ODF Kota Bandung Rendah : 147 Kelurahan Masih Gunakan Sungai Sebagai Jamban Raksasa

BandungKita.id, BANDUNG – Masih rendahnya kesadaran masyarakat Kota Bandung dalam membuang air besar pada tempatnya atau Open Defection Free (ODF), menjadi salah satu indikator bahwa Kota Bandung masih terbilang kotor.

Rendahnya ODF terbukti dengan masih banyaknya masyarakat membuang tinja secara langsung ke sungai. Padahal idealnya masayarakat memiliki septic tank komunal untuk mengatasi hal tersebut.

“Kota Bandung ini masih kotor karena ODF nya masih rendah, orang Bandung itu senangnya sampah dibuang ke sungai bahkan juga buang air besar. Ini bisa terbayang bagaimana dampak bakteri yang bisa ditimbulkan,” ungkap ketua Forum Bandung Sehat, Siti Muntamah pada pidato pelantikannya, di Pendopo Kota Bandung, Kamis (24/1/2019).

Baca juga: Delapan Sungai di Kota Bandung Masih Jadi Penyumbang Sampah Bagi Citarum

Baca juga: Baca juga: Limbah Tinja Masih Jadi Penghambat Program Citarum Harum

Berkaitan dengan Forum Bandung Sehat, kata Siti, salah satu tugas beratnya adalah menciptakan perubahan agar masyarakat tidak lagi melakukan pembuangan sampah atau tinja ke sungai.

“Saya kira orang Bandung itu orangnya open minded dan mudah diajak merubah sikap buruk, upaya itu yang mesti dilakukan oleh forum Bandung sehat ke depan. dengan begitu Bandung akan menjadi kota yang bersih,” ujarnya.

Sementara itu, ditemui selepas pelantikan Siti mengatakan, di Kota Bandung hanya sedikit keluruhan yang sudah menjalankan perilaku ODF. Iya mengakui untuk kelas kota besar seperti Bandung, hal itu sangat memprihatinkan.

“Dari seluruh kelurahan di kota Bandung yang berjumlah 153, hanya 6 Kelurahan yang sudah melakukan perilaku ODF. Mayoritas lainnya masih menjadikan sungai sebagai jamban raksasa,” kata Umi, sapaan akarabnya.

Namun, ia tetap mengaku optimis dengan dilantiknya forum Bandung sehat. Kekurangan tersebut dapat diatasi dalam beberapa waktu kedepan.

“Insyaallah permasalahan tersebut bisa bisa kita atasi, dalam periode ini” pungkasnya.***(TRH/BandungKita)

Comment