oleh

Miris! Demi Bersekolah, Anak-anak di Garut Ini Rela Bertaruh Nyawa Dengan Menyebrangi Derasnya Sungai : Begini Respon Pemkab Garut

Bertahun-tahun Mengajukan, Tak Juga Dibangun oleh Pemkab Garut

BandungKita.id, GARUT – Belasan siswa di Kampung Pananggungan, Kelurahan Lengkongjaya, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut setiap hari harus bertaruh nyawa ketika berangkat ke sekolah. Hampir setiap hari mereka harus menyebrangi sungai dengan menggunakan rakit karena tidak adanya jembatan penghubung antar dua kecamatan yakni Kecamatan Karangpawitan dan Banyuresmi.

Ketua RW 08 Kampung Pananggungan, Yusuf Suparman mengatakan siswa di kampungnya terpaksa harus menyebrangi sungai setiap kali berangkat dan pulang sekolah. Para siswa sebenarnya bisa menempuh jalan lain, namun jalannya sangat jauh karena harus memutar dan memakan waktu.

“Karena enggak ada jembatan, anak-anak sekolah suka nyebrang pakai rakit. Tiap hari mereka pakai rakit. Tapi tetap saja suka khawatir lihat anak-anak nyebrang Sungai Cimanuk,” ujar Yusuf kepada BandungKita.id.

Dadan (10), salah seorang siswa juga mengaku sering khawatir ketika menyebrang sungai untuk berangkat atau pulang sekolah. Bocah kelas 4 Sekolah Dasar (SD) itu bahkan pernah beberapa kali bolos sekolah ketika air sungai pasang atau airnya sedang deras karena takut hanyut terbawa derasnya air.

“Ya sering takut juga, apalagi kalau airnya besar. Mudah-mudahan segera ada jembatan biar enggak selalu nyebrang sungai,” kata Dadan diamini teman-teman Dadan yang juga hendak berangkat sekolah dengan menaiki rakit.

Setiap berangkat sekolah, Dadan dan teman-temannya seringkali menggunakan sendal jepit. Sepatu sekolah mereka masukkan ke dalam tas atau ditenteng dengan tangan karena khawatir basah saat menaiki rakit. Sepatu baru dipakai saat siswa sudah tiba di sekolah.

BACA JUGA :

Yusuf menambahkan jembatan penghubung antara Desa Sukasenang di Banyuresmi dan Kelurahan Lengkongjaya di Karangpawitan benar-benar sangat dibutuhkan warga. Sebab, selain menyulitkan anak sekolah, ketiadaan jembatan juga membuat aktivitas warga terganggu karena akses warga terlalu jauh bila harus menggunakan jalan memutar.

“Kami berharap Pemkab Garut segera membangun jembatan. Karena ini sangat dibutuhkan warga. Kami sudah bertahun-tahun mengajukan, tapi sampai saat ini belum ada realisasi apa-apa. Tolong Pak Bupati,” kata Yusuf.

Anggota DPRD Kabupaten Garut, Yuda Puja Turnawan mengaku miris masih ada siswa yang harus bertaruh nyawa untuk berangkat ke sekolah dengan cara menyebrangi sungai dengan rakit. Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Garut untuk segera membangun jembatan di Kampung Pananggungan tersebut.

Jembatan tersebut, kata Yuda, bisa memudahkan anak-anak bersekolah. Dengan adanya jembatan, keselamatan anak- anak lebih terjamin ketika berangkat maupun pulang dari sekolah.

“Anak-anak rutin menyebrangi Sungai Cimanuk dengan rakit. Keselamatan untuk dapat pendidikan harus diperhatikan oleh pemerintah,” ujar Yuda.

Terpisah, Camat Karangpawitan Rena Sudrajat mengatakan pihaknya sudah mengajukan pembangunan jembatan pada 2015. Namun kendala tanah dan akses jalan membuat jembatan hingga kini tak bisa dibangun.

“Harus ada tanah warga yang dihibahkan untuk pondasi jembatan. Dulu itu tidak ada warga yang mau,” ujar Rena saat meninjau rakit yang digunakan para siswa untuk menyebrangi sungai.

Rena menuturkan, akan kembali mengajukan anggaran untuk pembangunan jembatan rawayan. Ia berharap, anggaran tersebut bisa terealisasi pada APBD perubahan.

“Nanti akan kami ajukan ke Pemkab. Sebenarnya jembatan tidak terlalu urgent karena ada akses lain. Tapi karena warga meminta, kami akan usahakan,” kata Rena. (RUL/BandungKita.id)

Komentar