“Otista Riwayatmu Kini”
SOREANG, bandungkita.id – Jagat maya kembali “korejat”. Sebuah video keluhan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Oto Iskandar Di Nata (Otista) Soreang berujung viral besar.
Isunya sensitif: pasien asma yang megap-megap sesak napas diduga tidak mendapatkan penanganan cepat dengan alasan ruang IGD penuh.
Meski pihak manajemen rumah sakit plat merah ini buru-buru melempar klarifikasi ke publik, arus bawah di kolom komentar media sosial kadung mendidih. Pantauan bandungkita.id di barisan komentar netizen, mayoritas jempol warga justru melayangkan kritik tajam, sarkasme khas Sunda, hingga luapan trauma masa lalu yang seragam.
Menelaah komentar-komentar “wow” tersebut, publik seperti sedang menggunakan hermeneutik kecurigaan. Mereka tidak lagi menelan mentah-mentah alasan operasional rumah sakit. Bagi warga, urusan nyawa khususnya penyakit akut seperti asma tidak bisa dinegosiasikan dengan tumpukan prosedur atau alasan klasik.
“Asma th taruhan n nyawa loh lamun teu buru2 ditangani, karaos ku abdi nyalira dmn keur jdi asa rek hos harita !!” tulis akun Siti Rahmawati Nurhidayat, menggambarkan betapa tipisnya batas antara hidup dan mati bagi seorang penderita sesak napas.
Sentimen senada ditegaskan Athian Jawahirsyakir.
Menggunakan bahasa Sunda yang halus namun menohok, ia menulis, “Saur abi mah panyawat asma th kaetang gawat darurat. Upami t rnggal dibtangani tiasa meninggal… kumargi abi ge gduh panyawat asma… ngaraosken upami enggal di tangani…”
Ketidakpercayaan publik terhadap sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit pemerintah tampak kian mengakar. Netizen menilai ada jurang pemisah yang lebar antara kualitas pelayanan jalur BPJS/Umum, serta kontras tajam antara rumah sakit negeri dan swasta.
Akun Heru Mang Aher dengan sinis berujar, “Sudah biasa jeng geus teu aneh, lamun jalur UMUM mah pasti sat set crot.” Sementara Tresnwati Dewi menguliti pembeda manajemen yang dirasakannya, “Kebiasaan sok ngantep Kitu RS teh. RS negeri Jeung swasta beda pisan penengananna. Ngarana asup ka IGD berarti daruratnya. Emang kadang pegawai kesehatan pikasebeleun jarudes.”
Yang paling memicu “kooler” (emosi) netizen adalah pola penanganan krisis komunikasi publik oleh pihak birokrasi yang dinilai menjemukan ada kejadian, viral, baru minta maaf dan klarifikasi. Pola ini disebut netizen sebagai taktik usang.
“Geus viral karek buka suara, Ari teun hayang Alus image th tp di sepelekn. Matak ulah nyieun pamolah geura… Geus kieu MH apan JD goreng,” ulas Dhesy Cichi.
Akun Jajang Rohimat pun menimpali dengan emotikon kopi dan rokok yang getir, “Bisaan si ibu alibi na…” Begitu pula Gilang Gerry Haryono, “Kumargi mraneh we lah klarifikasi da geus viral… Angger.” Dan disamber dengan singkat oleh Neng Nurhidayah II, “Alesan klasik tibaheulaaaa.”
Kekecewaan ini bahkan melahirkan sikap skeptis yang ekstrem terhadap profesi medis modern. Akun Nur Laila bahkan sampai menulis sumpah serapah yang miris, “Gs di bejaan ulh hyg ka dokter atau ka RS.. Minum herbal… Sebab dokter jg perawat jaman kiwari tidak sama dg dokter jaman dulu yg benar2 ikhlas mengobati masyarakat !!! Kalo skrg lo miskin lo mati aja.. Aing mah pantrang sakeluarga nu ngarana gering ka RS jg ka dokter.”
Dari rentetan “rujakan” digital ini, RSUD Otista Soreang sesungguhnya sedang menghadapi lampu kuning krisis kepercayaan (crisis of trust). Megahnya gedung baru di Soreang rasanya bakal sia-sia jika mentalitas pelayanan publiknya masih mengidap penyakit lama: lamban, kaku, dan baru ramah setelah kamera netizen merekam jalannya peristiwa.
Publik Soreang dan Kabupaten Bandung tidak butuh untaian kalimat retoris saat napas mereka sudah di ujung tenggorokan. Mereka butuh aksi medis yang presisi, tanggap, tanpa pandang bulu. Tabik! (Red/bk)





Comment