Menjaga Sanad di Era Algoritma: Tantangan Pesantren Hadapi Ledakan AI dari Ciparay

Hadiri Haul ke-5 Muassis Al Husaeni, Cucun Ahmad Syamsurijal Tegaskan Pentingnya Pesantren Melek Digital Tanpa Kehilangan Jati Diri.

BANDUNG, Bandungkita.id – Momentum pergantian Tahun Baru Islam tidak hanya menjadi ajang spiritualitas ritual semata. Di Pondok Pesantren Al Husaeni, Lebak Biru, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, momentum ini justru menjadi pemantik diskusi krusial tentang bagaimana institusi tradisional Islam harus merespons disrupsi teknologi global.


Hadir di tengah-tengah keluarga besar pondok pesantren dalam rangka Haul ke-5 Muassis & Masyayikh Ponpes Al Husaeni, Wakil Ketua DPR RI, Dr. H. Cucun Ahmad Syamsurijal, melontarkan refleksi tajam mengenai masa depan umat di tengah gempuran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Tampak Cucun Ahmad Syamsurijal saat memberikan orasi ilmiah/kebangsaan di podium Ponpes Al Husaeni, menegaskan urgensi adaptasi teknologi bagi santri modern.

Menariknya, kesadaran tentang pentingnya transformasi digital ini digaungkan langsung dari Ciparay—sebuah wilayah yang memiliki rekam jejak politik kuat karena dikenal sebagai tanah kelahiran Bupati Bandung terdahulu, Dadang M. Naser, yang nota bene kini juga berkiprah di Senayan sebagai anggota DPR RI. Pertemuan gagasan di wilayah strategis ini seolah menegaskan bahwa dari Ciparay, arah baru peradaban santri sedang dirumuskan.

Bukan Sekadar Kirim Doa, Tapi Refleksi Masa Depan

Menurut Cucun, haul harus ditarik maknanya lebih luas. Selain sebagai ajang merawat sanad spiritual kepada para pendiri pesantren, ruang ini harus menjadi refleksi kritis melihat peta tantangan zaman yang kian bergeser dari konvensional ke digital.
“Momentum haul ini bukan hanya ajang kirim do’a dan merawat sanad spiritual, melainkan juga ruang refleksi bagi masa depan umat,” ujar Cucun di hadapan para kiai, santri, dan alumni yang memadati area pesantren.
Ia menyoroti fenomena ledakan teknologi yang kini mulai mengikis batas-batas ruang publik dan privat, termasuk pola pikir generasi muda Muslim.

Pesantren Harus Mengendalikan AI, Bukan Dikendalikan

Bandungkita.id mencatat, tantangan pesantren hari ini tidak lagi sekadar menghadapi modernisasi industri, melainkan perang algoritma. Di era di mana AI bisa menjawab persoalan fikih dalam hitungan detik, posisi santri dan kiai diuji.

BACA JUGA


Cucun menegaskan bahwa pesantren tidak boleh alergi, melainkan harus berani mengambil kemudi transformasi tersebut.

  • Melek Digital: Pesantren dituntut mulai mengadopsi perangkat digital dalam ekosistem pendidikan dan dakwahnya.
  • Menjaga Etika Kebangsaan: Insan pesantren wajib membawa nilai moral, akhlakul karimah, dan etika Islam ke dalam ruang perkembangan teknologi global yang sering kali kering dari nilai kemanusiaan.
    “Di era ledakan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) saat ini, pesantren harus berani bertransformasi dan mulai melek digital tanpa kehilangan jati diri serta nilai luhur tradisinya,” tegas legislator asal Kabupaten Bandung tersebut.

BACA JUGA

Membangun Kesadaran: Jati Diri Tradisi di Ruang Siber

Langkah transformasi ini diakui tidak mudah. Ada kekhawatiran hilangnya tradisi talaqqi (tatap muka) dan keberkahan sanad ilmu jika digitalisasi kebablasan. Namun, di sinilah posisi tawar pesantren Al Husaeni dan pesantren-pesantren lain di Bandung Raya.


Pesantren justru memegang kunci yang tidak dimiliki oleh mesin AI: Etika dan Karakter.


Mesin siber boleh pintar mengolah data, namun rasionalitas teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan transfer kesalehan dan moralitas yang diajarkan oleh para masyayikh. Melalui melek digital yang terukur, pesantren justru bisa menyuntikkan nilai moral ke dunia siber yang saat ini sedang mengalami krisis disinformasi dan degradasi moral. (Dhomz/Bandungkita.id)

Comment