Upah Terlalu Kecil, Ratusan Petugas Sorlip Surat Suara Mengundurkan Diri, Segini Upah yang Diberikan KPU

Garut, JabarKita, Terbaru1297 Views

BandungKita.id, GARUT – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Garut terus berupaya agar pelaksanaa Pemilu 2019 berjalan sesuai agenda. Saat ini KPU tengah mempercepat penyortiran dan pelipatan (sorlip) surat suara agar logistik bisa secepatnya didistribusikan ke daerah.

Di tengah pelaksanaan sorlip surat suara, ratusan petugas memutuskan untuk mengundurkan diri. Hal ini mereka lakukan dengan alasan upah sorlip yang dinilai terlalu rendah.

Salah seorang petugas sorlip surat suara berinisial HS (55) menyebutkan, pada awalnya para petugas merasa semangat melaksanakan sorlip. Tetapi sejak petugas dari KPU mengumumkan bahwa upah sorlip per lembarnya sebesar Rp 75, banyak petugas yang kecewa dan memilih mengundurkan diri.

Diakui HS, mereka tak mengetahui sejak awal kalau upah sorlip hanya Rp 75 per surat suara. Dari informasi yang mereka dengar sebelumnya, mereka akan menerima bayaran Rp 100 untuk setiap lembar surat suara yang mereka sorlip.

“Sejak awal kami memang tak mendapatkan penjelasan jika kami hanya akan mendapatkan Rp 75 dari setiap surat suara yang kami sortir dan lipat. Yang kami dengar sebelumnya, tiap lembarnya akan dibayar minimal Rp 100 sehingga ketika tahu hanya Rp 75, kami kecewa dan akhirnya banyak yang memilih mengundurkan diri,” katanya.

HS melanjutkan, jumlah petugas yang memilih mengundurkan diri cukup banyak, yakni mencapai sekitar 60 persen. Namun meski kecewa, sebagian petugas termasuk dirinya, ada juga yang memilih untuk meneruskan pekerjaannya.

Sekretaris KPU Garut, Ayi Dudi Supriadi, membenarkan kabar tersebut. Ayi menyebutkan, para pertugas juga menyebutkan tingkat kesulitan dalam pengerjaan sorlip surat suara untuk Pemilu 2019 ini dinilai terlalu besar, di bandingkan dengan surat suara waktu Pilkada.

Mereka berharap uang premi yang mereka terima akan lebih besar, jika tidak mereka enggan meneruskan pekerjaan tersebut.

Meski jumlah petugas sorlip yang mengundurkan diri cukup banyak, akan tetapi diakui Ayi hal ini tidak akan berpengaruh terhadap pemunduran jadwal pendistribusian logistik ke daerah. Mengingat animo masyarakat untuk menjadi petugas sorlip sangat tinggi, sehingga tak sulit untuk mencari petugas baru.

“Tidak berpengaruh sama sekali terhadap jadwal pendistribusian karena animo penyortir lebih banyak dari yang seharusnya. Dari total kebutuhan yang hanya mencapai 1.500 orang, ternyata peminatnya jauh lebih besar yakni mencapai kurang lebih 3 ribu orang,” kata Ayi, Jumat (15/3/2019).

Di sisi lain Ayi mengakui, kendala utama saat ini yakni minimnya ketersediaan gudang . KPU hanya memiliki tiga gudang akan tetapi semuanya diisi oleh logistik pemilu, sehingga sulit untuk mencari tempat sorlip surat suara.

Menurut Ayi, untuk menangani persoalan tersebut, pihaknya meminjam GOR Beladiri Ciateul. Rencananya GOR tersebut akan digunakan untuk perakitan kotak suara, sehingga nanti gudang yang ada di Pasirmuncang dan di Copong dapat digunakan untuk kegiatan sorlip surat suara.

Pernyataan yang sama juga diungkapkan Ketua KPU Garut, Junaidin Basri. Ia menambahkan untuk mempercepat proses sorlip, pihaknya akan mengoptimalkan auto sourcing yang ada dengan memperpendek gilirannya.

“Dari yang tadinya diatur per minggu, nanti bisa dirubah menjadi per 2 atau 3 hari jadwal sorlip,” ucap Junaidin.

Terkait minimnya upah atau uang premi sorlip surat suara, diakui Junaidin pihaknya dari awal sudah mengajukan agar ada kenaikan. Ia berharap akan segera ada revisi pagu premi sorlip dari pusat. (M Nur el Badhi)

Editor: Dian Aisyah

Comment