Simalakama di Hulu Saguling. (Bagian 2)
CILILIN, BANDUNG BARAT — Jarak antara bencana ekologis dan meja makan warga Cililin rupanya hanya dipisahkan oleh sistem pemipaan sepanjang beberapa kilometer. Potret visual dari udara dan satelit memperlihatkan sebuah kontradiksi yang mengerikan: instalasi pengolahan air bersih PDAM Tirta Raharja Unit Cililin berdiri tegak, hanya sepelemparan batu dari badan air Waduk Saguling yang sehari-harinya disesaki oleh ribuan ton sampah domestik, limbah pasar, hingga tanaman eceng gondok. Pertanyaan besar yang kini menghantui adalah: seberapa aman air yang mengalir ke gelas-gelas warga ketika hulu air bakunya telah lama berubah menjadi septik tank raksasa?
VIDEO PILIHAN
Budaya Nyampah dan Hilangnya Kearifan Lokal
Kondisi carut-marut ini memantik keprihatinan mendalam dari Dadang Utun Hermawan, Presidium Sunda Kiwari sekaligus Pembina Jurig Runtah Nusantara. Pria yang akrab disapa Mang Utun ini melihat bahwa kepungan sampah di Cililin bukan sekadar masalah teknis ketiadaan TPS, melainkan sinyal lampu merah runtuhnya nilai budaya masyarakat terhadap alam.
“Ieu teh ruksakna laku lampah (Ini adalah rusaknya perilaku). Dalam filosofi Sunda, ada jargon ‘Sagara herang, laukna beunang’ artinya kita memanfaatkan alam tanpa harus mengotorinya. Waduk Saguling dan aliran air di Cililin ini adalah sumber kehidupan, hulu yang sakral. Ketika hulu ini dikepung sampah pasar dan plastik, artinya kita sedang menabung racun untuk anak cucu kita sendiri. Ini kemunduran budaya yang sangat serius,” ungkap Mang Utun dengan nada bergetar saat dimintai tanggapan.
VIDEO PILIHAN
Ancaman Zat Kimia dan Kutipan Jurnal Ilmiah
Sebagai pembina gerakan lingkungan Jurig Runtah Nusantara, Mang Utun tidak hanya berbicara menggunakan pendekatan kultural, tetapi juga membedah bahaya air baku ini menggunakan pisau ilmiah. Ia mengingatkan bahwa air yang tampak “jernih” setelah keluar dari pipa PDAM belum tentu bebas dari ancaman zat mikro yang tak kasatmata.
Mang Utun mengutip salah satu kajian kompeten dari Jurnal Ilmu Lingkungan (Universitas Diponegoro) dan riset Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Unpad terkait kualitas air baku Waduk Saguling.
VIDEO PILIHAN
“Secara ilmiah, riset di Waduk Saguling menunjukkan bahwa kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biochemical Oxygen Demand (BOD) di titik hulu sering kali sudah melebihi ambang batas mutu air kelas II untuk air baku air minum. Yang paling mengerikan, menurut jurnal ilmiah mengenai akumulasi polutan di DAS Citarum hulu, dekomposisi sampah plastik di Saguling telah menghasilkan polusi mikroplastik dengan kelimpahan tinggi yang masuk ke sedimen dan kolom air,” papar Mang Utun.
VIDEO PILIHAN
Lebih lanjut, ia membedah bahwa rembesan air lindi (leachate) dari sampah organik Pasar Cililin mengadung senyawa nitrogen bebas dan fosfat tinggi.
“Bahan kimia dari pengolahan PDAM konvensional memang bisa membunuh bakteri E. coli. Tapi ingat, klorinasi yang bertemu dengan air kaya zat organik tinggi dari pembusukan sampah justru memicu terbentuknya senyawa Trihalometana (THM). Jurnal-jurnal kesehatan lingkungan sudah membuktikan, senyawa THM ini bersifat karsinogenik artinya, warga Cililin dalam jangka panjang sedang diintai oleh ancaman penyakit kanker dan kerusakan organ dalam karena mengonsumsi air dari hulu yang rusak,” tambahnya tegas.
Visualisasi Petaka Jarak Dekat
Bukti-bukti lapangan yang terekam kamera memang tidak lagi bisa dibantah. Tampak gunungan limbah plastik, styrofoam, hingga sisa sayuran busuk dari Pasar Cililin mengular di sepanjang bantaran tanah dan langsung ambles ke dalam perairan saat hujan tiba. Sampah-sampah ini tidak sekadar terapung; mereka melapuk, membusuk, dan mengalami dekomposisi kimiawi tepat di wilayah perairan yang menjadi wilayah tangkapan air (catchment area).
Dari titik-titik TPS liar di Kp. Nunuk dan Cililin Timur, aliran air pembawa mikroplastik dan air lindi ini bergerak tenang namun pasti menuju area dermaga dan teluk kecil Saguling kawasan di mana pipa-pipa intake PDAM Tirta Raharja Unit Cililin mengisap air baku setiap detiknya untuk diproses menjadi air “bersih”.
ARTIKEL PILIHAN
Penelusuran tim liputan menyusuri jalanan aspal kecil di sepanjang tepian Cililin memperlihatkan lanskap yang menipu mata. Di satu sisi, wilayah ini tampak asri dengan hamparan sawah dan jajaran pohon pisang. Namun, tepat di balik rimbunnya semak-semak, terdapat cekungan-cekungan tanah yang sengaja dijadikan tempat pembuangan sampah liar oleh warga karena ketiadaan fasilitas dari pemerintah daerah.
“Kami tahu ini dekat ke air waduk, tapi mau bagaimana lagi? Di pinggir jalan utama tidak ada bak sampah besar (TPS resmi). Kalau tidak dibuang ke arah jurang atau bantaran air ini, sampah di rumah kami mau dikemanakan?” ungkap salah seorang warga yang melintas di jalur tersebut dengan nada pasrah.






Melalui kacamata investigasi, posisi geografis PDAM Tirta Raharja Unit Cililin yang terhimpit di antara pemukiman padat dan perairan tercemar menguak fakta kelam:
- Abainya Mitigasi Hulu: Ada pembiaran kolektif dari level Pemkab Bandung Barat hingga manajemen BUMD. PDAM terkesan dibiarkan bertarung sendiri di hilir menggunakan bahan kimia, sementara sumber racun di hulunya (TPS liar dan pasar) tidak pernah dibenahi secara struktural melalui pendekatan budaya maupun kebijakan tata ruang.
- Ancaman Shutdown Operasional: Jika volume sampah pasar terus meningkat seiring macetnya tata kelola logistik sampah DLH KBB, karakteristik kimia air baku Saguling akan mencapai titik jenuh. Ketika itu terjadi, teknologi pengolahan air konvensional PDAM dipastikan lumpuh (failure), memicu krisis kelangkaan air bersih total bagi ribuan pelanggan.
Menyaring air dari kepungan sampah adalah solusi jangka pendek yang mahal dan berisiko tinggi bagi kesehatan publik. Taruhannya adalah nyawa dan masa depan generasi warga Cililin.
ARTIKEL PILIHAN
Namun, ketika dikonfirmasi, ke mana larinya anggaran pengelolaan lingkungan hidup Kabupaten Bandung Barat? Mengapa instansi terkait seolah menutup mata atas hilangnya hak warga terhadap air bersih yang bebas dari kontaminasi sampah?
Bagaimana tanggapan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KBB dan jajaran manajemen PDAM Tirta Raharja pusat terkait temuan mengerikan serta sorotan dari budayawan lingkungan ini? Siapa yang harus bertanggung jawab atas bom waktu ekologis di Cililin?
Simak investigasi tuntasnya pada Bagian ke-3 (Terakhir): “Menagih Tanggung Jawab di Balik Pipa yang Tercemar”.
(Tim Redaksi BandungKita.id)





Comment