BandungKiata.id, CIMAHI – Berdasarkan data dari Dinas Sosial Kota Cimahi, jumlah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) alias penyandang disabilitas di Kota Cimahi mencapai 293 anak.
Mereka pun membutuhkan sentuhan pendidikan formal, layaknya anak normal lainnya sebagai upaya optimalisasi potensinya.
Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan formal bagi para ABK, di Kota Cimahi sendiri sudah ada 40 lebih sekolah inklusi tingkat Sekolah Dasar (SD) dan 20 pendidikan inklusi tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kepala Bidang Sosial pada Dinas Sosial Kota Cimahi, Agustus Fajar mengatakan, pihaknya sangat mendorong agar ABK di Kota Cimahi bisa mengikuti pendidikan formal di sekolah inklusi.
“Iya kalau kita inginnya kuota semaksimal mungkin, tapi disesuaikan dengan kemampuan SDM dan anggaran yang ada,” ujar Agustus saat dihubungi, Minggu (16/12/2018).
Diakuinya, memang selama ini pihaknya belum mengetahui berapa jumlah ABK yang mengenyam pendidikan di sekolah inklusi. Namun di setiap sekolah inklusi selalu ada anak berkebutuhan khusus yang diterima.
Perihal pendamping khusus bagi ABK, memang selama ini pihaknya tak menyediakan secara tersendiri, kecuali jika memang dibutuhkan. Terlebih lagi, ABK mengikuti proses pembelajaran normal seperti siswa lainnya.
“Kita sediakan kalau dibutuhkan. Paling pada saat awal masuk sekolah ada guru yang ditugaskan untuk mendampingi,” jelasnya.
Perihal fasilitas, dia mengakui sejauh ini sekolah inklusi yang disediakan Dinas Pendidikan Kota Cimahi sudah sangat memadai bagi para ABK.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Cimahi, Ipah Latifah menambahkan, setiap Penerimaan Peserta Didik Baru (PPBD), pihaknya selalu menerima siswa dari kalangan berkebutuhan khusus, yang diatur dalam Peraturan Wali Kota (Perwal).
“Kalau kita PPDB ada di Perwal, yang inklusi satu rombel (Rombongan Belajar) itu maksimal tiga orang maksimal,” terangnya.
Soal fasilitas sekolah inklusi, kata dia, itu disamakan dengan siswa normal lainnya. Tak ada sama sekali istilah membeda-bedakan, termasuk metode pembelajaran.
“Semuanya sama dengan yang normal. Jangan karena mereka mengalami disabilitas, akhirnya dibeda-bedakan dengan yang lain. Kita ingin mereka semua sama dan tak perlu merasa malu,” tandasnya. (SDK)





Comment