oleh

Menikmati Wisata Petik Jeruk di Cikajang Garut

BandungKita.id, GARUT – Selain dikenal dengan dombanya, Garut juga dikenal dengan jeruknya. Meski sempat menghilang, beberapa tahun belakangan ini jeruk mulai kembali banyak ditanam.

Uus Kusnawan Sutarsa, petani jeruk di Kecamatan Cikajang tersebut menjadikan kebun jeruknya sebagai tempat wisata.

“Pengunjung bisa botram (membawa bekal makanan dan makan) di kebun, sambil metik jeruk,” jelas Uus saat ditemui di kebun jeruk miliknya di Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Rabu (7/8/2019).

Bukan tanpa alasan, menyulap kebun jeruk menjadi tempat wisata adalah siasat Uus agar tak terus menerus menelan kerugian akibat rendahnya harga jual jeruk.

Selama ini, Uus biasa menjual jeruk pada bandar dengan cara diborong (ditebas). Dengan cara ini, menurut Uus petani sulit menerima keuntungan yang bagus.

Dari bandar, menurut Uus harga jeruk paling hanya dibeli Rp 5 ribu hingga Rp 6 ribu. Jika pun harganya tinggi, paling hanya Rp 11 ribu untuk jeruk kualitas tinggi yang masuk pasar-pasar modern.

“Yang kualitas tinggi kan paling 10 persen dari total jumlah yang dipanen, makanya tipis keuntungannya,” jelas Uus.

“Kalau diperkirakan hasilnya mencapai 1 ton, paling juga dibayar 500 kilogram,” lanjutnya.

Sementara tempat wisata yang dibangunnya saat ini dinilai saling menguntungkan.

“Petani untung karena harga jeruknya tinggi, pembeli juga untung karena bisa mendapatkan harga yang bagus dan memilih jeruk langsung dari kebunnya,” jelas Uus.

BACA JUGA:

Kasus Stunting di Garut Naik Lagi, Ini Kata Wabup Garut Helmi Budiman

 

Musim Kemarau, Hasil Tangkapan Ikan Nelayan di Garut Melimpah

 

Geger! Warga Garut Temukan Mayat di Dalam Parit, Penyebab Meninggal Belum Diketahui

 

Untuk memasuki perkebunan, pengunjung dikenai biaya masuk Rp 15 ribu per orang dan diperbolehkan memetik jeruk sepuasnya. Sedangkan jeruk yang dibawa pulang dibanderol Rp 15 ribu perkilonya.

Dengan harga jual tersebut, menurut Uus dirinya telah memotong biaya panen untuk biaya petik, kemas hingga biaya angkut.

“Dari harga Rp 5 ribu, paling petani bisa nerima Rp 3.500 per kilogram, karena biaya petik hingga transport, belum lagi dipotong biaya perawatan kebun,” katanya.

Uus juga memberikan promo khusus bagi wisatawan yang berkunjung saat panen raya. Pengunjung yang membeli 2 kilogram jeruk, gratis membawa 1 kilogram.

“Harganya kita turunkan menjadi Rp 10 ribu per kilogram untuk akhir pekan ini, karena kita sedang panen raya,” jelas Uus sambil menunjukan petakan kebun jeruk yang siap panen.

Sejak dibuka jadi tempat wisata, menurut Uus, setiap akhir pekan, rata-rata pengunjung bisa mencapai 1000 orang. di hari tersebut, jeruk yang dibawa pulang pengunjung jumlahnya paling sedikit sampai 500 kilogram.

“Kalau panen raya seperti sekarang, 1 ton juga bisa dipanen, ini sampai sebulan kedepan masih bisa dipanen,” jelas Uus.

Meski jadi tempat wisata, menurut Uus kebun jeruknya hanya dibuka untuk pengunjung pada hari Sabtu dan Minggu. hari-hari biasa, digunakan untuk pemeliharan kebun.

Dengan 3 ribu lebih pohon jeruk yang ada, menurut Uus saat ini kebun jeruknya sudah bisa dipanen sepanjang tahun pada akhir pekan. Meski, tentunya jumlah jeruk yang bisa dipanen tidak sama seperti saat panen raya. (M Nur el Badhi/Bandungkita.id)

Editor: Dian Aisyah

Komentar