LIPUTAN KHUSUS: Membedah Mesin Konsensus Golkar KBB dan Tampilnya Edi Rusyandi di Panggung Kekuasaan
Oleh: Dona Hermawan
NGAMPRAH, BANDUNGKITA.ID — Di Kabupaten Bandung Barat (KBB), kekuasaan tidak pernah jatuh dari langit. Ia dirajut, diinvestasikan, dan diwariskan melalui jaringan yang mengakar jauh sebelum daerah ini mekar dari kabupaten induknya. Di tengah riuhnya transisi politik KBB, Partai Golkar kembali memamerkan mesin politiknya yang dingin dan pragmatis dengan mendorong Edi Rusyandi ke gelanggang utama.
Namun, tampilnya Edi bukanlah sebuah kebetulan politik. Ia adalah produk dari sebuah ekosistem kaderisasi hasil konsensus sebuah kemewahan institusional yang sering kali tidak dimiliki oleh partai-partai lain di KBB yang kerap gagap dan terjebak kanibalisme internal pasca-transisi kepemimpinan.
Untuk membedah anomali dan hegemoni “Beringin” di KBB, Bandungkita.id berbicang dengan Bilal Alfariz, Pengamat Kebijakan dan Politik Jawa Barat. Melalui pisau analisisnya, Bilal mengurai bagaimana Golkar KBB memelihara dinasti politiknya lewat jalur birokrasi, BUMD, hingga ormas pendiri.
Investasi Politik, SOKSI, dan Jejaring Birokrasi
Menurut Bilal Alfariz, dinamika Partai Golkar di KBB tidak bisa dilepaskan dari akar historisnya saat masih bersatu dengan Kabupaten Bandung.
“Golkar di KBB itu bukan sekadar partai politik, melainkan sebuah systemic power. Posisi strategis di BUMD atau investasi jabatan melalui sayap organisasi partai selalu digunakan sebagai ruang di mana para aktivis dan ASN duduk. Ini selalu menjadi pola yang menarik untuk diurai,” ujar Bilal kepada Bandungkita.id.
Bilal secara tajam menyoroti peran organisasi sayap seperti Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI). Pada zaman KBB belum menjadi daerah otonom, SOKSI menjadi episentrum bertemunya critical mass ASN dan pemegang jabatan strategis.
“Jejaring SOKSI ini menciptakan relasi kuat yang tidak mampu dielakkan dalam perspektif kekuasaan di KBB hingga hari ini,” tegas Bilal. Hubungan patron-klien ini tidak luntur saat KBB berdiri, melainkan bertransformasi menjadi jaringan tak kasat mata yang memastikan kader-kader Golkar selalu memiliki landing pad yang aman baik di kursi birokrasi, komisaris BUMD, maupun legislatif.
Profil Edi Rusyandi: Dari Ruang Kelas ke Puncak Konsensus
Tampilnya Edi Rusyandi, S.Pd. sebagai figur sentral Golkar di KBB saat ini adalah etalase paling sempurna dari bekerjanya mesin kaderisasi tersebut.
Lahir dan menetap di Cipongkor pada 19 Januari 1982, Edi adalah representasi pituin (putra asli) Bandung Barat yang merangkak dari bawah.
Menariknya, rekam jejak Edi sangat lekat dengan irisan birokrasi yang disinggung Bilal Alfariz. Sejak 2009, Edi adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mengabdi sebagai guru madrasah (MIN Ciawitali dan MTs Syarif Hidayatulloh).
ARTIKEL PILIHAN
Namun, insting aktivisme dan jejaring kuat membawanya mengambil keputusan radikal: mundur dari status ASN yang nyaman demi bertarung di Pemilu Legislatif 2019. Bagi politisi pemula, langkah ini dianggap bunuh diri.
Namun, berkat sokongan mesin partai dan solidnya basis konsensus Golkar, Edi justru terpilih ke DPRD Provinsi Jawa Barat (Dapil Jabar III) dan sempat dijuluki “Bayi Ajaib” oleh kalangan internal.
Pada Pemilu 2024, Edi kembali membuktikan ketangguhan jejaringnya dengan meraup lebih dari 72.222 suara, mengamankan kembali kursinya di DPRD Jabar sebelum akhirnya mendapat mandat partai untuk maju di gelanggang eksekutif KBB.
Konsensus Internal: “Koin Rahasia” Beringin KBB
Keunggulan Golkar KBB, lanjut Bilal, terletak pada penyelesaian konflik berbasis institusi. Ketika partai lain sering kali pecah kongsi saat memperebutkan rekomendasi bupati atau pimpinan dewan, Golkar menyelesaikannya di meja tertutup.
“Mereka memiliki kultur konsensus.
Siapa yang harus duduk manis mengelola dinasti, siapa yang ditempatkan di BUMD, dan siapa yang didorong ke eksekutif seperti Edi Rusyandi, semua dikalkulasi matang. Ini adalah kaderisasi hasil konsensus yang tidak dimiliki partai lain,” papar Bilal.
Bagi Edi, mandat untuk bertarung di Pilkada KBB bukanlah sekadar ambisi pribadi, melainkan penugasan dari ekosistem yang telah membesarkannya. Ia mewakili gerbong besar kekuatan birokrasi purna-tugas, aktivis ormas, dan teknokrat lokal yang mencari kepastian stabilitas.
Demokrasi di Bawah Bayang Hegemoni
Secara obyektif, Bandungkita.id mencatat bahwa solidnya jaringan Golkar KBB dan naiknya figur seperti Edi Rusyandi membawa dua sisi mata uang. Di satu sisi, model konsensus ini menjanjikan stabilitas politik karena minimnya friksi antara legislatif, birokrasi, dan kekuatan politik.
Namun di sisi lain, hegemoni jejaring ormas sayap dan “restu faksi” ini berpotensi membendung munculnya kepemimpinan organik dari masyarakat sipil. Kesempatan bagi kaum profesional murni untuk mendobrak sistem tanpa berkerabat dengan jejaring kuasa menjadi tantangan tersendiri bagi demokrasi di Kabupaten Bandung Barat.
Terpilihnya Edi Rusyandi adalah bukti empiris: di KBB, kekuasaan politik tidak pernah direbut secara mendadak. Ia diwariskan melalui mesin konsensus yang terus menyala.
Selamat bertugas Kang Ed dan Terimakasih Kang Dadan Supardan atas kerjasama yang diberikan melalui diskursus diskursus Politik yang menarik selama ini. (Dhomz/BangKit)





Comment