Badak Singa ini dibangun untuk PDAM, mereka akhirnya pindah,” tutur Katam.

 

Kawasan Lapang Gasibu saat ini (Tito Rohmatullah/BandungKita.id)

 

Saat ini salah satu tempat favorit di lapangan tersebut adalah tangga yang menuju ke lapangan dari Jalan Diponegoro. Di tangga ini warga bisa bersantai duduk-duduk di tangga sambil melihat Gedung Sate. Selain itu juga bisa berfoto-foto dengan latar berlakang gedung pemerintahan Provinsi Jawa Barat ini.

Di Jalan Gasibu ada jajaran pedagang kuliner yang siap menunggu siapapun yang telah lelah berolahraga. Di jalan ini pula kendaraan bisa diparkir. Di kawasan Gasibu kini lebih tertib setelah Pemerintah Kota Bandung mengembalikan fungsi lapangan ini sebagai sarana berkumpul masyarakat.

 

BACA JUGA :

Pemkot Bandung Harus Serius Rawat Bangunan Bersejarah

 

 

Sebelum ada penertiban, tiap Minggu, kawasan ini menjadi pasar kaget. Namun setelah ada penertiban 16 Maret 2014 sedikit demi sedikit mulai berkurang, dan akhirnya berkurang secara drastis. Hanya beberapa pedagang kaki lima yang berdagang di kawasan Jalan Diponegoro dengan menggunakan mobil.

Di lapangan yang memiliki luas kurang lebih 6.000 Meter Persegi ini sering digunakan untuk even-even seperti konser musik, dan acara yang mengundang banyak orang untuk menyaksikannya. Namun sekarang acara-acara termasuk konser sudah jarang digelar. Kini Lapangan Tegallega banyak dipilih untuk mengadakan konser atau acara lainnya.

 

Comment