Menatap Satu Dekade, Yayasan RBR di Cililin ‘Sapu Bersih’ ODGJ Terlantar dengan Modal Rongsokan

BANDUNG, BANDUNGKITA.ID – Persoalan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang terlantar di jalanan seringkali menjadi potret buram yang luput dari perhatian publik. Di tengah keterbatasan penanganan formal, sebuah gerakan swadaya di Kabupaten Bandung Barat (KBB) hadir menjadi oase kemanusiaan.

Menjelang satu dekade kiprahnya, Yayasan Rakyat Bantu Rakyat Indonesia Sehat (RBR) terus konsisten bergerak melakukan aksi ‘sapu bersih’ terhadap ODGJ terlantar di wilayah KBB dan sekitarnya. Bertempat di Kp. Saar Mutiara RT 02/07, Desa Karang Tanjung, Kecamatan Cililin, KBB, yayasan yang telah mengantongi izin resmi dengan Nomor AHU-0006218.AH.01.12 Tahun 2026 ini menjadi tempat bernaung bagi jiwa-jiwa yang terasingkan.

Bertahan di Tengah Keterbatasan Ruangan

Misbah, penggerak sekaligus ketua yayasan kemanusiaan ini bercerita, saat ini, Yayasan RBR merawat sebanyak 15 orang pasien gangguan jiwa mental. Jumlah tersebut terpaksa dibatasi mengingat kondisi infrastruktur rumah singgah yang belum sepenuhnya stabil.

“Jumlah pasien sekarang tinggal 15 orang dikarenakan ruangan belum stabil,” ujar Emis, sapaan akrabn pendiri Yayasan RBR saat dikonfirmasi Bandungkita.id Sabtu, 3 mei 2026.

Mayoritas pasien yang dievakuasi oleh yayasan ini adalah ODGJ yang terlantar di area publik. “Pasien ODGJ kebanyakan yang terlantar yang di jalanan. Pokoknya dari Jawa Barat kebanyakan,” tambahnya.

Selain menyisir jalanan, Yayasan RBR juga kerap menerima limpahan pasien dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cisarua, terutama bagi pasien yang sudah memasuki masa pulang namun pihak keluarga sudah tidak sanggup lagi melakukan perawatan mandiri.

Mandiri Lewat Rongsokan, Minim Fasilitas Tidur

Hal yang paling mengetuk nurani dari pergerakan Yayasan RBR adalah bagaimana mereka membiayai operasional sehari-hari. Tanpa donatur tetap yang mengikat, tim relawan RBR harus memeras keringat secara mandiri demi memastikan para pasien tetap bisa makan dan mendapatkan perawatan yang layak.

“Operasional hasil kerja tim cari untuk makan, bisa sambil cari rongsokan. Untuk makan, untuk operasional bila ada yang meminta tolong,” ungkap Emis.

Kendati demikian, solidaritas kemanusiaan tidak sepenuhnya mati. Dalam perjalanannya, Yayasan RBR sesekali mendapatkan sokongan logistik, salah satunya dari Haidar Alwi Care yang kerap menyalurkan bantuan beras guna meringankan beban operasional di rumah singgah.

Namun, kondisi di dalam rumah singgah masih jauh dari kata ideal. Berdasarkan dokumentasi internal, para pasien pria tampak tidur di atas kasur lantai tipis seadanya dalam satu ruangan bersama.

Pihak yayasan mengakui bahwa saat ini mereka sangat membutuhkan uluran tangan berupa perlengkapan tidur yang layak bagi para pasien.

“Yayasan membutuhkan kasur untuk tidur, bantal, selimut. Pokoknya yang dibutuhkan alat-alat yang dibutuhkan untuk pasien,” tutur Emis.

Memanusiakan Manusia Melalui Aktivitas harian

Di balik segala keterbatasan fisik bangunan dan fasilitas, Yayasan RBR tetap mengedepankan metode penanganan yang humanis. Para pasien tidak dibiarkan terkurung tanpa arah, melainkan dilibatkan dalam berbagai aktivitas harian yang bertujuan untuk memulihkan fungsi sosial dan mental mereka.

Setiap hari, bersama 10 relawan lain silih berganti, para pasien diarahkan untuk melakukan kegiatan bersih-bersih ruangan, berolahraga, hingga bimbingan ibadah seperti salat berjamaah. Upaya memanusiakan manusia ini membuahkan hasil yang positif.

Banyak pasien yang perlahan pulih, mampu berkomunikasi dengan baik bersama tim relawan, bahkan berhasil dipertemukan kembali dengan keluarga mereka.
Bagi tim relawan RBR, merawat ODGJ terlantar bukan sekadar aksi sosial, melainkan sebuah kewajiban moral sesama makhluk ciptaan Tuhan.

“Karena kita sesama manusia untuk membantu penyembuhan yang kena gangguan jiwa. Kita sama ciptaan Allah. Masa kita sehat, saudara-saudara kita sakit? Makanya siapa lagi yang bisa kita bantu untuk merawat pasien-pasien yang kena gangguan mental,” pungkas Emis dengan nada komitmen yang kuat.

Menuju Satu Dekade dan Rencana Khitanan Massal untuk Masyarakat

23 Juli Yayasan ini siap ​menyambut momentum emas 10 tahun kiprahnya tersebut, Yayasan RBR tidak hanya ingin merayakan pencapaian secara internal. Misbah memiliki sebuah asa dan rencana mulia untuk menggelar acara syukuran yang bersentuhan langsung dengan masyarakat prasejahtera, yakni dengan menyelenggarakan kegiatan khitanan massal.

​Melalui agenda khitanan massal ini, Yayasan RBR ingin menegaskan kembali esensi dari nama yang mereka sandang, yaitu menjadi wadah di mana “Rakyat Bantu Rakyat” bukan sekadar slogan, melainkan sebuah tindakan nyata yang terus hidup dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan di wilayah KBB.

​Misbah sangat berharap rencana besar ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, sehingga impian untuk berbagi kebahagiaan di hari jadi yang ke-10 nanti dapat benar-benar terwujud dan dirasakan manfaatnya oleh warga yang membutuhkan.

(Red/BandungKita.id)

Comment