by

Mendag Enggartiasto Lukita Terima Doktor Kehormatan dari UPI, Ini Alasan Rektor UPI

BandungKita.id – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita menerima gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa) dalam bidang pendidikan kewirausahaan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa digelar di Gedung Achmad Sanusi Kampus UPI, Jalan Setiabudi Bandung, Kamis (18/10).

Rektor UPI Prof.H. R. Asep Kadarohman, mengatakan pihak yang mengusulkan gelar doktor kehormatan ini adalah Ikatan Keluarga Alumni Unversitas Pendidikan Indonesia dan rekomendasi dari empat guru besar yakni Prof.Dr.Fuad Abdul Hamied, Prof. Dr. Mohammad Ali, Prof. Dr. Aim Abdulkarim dan Prof.Dr.M Syaom Barliana.

“Bapak Enggartiasto Lukita merupakan sosok istimewa yang memiliki banyak prestasi. Beliau memiliki kemampuan di bidang kewirausahan, politik, sosial kemasyarakatan. Bapak Enggar adalah seorang pembelajar yang memiliki kemampuan absorptive capabilities, kemampuan belajar dari lingkungannya. Membangun pengetahuan kewirausahaan hasil interaksi dari kalangan bisnis dan lingkungan sosialnya. Hal ini yang mengantarkan beliau jadi pengusaha sukses,” ujar dia.

Enggar dikenal aktif dalam organisasi kemasyarakatan, organisasi politik dan pemerintahan. Dalam aktivitasnya sebagai pelaku bisnis selama lebih dari 40 tahun telah menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya.
“Dalam prakteknya Bapak Enggar telah menjadi inspirasi bagi orang di sekitarnya bagaimana bekerja keras, menjalin kemitraan demi mencapai tujuan bersama,” katanya.
Di tempat yang sama, Enggar mengaku bangga dengan gelar doktor kehormatan yang diberikan UPI. Gelar ini menjadi semangat untuk terus berkarya bagi bangsa dan negara.
“Saya mengucapkan terima kasih atas penghargaan dan kepercayaan dari Universitas Pendidikan Indonesia, Rektor, Wakil Rektor, Senat Guru Besar, serta seluruh sivitas akademika yang telah berkenan menganugerahkan saya Doktor Honoris Causa di bidang Pendidikan Kewirausahaan,” katanya.
Enggar mengungkapkan, bidang wirausaha di Indonesia harus terus dipacu agar bisa sejajar dengan negara-negara lain. Berdasarkan data pada tahun 2018, di negara maju rata–rata 14 persen dari total penduduk usia kerja adalah entrepreneur. Sementara di Indonesia hanya mencapai 3.1 persen.
“Tahun 2018 berdasarkan laporan Global Entrepreneurship Index yang menilai ekosistem suatu negara, untuk menghasilkan entrepreneur, negara-negara seperti Amerika Serikat, Swiss, Kanada, Inggris dan negara maju lainnya menempati peringkat sepuluh teratas. Dari Asia, Hong Kong dan Taiwan menempati urutan ke 13 dan 18. Namun, Indonesia hanya menduduki peringkat 94 dari 137 negara. Sementara negara-negara tetangga seperti Singapore, Malaysia, Thailand dan Filipina berada pada peringkat 27, 58, 71 dan 84, di atas Indonesia. Hal ini menunjukkan masih rendahnya tingkat kewirausahaan di Indonesia,” kata Enggar.
Salah satu penyebab rendahnya entrepreneurship di Indonesia, karena sistem pendidikan di Indonesia yang kurang mendorong anak didik untuk berkembang menjadi seorang enterpreneur. Bahkan hingga kini status sebagai Pegawai Negeri Sipil masih dipandang sebagai profesi yang sangat prestisius.

“Kita masih bisa melihat betapa lulusan sarjana masih berbondong–bondong melamar menjadi PNS dibandingkan memanfaatkan dan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya di bangku sekolah (misalnya SMK) dan pendidikan tinggi, untuk mulai menciptakan lapangan pekerjaan, minimal untuk dirinya sendiri,” ungkapnya.

Namun demikian, Enggar menyebut pihaknya memiliki keyakinan, jika iklim investasi di Indonesia semakin kondusif. Hal ini dilihat dari anak–anak muda bangsa yang sudah mulai semakin sadar bagaimana bersikap sebagai entrepreneur, dapat mengantarkan bangsa Indonesia untuk lebih sejahtera.

“Di zaman now, kita dapat melihat, tidak sedikit anak–anak usia 20 tahunan, dengan sandal jepit, celana pendek dan kaos t-shirt, tampak sangat ‘pintar dan cool’, menjual ide–ide mereka: ide design interior, arsitektur bangunan, sistem akuntansi, kedai kopi, keripik pedas, sambal ijo, minuman dengan tidak menggunakan bahan plastik, sistem berjualan sayur basah secara on–line dan ide–ide cemerlang lainnya,” katanya. (BKI/BandungKita.id)

Comment