Dari Problem Gulma Yang Menjamur di Waduk: Indonesia Power Klaim Bangun 12 Kumbung, Kini Ajak Warga Cililin Sulap Eceng Saguling Jadi Media Ini!

Mengubah Gulma Waduk Menjadi Nilai Ekonomi? Inovasi IP UBP Saguling Janjikan Konsistensi Sekaligus Bangun Kesadaran Ekologi Pemkab KBB

BANDUNG BARAT, Bandungkita.id – Di tengah absennya grand design dan narasi besar Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dalam merumuskan karakter daerah berbasis potensi teritorial, ikhtiar melestarikan ekosistem dan memanusiakan warga justru terus dirawat oleh entitas industri bersama masyarakat.

Salah satu langkah konkrit ditunjukkan oleh PLN Indonesia Power (IP) UBP Saguling. Mengandalkan semangat kolaborasi, BUMN pengelola pembangkit listrik ini menggelar Pelatihan Budidaya Jamur Merang Berbahan Eceng Gondok dan Penanaman Pohon di Desa Karang Tanjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Senin (27/7/2026).

Kegiatan yang dihadiri unsur Forkopimcam Cililin, Satgas Citarum Harum Sektor 4, serta warga setempat ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Lebih dari itu, aksi ini menjadi cermin bagaimana ancaman ekologis waduk Saguling coba ditundukkan menjadi peluang keberlanjutan sosial-ekonomi.

Menerjemahkan Ancaman Waduk Jadi Peluang Ekonomi

Selama berdekade-dekade sejak Waduk Saguling beroperasi, pesatnya pertumbuhan eceng gondok selalu menempatkan warga dan pengelola waduk dalam posisi dilematis. Gulma perairan ini berpotensi mengganggu operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), merusak kualitas air, sekaligus menyulitkan ruang gerak nelayan dan warga pesisir.

Namun, melalui inovasi media tanam jamur merang berbasis eceng gondok, paradigma lama mulai diubah. Eceng gondok yang dahulu dibuang atau dibiarkan membusuk, kini diangkat dan diolah menjadi media produktif.

Dikutip Humas Indonesia Power, Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Saguling, Doni Bakar menekankan kondisi pembangkut tidak bisa lepas dari pengelolaan ekosistem waduk, termasuk melalui orogram pemberdayaan Gulma.

“Keberlanjutan operasi PLTA Saguling sangat bergantung pada kondisi ekosistem Waduk Saguling.
Oleh karena itu, kami tidak hanya berfokus pada pengangkatan eceng gondok untuk keandalan pembangkit, tetapi juga mendorong pemanfaatannya agar memiliki nilai tambah bagi masyarakat,” tegas orang nomor satu di Indonesia Power UBP Saguling itu.

Ia menjelaskan, program ini merupakan pengembangan bertahap. Sebelumnya, IP UBP Saguling telah mendampingi 12 kumbung jamur berbasis eceng gondok di Kecamatan Cihampelas. Kini, model serupa diperluas ke Desa Karang Tanjung, Cililin, dengan harapan terbangun pusat pembelajaran mandiri bagi warga desa sekitar.

“Ini adalah komitmen kami mendukung ekonomi sirkular. Penanganan eceng gondok tidak boleh bersifat sesaat, melainkan menjadi gerakan bersama yang memberi manfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan keandalan energi bersih,” tambahnya.


Apresiasi, dikabarkan datang dari Dansektor 4 Satgas Citarum Harum. Menurutnya, mengintegrasikan pembersihan waduk dengan pemberdayaan ekonomi adalah solusi jangka panjang yang sangat relevan untuk pemulihan DAS Citarum.

Sementara itu, mewakili pemerintahan Kabupaten Bandung Barat, mewakili Camat, hadir dalam acara, Sekretaris Kecamatan Cililin, H. Bayu Suwandi Saputra, serta Kepala Desa Karang Tanjung, Rismawan selaku tuan rumah dimana kegiatan tersebut digelar. Melalui sambutannya masing-masing berharap lahir kelompok-kelompok dari (kegiatan tersebut) usaha baru di pesisir Saguling yang mampu serta mandiri secara ekonomi.

Langkah (reguler/red) ini menegaskan bahwa, Indonesia Power UBP Saguling mulai dari konservasi DAS lewat penanaman pohon hingga pemanfaatan gulma waduk menjadi potensi industri untuk warga lokal pada dasarnya siap membina tatanan ekososial yang sehat.

Namun, ikhtiar parsial dari entitas seperti Indonesia Power ini tentu membutuhkan katalisator yang lebih besar. Langkah baik BUMN ini akan lebih kuat jika ditangkap oleh Elit Pemerintah Kabupaten dan DPRD Bandung Barat untuk diserap menjadi kebijakan regulasi daerah ke arah yang lebih ideal atau dibutuhkan (rule of game) yang lebih mengikat.

Seperti mengisi ruang narasi, seperti kesiapan pasar untuk hasil panen dari jamur ini, karena akan dipandang sebagai upaya pemerintah menempatkan inisiasi ini sebagai peluang, dan memberikan jaminan regulasi dan pengawasan melalui kewenangannya.

Jika IP UBP Saguling mampu membuktikan bahwa kelestarian Waduk Saguling dapat berjalan beriringan dengan kesejahteraan warga, maka sudah saatnya Pemkab KBB berhenti menjadi penonton passive. Narasi kelestarian air dan perlindungan bentang alam KBB harus segera diangkat menjadi marwah dan arah pembangunan daerah yang hakiki.

Bersambung…

Sebagai informasi, 12 Lokasi Kumbung, Hasil sosialisasi di karangtanjung, apakah menyepakati melalui perseorangan atau melalui kelompok tani, dan bagaimana proses kemitraan atau pola pembinaan ini berjalan, akan dikupas (Faktanya) di edisi selanjutnya.

(Red/BandungKita.id)

Comment