Bukan ke Kantor, Habis Upacara Kenegaraan Kang DS Malah Susuri Aliran Sungai, Ternyata Ini yang Dibawa!

BANDUNG, BANDUNGKITA.ID – Pancasila bagi sebagian pejabat mungkin hanya urusan teks yang dibaca dengan khidmat di atas podium empuk setahun sekali. Namun, bagi Bupati Bandung Dadang Supriatna, cara terbaik merayakan kelahiran dasar negara itu adalah dengan melangkah langsung ke kubangan masalah rakyatnya.

Tepat setelah memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila tingkat Kabupaten Bandung pagi tadi, sang bupati memilih menanggalkan pakaian dinas upacaranya yang rapi tanpa cela.

Alih-alih kembali ke ruang kerja ber-AC atau beristirahat menikmati sisa hari libur nasional, pria yang akrab disapa Kang DS ini langsung gaskeun menuju garis depan penanggulangan bencana, Desa asalnya, Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang. Sebuah kawasan yang selama puluhan tahun menyandang takdir pahit sebagai “langganan” banjir tahunan.

Pantauan di lapangan menyuguhkan pemandangan yang kontras. Mengganti seragam formalnya dengan kaos polo putih dan topi fedora putih penahan terik, Dadang Supriatna berjalan kaki menyusuri tanah becek di bibir hamparan genangan air luas yang menyerupai laut kecil di tengah pemukiman warga.

Didampingi Kadis PUTR, Kasatpol PP serta jajaran aparat kewilayahan, sorot matanya tajam memetakan arus air. Sembari mengarahkan telunjuknya ke arah tanggul beton di pemukiman, ia menggunakan platform siaran digitalnya untuk memperlihatkan kepada publik peliknya sumbatan sampah dan penyempitan sempadan sungai yang selama ini menyumbat urat nadi kehidupan warga.

Bukan Sekadar Blusukan, Ada ‘Restu’ Anggaran Pusat

Kehadiran Kang DS di Tegalluar kali ini jelas bukan sekadar pemanis citra atau seremonial pengusir lelah. Ada misi taktis yang ia bawa ke hilir. Berdasarkan data kompeten yang dihimpun, rencana besar penuntasan banjir di kawasan Tegalluar dan Solokanjeruk kini bukan lagi sekadar angan-angan di atas kertas dinas. Proyek ini dipastikan telah mengantongi lampu hijau dan “restu” anggaran segar dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI.

Sebelumnya, lewat lobi strategis yang difasilitasi oleh Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal langsung bersama Menteri PUPR, Pemkab Bandung berhasil menggolongkan penataan kawasan hilir ini sebagai program prioritas nasional. Anggaran pusat tersebut dialokasikan untuk dua agenda raksasa:

  1. Normalisasi Sungai Cisunggalah: Pengerukan dan pelebaran sungai hingga 8 meter sepanjang 5 kilometer, membelah empat desa di Kecamatan Solokanjeruk hingga bermuara ke Sungai Citarik di Desa Tegalluar.
  2. Pembangunan Kolam Retensi Tegalluar: Penyediaan polder air masif di Bojongsoang yang berfungsi memotong puncak debit banjir sebelum merendam rumah-rumah warga jelata.

“Alhamdulillah usulan penanganan banjir ini sudah disetujui dan mendapat dukungan penuh anggaran dari Kementerian PUPR,” ujar Dadang Supriatna dalam sebuah kesempatan. Komitmen pusat inilah yang kini ia kejar realisasinya di lapangan, memastikan kerja fisik berbasis pentahelix segera mengepung titik-titik rawan banjir tersebut.

Aksi tanggap pasca-upacara kenegaraan ini memicu gelombang simpati dan harapan baru di ruang siaran langsung akun resminya. Ketika kamera menangkap momen sang bupati berdiri di atas beton pembatas, kolom komentar seketika beralih fungsi menjadi mimbar aspirasi warga net yang haus akan perubahan.

“Sehat salamina pa bupati, pa kades galih,” tulis akun Robert Syahid, mengonfirmasi bahwa peninjauan ini dikawal ketat oleh perangkat desa setempat agar eksekusi di tingkat tapak berjalan tanpa hambatan sosial.

Sementara itu, akun Jay Farlan tak mampu menyembunyikan rasa bangganya dengan menuliskan kalimat puitis khas Sunda, “Keren bupati aing. Kakuat datang ka tungtung lembur…” Sebuah metafora jujur dari rakyat kecil yang melihat pemimpinnya berani turun hingga ke ujung kampung yang paling kumuh dan terdampak demi sebuah mimpi terlepas dari banjir.

Di sinilah letak hermentika kebijakan yang sesungguhnya. Esensi Pancasila tidak boleh mandek dan menguap bersama angin setelah lagu Indonesia Raya selesai dikumandangkan di halaman kantor kabupaten.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus mewujud dalam deru mesin ekskavator yang mengeruk lumpur sedimentasi, membebaskan warga Tegalluar dan Solokanjeruk dari rasa cemas setiap kali langit mendung menggelap.

Kini, ketika anggaran pusat sudah diketuk dan restu kementerian sudah digenggam, publik dan Bandungkita.id akan terus mengawal: seberapa cepat realisasi fisik polder air dan normalisasi 5 kilometer sungai ini bekerja di lapangan sebelum musim penghujan berikutnya datang membawa tagihan janji. (Red/BK)

Comment