by

Mencermati Cara Kerja Asep Menyulap Sampah Jadi Pupuk

BandungKita.id, BANDUNG – Berbagai upaya terus dilakukan untuk menuntaskan persoalan sampah di Kota Bandung. Salah satu solusi yang digulirkan adalah merupah sampah menjadi kompos.

Seperti yang dilakukan oleh tim pencacah sampah di kawasan Pengolahan Kompos Ganesha, Jalan Ganesha No. 10 Kota Bandung. Disanalah sebagin sampah yang berasal dari kampus Institut Teknologi Bandung diolah menjadi pupuk organik atau kompos.

Salah satu petugas pencacah sampah, Asep Solehudin (29) menjelaskan sampah yang diolah di tempat itu hanya berasal dari lingkungan kampus ITB. Belum menerima dari luar wilayah.

“Sampah yang diolah disini masih terbatas khusus dari kampus ITB, dari sana diangkut pakai mobil kesini, lalu dipilih, yang bisa didaur ulang lalu di cacah, yang tidak bisa langsung dibuang ke TPA,” kata Asep saat ditemui BandungKita, Selasa (29/1/ 2019).

Lebih lanjut asep menjelaskan, sampah yang bisa didaur ulang menjadi pupuk adalah sampah tumbuhan, seperti daun, ranting pohon, dan rerumputan.

“Kalau yang tidak bisa didaur ulang itu seperti sampah styrofoam, plastik, dan sampah keras,” tutur warga asal Kecamatan Cijengkol, Kota Bandung tersebut.

Sampah yang bisa didaur ulang tersebut kemudian memasuki tahap pembusukan dengan ditambah mikroba untuk mempercepat proses pembusukan, hingga mencapai 30 hari.

“Setelah sampahnya busuk, dilakukan penyaringan dengan alat khusus, dan akan terpisah secara otomatis menjadi kompos serbuk dan sampah besar, komposer serbuk inilah yang bisa langsung dikemas untuk dijual,” lanjut Asep.

Asep mengatakan mesin yang pertama kali dirancang oleh salahsatu profesor ITB itu sangat memudahkan dirinya dalam bekerja. Ia hanya bertugas memasukkan kompos hasil pembusukan ke dalam mesin tersebut.

“Pertamanya, mesin ini dan kawasan pengolahan ini dirancang sama profesor asal Bali tahun 2006 tapi saya lupa namanya,” papar Asep.

 

Sampah yang telah diubah jadi pupuk.

 

 

Hingga kini, Asep bersama delapan rekannya mengaku tercukupi kebutuhan hidupnya dengan memproduksi kompos tersebut, adapun harga kompos per kilo adalah Rp.800 dengan kemasan minimal 3 Kg, kemasan Karung 10 Kg dan Karung 25 Kg.

“Untuk keuntungannya sendiri bisa mencapai 2 juta, tapi itu kita setor kan ke pihak ITB, baru kemudian kita mendapat gaji sekitar Rp 2 juta juga, dan itu alhamdulillah mencukupi kebutuhan kita dengan jam kerja yang tidak terlalu melelahkan,” ujarnya

Untuk penjualan, kompos tersebut baru dipasarkan di sekitar Bandung Raya, seperti Baros, Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung dan Kota Bandung.

“Kelebihannya bisa digunakan sebagai pupuk seperti biasa, juga bisa digunakan menjadi media tanam tanpa tanah,” papar Asep.

Meski begitu, Asep berharap ada perhatian baik dari pihak pengelola maupun pemerintahan untuk memperbaiki kondisi tempat ia bekerja.

lantaran, berdasarkan pantauan di lokasi, atap tempat pengelolaan kompos nampak rusak dan keropos. Selain itu, halaman depan tempat masuk mobil pengantar sampah sangat mengkhawatirkan dan kondisi jalan berlumpur.

“Kondisi atap yang begini, juga lumayan bikin kita khawatir sih takut juga, kalo kondisi depan ini jalannya berair, licin jadi susah kalau mobil masuk, harapannya pengen diperbaiki aja,” pungkasnya.***(TRH/BandungKita)

Comment