by

Pemda KBB Gandeng Unpad Rumuskan Konsep Pengembangan Agrowisata Kelas Dunia di Bandung Barat

BandungKita.id, KBB – Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Bandung Barat (KBB) menggandeng Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung dalam rangka mewujudkan konsep agroindustri yang terintegrasi dengan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan di KBB.

Kepala Bappelitbangda KBB, Asep Wahyu FS mengatakan kerjasama tersebut sangat strategis dalam rangka percepatan pencapaian salah satu misi pembangunan Kabupaten Bandung Barat, yaitu mewujudkan agroindustri dan pariwisata sebagai sektor unggulan untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan, berkelanjutan dan berdaya saing.

“Bappelitbangda bekerjasama dengan FTIP Universitas Padjadjaran Bandung menyusun model pengembangan agroindustri yang terintegrasi dengan sektor pariwisata. Kerjasama ini sudah dimulai sejak tahun 2019 lalu,” ujar Asep Wahyu, Selasa (6/7/2021).

Menurutnya, KBB memiliki keanekaragaman yang luar biasa dalam hal sumber daya alam. Juga memiliki potensi luar biasa untuk pengembangan industri agro dari hasil alam yang sangat melimpah untuk memberikan sumbangsih perekonomian yang berlimpah.

“Oleh karena itu agar memiliki multiplier effect yang semakin besar, industri agro ini harus disinergikan dengan pariwisata sehingga mampu menarik banyak investasi untuk mengembangkan potensi yang memiliki nilai tambah,” tambah Asep Wahyu.

Salah satu spot keren di salah satu kawasan agrowisata, di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). (foto:net)

Agroindustri adalah kegiatan yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku, merancang dan menyediakan peralatan serta jasa untuk kegiatan tersebut, dimana pemberdayaan para petani berperan penting dalam pengembangan agroindustri.

Adapun kegiatan pariwisata yang memadukan pariwisata dengan pertanian (agro) dikenal dengan agrowisata.

Agrowisata merupakan rangkaian kegiatan wisata yang memanfaatkan potensi pertanian sebagai obyek wisata, baik potensi berupa pemandangan alam kawasan pertaniannya maupun kekhasan dan keanekaragaman aktivitas produksi dan teknologi pertanian serta budaya masyarakat petaninya.

Karena agroindustri dan pariwisata melibatkan pemberdayaaan masyarakat, kata dia, maka metode penelitian yang digunakan untuk penyusunan model adalah melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR) “oleh, dengan, dan untuk orang” dan Design Thinking (Observe →Define → Ideate → Prototype →Storytelling).

Dalam proses pengambilan data sampai penyusunan model melibatkan berbagai stake holder yang terdiri dari A-B-C-G (Akademisi, Bisnis, Community (Komunitas), dan Goverment (pemerintah).

BACA JUGA :

Dinilai Sukses Wujudkan Good Government dan Tekan Korupsi, SIPD Pemkab Bandung Barat Jadi Pilot Project Nasional

Bappelitbangda KBB Terapkan Konsep Quadruple Helix untuk Pengembangan Desa Wisata Tematik di KBB

Keren! Dalam Kondisi Sulit, IPM KBB Meningkat dalam Tiga Tahun Terakhir Melebihi Target RPJMD

Dari pemetaan potensi, dibangun model yang merupakan model pemberdayaan berbasis teknologi tepat guna dengan menambahkan inovasi model bisnis yang adaptif dan dapat diaplikasikan dalam pengembangan produk unggulan agroindustri.

Produk agroindustri ini mempunyai nilai tambah serta mengutamakan kekuatan lokal yang memiliki rantai nilai dan manfaat yang panjang sehingga memiliki dampak positif yang luas dan berkelanjutan.

Asep Wahyu menjelaskan model pengembangan agroindustri yang terintegrasi dengan kepariwisataan diantaranya adalah pengembangan produk yang memiliki nilai tambah yang tinggi yang diperoleh dari rantai nilai yang semaksimal mungkin dapat diperoleh dari produk berbahan baku lokal.

Model pemberdayaan dengan menempatkan pengembangan produk berbahan baku lokal di Kabupaten Bandung Barat ini dapat dikatakan sebagai model pemberdayaan kolaboratif menghubungkan hulu hilir.

Selain itu, pengembangan agrowisata yang menitikberatkan kepada wisata industri pertanian, perkebunan dapat diwujudkan melalui keunggulan Kabupaten Bandung Barat yang menghadirkan pariwisata yang mengutamakan keunikan yang dapat menciptakan berbagai pengalaman baru bagi wisatawan yang hadir.

“Dalam pengembangan agroindustri dan kepariwisataan, hal yang diperlukan dalam pariwisata adalah pengalaman unik yang didapatkannya sepanjang perjalanan wisatanya,” ujarnya.

Experiental Tourism, dapat dikembangkan oleh Kabupaten Bandung Barat sebagai salah satu keunggulan dibandingkan dengan obyek-obyek wisata di daerah lain.

Salah satu spot agrowisata di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). (FOTO:net)

Jika di daerah lain mengembangkan berbagai obyek wisata berupa bangunan fisik atau lokasiyang menarik, KBB dapat mengembangkan tidak hanya pada fisik yang menarik tapi ada pengalaman-pengalaman baru yang dapat dirasakan secara unik bagi para pengunjung wisata.

Pengalaman-pengalaman unik yang dirasakan dalam perjalanan antar wisata ini sangat potensial dikembangkan di Kabupaten Bandung Barat karena berbagai variabel pengembangan pariwisata eksperiental ini sudah dimiliki oleh Kabupaten Bandung Barat dengan bekal potensi alamnya.

Untuk memperkuat konsep experiental tourism ini, hasil kajian Bappelitbangda dan Unpad merekomendasikan agar Pemkab Bandung Barat memiliki strategi untuk mengembangkan wisata substansi.

“Hal ini dimaksudkan untuk memberikan warna baru bagi para wisatawan bahwa KBB adalah tujuan yang tepat bagi wisatawan yang ingin mendapatkan berbagai macam edukasi terkait dengan pengembangan pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, produksi serta kegiatan-kegiatan produktif lainnya,” tutur Asep Wahyu.

Untuk itu tantangannya adalah bagaimana pemerintah Kabupaten Bandung Barat dapat menggali potensi-potensi pengembangan kreativitas yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ekonomi kreatif yang mendukung kegiatan pariwisata.(M Zezen Zainal M/ BandungKita.id)

Editor : M Zezen Zainal M

Comment