Pasar Kuda Cimahi: Dahulu Berjaya, Kini Tinggal Kenangan

Cimahi7359 Views

BandungKita.id, CIMAHI – Pasar Citeureup Kota Cimahi di Jalan Sangkuriang, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara dikenal dengan sentra onderdil atau suku cadang kendaraan.

Namun siapa kira, ternyata sebelum pasar ini dikenal orang sebagai tempat penjualan onderdil sepada motor, dahulu adalah lokasi lapak dagang kuda. Sehingga masyarakat sering menyebut tempat ini “Pasar Kuda”

Konon, sejak berdiri tahun 1985, di Pasar Citeureup banyak dipenuhi oleh kandang kuda. Banyak masyarakat datang untuk melakukan transaksi atau tukar-menukar kuda.

Setiap kandang kuda disertai seorang ahli pijat hewan. Ia bertugas menyembuhkan kuda yang cidera atau luka akibat terkilir dengan metode pijat tradisional.

Kuda yang dijajakkan di sini pada saat itu kebanyakan didatangkan dari daerah Sumbawa, Jawa, dan, Sulawesi. Namun ada juga beberapa kuda yang didatangkan langsung dari Australia.

Baca juga:

Napak Tilas Makam Tentara Belanda di Cimahi

 

Salah satu pedagang yang masih bertahan adalah Marasati Harahap (52). Meski hanya menjual berbagai aksesoris kuda, Ia mengklaim, dirinya adalah satu-satunya pedagang yang masih tersisa.

Di kios berukuran 3 meter persegi, Marasati yang biasa akrab disapa Abang Kuda itu menjual berbagai aksesoris kuda berbahan kulit sapi muda. Seperti pelana kuda, sarungan kepala kuda, tali tuntunan, dan tali webbing. Selain itu ada juga lampu andong atau delman yang dibuat manual dari alumunium.

 

Abang Kuda sedang mengerjakan pembuatan aksesoris kuda berbahan kulit sapi dengan manual.

 

Abang Kuda mengaku berasal dari Medan dan merantau ke Cimahi pada tahun 2003. Ia merupakan generasi kedua penerus usaha jualan aksesoris kuda. Sebelumnya di generasi pertama ada mertuanya seorang warga Cimahi asli yang merupakan bandar atau agen jual beli Kuda di Pasar Citeureup ini.

“Pasar kuda ini dulu menurut kabar dari generasi pertama yaitu mertua saya, katanya memang diprogramkan oleh pemerintah provinsi pada saat itu untuk jadi pusat jual beli kuda se-Jawa Barat, ” ujar Abang Kuda.

Baca juga:

Sempat Tertutup Deretan Kios, Sebuah Bangunan Bersejarah di Cimahi Kembali Terlihat

 

Mertua Marasati dan pedagang kuda lain pernah diundang Pemkot Cimahi pada tahun 2001 untuk membicarakan perencanaan operasional dan prospek Pasar Kuda.

“Ya saya sih pasrah aja Pasar Kuda ini mau diapakan kedepannya oleh Pemkot Cimahi, syukur-syukur mau dibuat lagi dengan lokasi baru jika memang memungkinkan. Tapi kalau enggak juga gak apa-apa saya masih akan tetap bertahan di sini,” ujar Abang Kuda

Menurutnya, dulu para pelanggan Pasar Kuda selain datang dari berbagai daerah di Jawa Barat, juga berasal dari luar pulau jawa seperti Aceh, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur.

 

Berbagai aksesoris kuda yang dijual di kios Abang Kuda.

 

 

Pada zaman mertuanya, kata Abang Kuda, harga seekor kuda Sumbawa ditaksir adalah dalam kisaran Rp 300 ribu.

“Itu kuda pemula yang masih perlu dilatih, dilatih untuk delman atau dipakai untuk kuda tunggangan di lokasi-lokasi wisata,” ujarnya.

Baca juga:

Mengenang Kejayaan Kereta Api Rute Ciwidey-Soreang

 

Uniknya, kata seorang warga, Yusuf Supriatna (35) yang menjadi saksi sejarah Pasar Kuda di Kota Cimahi mengatakan bahwa jual beli kuda dilakukan hanya pada hari senin saja.

“Soalnya dulu pasar Kuda ini digunakan para pedagang lain seperti pedagang cau (pisang), kambing, dan domba. Jadi setiap Minggu petang sampai malam, para bandar dan agen sudah mengumpulkan kuda yang akan diperdagangkan besoknya. Untuk hari-hari lain selain Senin digunakan para pedagang pisang,” ujar Yusuf.

Yusuf menambahkan, kini Pasar Kuda sudah tidak ada dan tinggal kenangan. Namun sejarahnya tak bisa dihilangkan dari benak masyarakat luas Jawa Barat. Terbukti, di Pasar Kuda yang sekarang menjadi Pasar Citeureup masih saja disebut dan dikenal publik sebagai “Pasar Kuda”

Meski sudah tidak ada lagi yang menjual kuda, kini kios-kios di pasar ini dihiasi berbagai mural warna-warni. Yang menarik adalah terdapat satu gambar kuda yang tersusun sedemikian rupa dari onderdil sepeda motor di depan tembok Pasar Citeureup.

“Ini sengaja dibuat gambar mural ada kudanya, karena ini sebagai identitas bahwa dulu di Pasar Citeureup ini terkenal dengan Pasar Kuda. Semacam simbol perubahan Pasar Kuda yang sempat berjaya di masa lalu, beralih jadi Pasar Onderdil pada saat ini,” ujarnya.***(Azmy Yanuar Muttaqien/Bandungkita.id)

Editor: Restu Sauqi

Comment