Antara Tumpukan Trofi, Jeritan “Dadas” dan Agus Yasmin: Membaca “Suasana Kebatinan” dan “Langkah Jariah” Bedas Jilid 2

SOREANG, BANDUNGKITA.ID — Dinding kantor Pemerintah Kabupaten Bandung mungkin sudah penuh sesak oleh lebih dari 350 plakat penghargaan, namun di ruang digital, narasi yang berkembang justru berbanding terbalik.

Memasuki babak “Bedas Jilid 2”, kepemimpinan Bupati Dadang Supriatna (Kang DS) kini berada di pertaruhan Legitimasi masing-masing, apakah akan mempertahankan prestise administratif di tengah kepungan kritik warga yang menyebut kemajuan daerah hanyalah “fatamorgana” di kolom komentar media sosial.

Kontradiksi di Balik Angka
Berdasarkan penelusuran tim BandungKita.id, gelombang sinisme netizen mendominasi platform media sosial. Istilah “BEDAS” (Bangkit, Edukatif, Dinamis, Agamis, dan Sejahtera) kini dipelesetkan menjadi “DADAS” (Luka/Hancur) sebuah tamparan keras bagi birokrasi yang gemar memamerkan statistik.

ARTIKEL PILIHAN

“Pencapaian gemilang apanya? Banjir masih di mana-mana, jalan masih pada rusak,” tulis akun Dea Faniolshop dalam sebuah kolom komentar yang viral. Senada dengan itu, akun Ari Susanti menyoroti kondisi Cileunyi Wetan yang kontras, “Banyak lobang butut, banyak terjadi kecelakaan… selamat Anda berhasil membangun,” tulisnya pedas.

Ketidakpuasan ini bukan tanpa alasan. Publik masih mengingat jelas bagaimana “Bedas Jilid 1” berakhir dengan catatan merah pada rusaknya sistem pengelolaan sejumlah BUMD. Padahal, selama periode tersebut, sokongan bantuan keuangan pusat melalui figur H. Cucun Ahmad Syamsurijal menjadi nafas utama pembangunan. Tanpa sokongan pusat, kemandirian fiskal Kabupaten Bandung kini dipertanyakan di periode kedua.

VIDEO PILIHAN

Agus Yasmin: Membaca “Suasana Kebatinan” Kebijakan

Di tengah badai kritik tersebut, pembelaan datang dari tokoh Politisi senior Kabupaten Bandung, H. Agus Yasmin. Mantan Ketua DPRD ini meminta masyarakat melihat tantangan pemerintah dari kacamata yang lebih luas, terutama soal keterbatasan anggaran.

“Tantangan yang dihadapi di ruang fiskal saat ini cukup menyesakkan dada, membuat langkah wajib semakin cermat. Suasana kebatinan dalam pemilihan program urusan wajib dipilah dan dipilih dengan piawai oleh Kang DS,” ujar Agus Yasmin dalam status media sosial Facebooknya Senin, 23/02/2026.

Tangkapan Layar Facebook Agus yasmin

Agus Yasmin menegaskan bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak melulu soal aspal, melainkan penguatan karakter melalui dakwah. Ia menunjuk program insentif guru ngaji sebagai “Langkah Jariah” yang akan membangun karakter generasi masa depan.

“Bersyukurlah para guru ngaji yang mendapat kebijakan ini. Ini adalah transformasi pengetahuan ibadah dan akhlak kepada anak asuh mereka. Langkah ini penuh makna,” tambahnya, mencoba mengimbangi narasi pembangunan fisik dengan pembangunan spiritual.

ARTIKEL PILIHAN

Rapor Merah di Akar Rumput

Namun, narasi “Langkah Jariah” tersebut nampaknya belum cukup meredam keresahan sektoral. Isu miring mengenai dugaan praktik “admin” atau pungli dalam penyaluran tenaga kerja di kawasan industri Tegal Luar hingga kebijakan air baku Sungai Citarum yang dinilai lebih memihak perumahan elit ketimbang petani, tetap menjadi bara dalam sekam.

Pemkab Bandung sendiri selalu memberikan disclaimer bahwa 350 lebih penghargaan yang diraih adalah bukti objektif dari reformasi birokrasi dan pertumbuhan ekonomi makro. Namun bagi warga yang setiap hari harus menerjang banjir dan jalan berlubang, penghargaan tersebut hanyalah “hiasan dinding” yang tidak berdampak pada dapur mereka.

ARTIKEL KHUSUS

Catatan Redaksi:
Bedas Jilid 2 bukan lagi soal mengumpulkan piagam, melainkan soal pembuktian. Jika lubang jalan di Cileunyi dan jeritan petani Bojongsoang tak segera dijawab dengan solusi nyata, maka 350 penghargaan tersebut hanya akan menjadi monumen bisu di tengah masyarakat yang merasa kian “dadas”.(Dhomz/Bangkit)

Comment