BandungKita.id, SOREANG – Jumlah korban siswa kelas IV SD Negeri III Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung, akibat keracunan permen kedaluwarsa bertambah dua orang. Total jumlah korban akibat memakan permen kedaluwarsa itu mencapai 21 orang.
Tati Khoiriyah, Guru SD Negeri III Kamasan mengatakan, permen yang dikonsumsi oleh 21 korban merupakan permen kedaluwarsa yang dibeli dari teman satu sekolahnya, seharga Rp. 1.500 per kemasan. Awalnya, kataTati, hanya 19 siswa yang merasakan gejala keracunan makanan.
“Tapi ada dua lagi yang mengeluhkan gejala yang sama. Totalnya jadi 21 siswa yang keracunan permen itu,” ucap Tati, Kamis (29/9/2019).
Menurut Tati, permen yang diperjualbelikan itu berbentuk sikat gigi berornamen pasta gigi di atas kepala sikat giginya. Permen itu tidak diperjualbelikan di kantin sekolah. Total permen yang dijual siswa tersebut berjumlah 30 dalam satu dus. Namun yang terjual hanya 27.
Menurut Tati, siswa yang menjual permen kedaluwarsa kepada teman-temannya itu mendapat permen dari ibunya. Ibu dari siswa itu, ujarnya, membeli permen kedaluwarsa dari salah satu pasar.
“Sebetulnya niat siswa ini baik membantu ibunya dengan berjualan di kelas,” katanya.
Baca juga:
Waduh! 19 Siswa SD di Banjaran Diduga Keracunan Permen Kedaluwarsa
Menurut Tati, siswa SD Negeri III Kamasan awalnya mengeluhkan mual, muntah, sakit tenggorokan disertai pusing. Kejadian itu diketahui saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
“Katanya makan permennya jam 07.00 WIB. Anak-anak mulai merasa gejala mual dan pusing jam 08.00 WIB saat proses belajar mengajar berlangsung,” katanya.
Menurut Tati, awalnya hanya tiga orang siswa yang mengeluhkan kejadian itu. Guru saat itu belum mulai curiga. Namun empat orang siswa lainnya juga mengalami gejala serupa. Pada akhirnya, kata Tati, bertanya kepada sejumlah siswa siapa saja yang merasa mual.
“Nah, baru ketahuan setelah ditanya. Ternyata ada 19 awalnya. Dua orang menyusul. Guru kelas IV tanya makan apa sebelum merasakan mual. Dan ternyata anak-anak makan permen,” kata dia.
Setelah mendapat keluhan itu, ujar Tati, pihak sekolah langsung membawa anak-anak ke Puskesmas Kiangroke untuk mendapat perawatan. Di puskesmas, anak-anak siswa kelas IV itu kemudian diberi obat.
Setelah kondisi membaik, kata dia, ke-21 siswa itu kemudian pulang ke rumahnya masing-masing. “Mereka disuruh pulang sambil menunggu perkembangan. Rencananya Jumat besok pihak puskesmas mau mengecek kondisi 21 siswa itu,” kata dia. (R Wisnu Saputra/Bandungkita.id)
Editor: Restu Sauqi





Comment