Bandung Raya Sekarat! Mengapa Kita Masih Bodoh Menunggu ‘Superman’ Datang Menyelamatkan?

OLEH: Dhomz Hermawan

BANDUNGKITA.ID – Lois Lane pernah memenangkan Pulitzer lewat sebuah esai emosional pasca-hilangnya sang Manusia Baja dalam scene film Why the World Doesn’t Need Superman. Namun, ketika bumi berada di ambang kehancuran oleh ancaman yang tak bisa diselesaikan manusia biasa, Lane meralat ketikannya di ruang redaksi Daily Planet. Dunia, biar bagaimanapun, ternyata tetap merindukan sesosok juru selamat.

Hari ini, jika kita berdiri di atas jembatan yang membelah Sungai Citarum, atau menatap kepulan asap yang sesekali masih mengepul dari gunungan sampah TPA Sarimukti, fiksi dari Metropolis itu terasa begitu dekat.

Bandung Raya sedang lumpuh oleh urusan isi perutnya sendiri. Status “Darurat Sampah” bukan lagi sekadar surat keputusan bupati atau wali kota yang diperpanjang setiap beberapa bulan sekali.

Ia telah menjadi gaya hidup baru yang mengerikan: tumpukan plastik di sudut gang, aroma busuk yang mengepung pemukiman, dan wilayah hulu yang terus dikencingi beton atas nama investasi.

Pertanyaan teologis dan ekologisnya kemudian muncul:
Apakah untuk menyelesaikan sengkarut lingkungan di Bandung Raya, kita juga sedang menunggu sesosok “Superman”?

VIDEO PILIHAN

Mitos Sang Juru Selamat dalam Kebijakan Publik

Dalam setiap krisis ekologi di Cekungan Bandung, ada kecenderungan sosiologis yang unik dari kita semua baik warga maupun pemangku kebijakan. Kita selalu menunggu “mukjizat” atau figur mesianik yang bisa menyelesaikan masalah dalam satu kedipan mata.

Ketika banjir menerjang kawasan selatan, atau ketika sampah menyumbat nadi kota, mata publik langsung tertuju pada singgasana kepala daerah.

Kita menuntut lahirnya seorang pemimpin “Superman” yang punya kekuatan super untuk melenyapkan puluhan ribu ton sampah harian hanya dengan sebuah tongkat komando.

Celakanya, para pembuat kebijakan pun setali tiga uang. Mereka memperlakukan regulasi dan proyek mercusuar seperti jubah sakti.

Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang bertahun-tahun mandek, atau rencana zonasi Kawasan Utara Bandung (KBU) yang kerap bocor oleh izin-izin siluman, digelembungkan sebagai “senjata pemungkas”.

Kita dibuat percaya bahwa teknologi mahal dan janji kampanye adalah juru selamat. Padahal, di balik jubah pahlawan super yang rapuh itu, Bandung Raya dipaksa hidup dalam ilusi.

VIDEO PILIHAN

Alam Bukan Superman yang Kebal Peluru

Kelemahan terbesar dari cara berpikir kolektif kita adalah memperlakukan alam Bandung Raya seperti Superman, sebuah entitas perkasa, abadi, dan punya toleransi tanpa batas untuk menyerap semua “dosa” eksploitasi kita.

Kita membabat pohon-pohon di Lembang dan Manglayang, berasumsi akar-akar yang tersisa masih sanggup menahan tanah.

Kita memproduksi jutaan kantong plastik dari meja dapur setiap hari, berasumsi bumi punya keajaiban kosmik untuk melenyapkannya seketika. Kita membuang limbah ke sungai, berpikir air akan selalu mengalirkan kekotoran kita jauh-jauh tanpa pernah kembali sebagai bencana.

Faktanya, alam Cekungan Bandung bukanlah mahluk planet Krypton yang kebal peluru. Dia bisa berdarah, dia bisa lelah, dan saat ini dia sedang sekarat.

Tragedi longsor TPA Leuwigajah tahun 2005 silam, hingga kebakaran hebat Sarimukti beberapa waktu lalu, adalah alarm keras bahwa “Superman ekologis” kita telah mencapai titik nadirnya. Alam tidak bisa lagi menyelamatkan kita dari kerakusan kita sendiri.

VIDEO PILIHAN

Membunuh Ilusi: Pahlawan dan Penjahat Itu Ada di Cermin

Kembali ke ruang redaksi Lois Lane. Di akhir cerita, dunia sadar bahwa ketergantungan akut pada satu sosok penyelamat justru membuat umat manusia manja dan melupakan potensi terbaik di dalam diri mereka sendiri.

Bandung Raya tidak butuh Superman kosmik untuk turun dari langit. Krisis sampah dan ekologi hari ini adalah dosa struktural yang bersifat desentralistik ia diproduksi dari jutaan hulu yang berbeda, dari ketidakpedulian kita memilah sampah di rumah, dari ketamakan korporasi properti, hingga dari ego sektoral para kepala daerah di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, dan Cimahi yang kerap gagap berkoordinasi.

BACA JUGA

Jika masalahnya diproduksi bersama secara masif, maka penyelesaiannya tidak bisa diserahkan pada satu orang pahlawan.

Membahas tata ruang dan darurat sampah dengan pisau investigasi bukan lagi soal mencari siapa yang harus disalahkan di atas panggung politik.

Ini adalah upaya membangun kesadaran kolektif yang radikal. Kita harus membunuh ilusi bahwa akan ada teknologi atau pemimpin yang bisa membersihkan halaman rumah kita tanpa kita sendiri mau mengotori tangan untuk memilahnya.

Tidak ada mukjizat dalam ekologi. Jika hari ini kita menatap ke luar jendela dan meratapi betapa rusaknya lingkungan Bandung Raya, berhentilah menengadah ke langit menunggu keajaiban. Pergilah ke kamar mandi, dan tataplah cermin.

Sebab di sana, di dalam pantulan kaca itu, terletak jawaban yang sebenarnya. Sosok yang selama ini menjadi penjahat bagi alam Bandung Raya, atau sosok yang punya peluang terakhir untuk menjadi juru selamatnya, adalah kita sendiri.

(Redaksi BandungKita.id)

Comment