by

Sempat Tertutup Deretan Kios, Sebuah Bangunan Bersejarah di Cimahi Kembali Terlihat

BandungKita.id, CIMAHI – Sejarah mengatakan Kota Cimahi pada tahun 1896 pernah dijadikan sebagai pusat militer Belanda.

Hal itu dilatarbelakangi letak geografis Kota Cimahi yang dekat dengan jalur kereta api maupun jalan raya.

Aksesnya pun berdekatan dengan pangkalan militer udara di Andir Bandung hingga wilayah Cikampek, Padalarang, Cianjur dan Bogor.

Maka tak heran jika Kota Cimahi banyak ditemukan bangunan heritage atau bersejarah.

Baru-baru ini ada juga terlihat bangunan heritage yang nampak di Jalan Wilhelmina, tepatnya berada di samping SPBU. Bangunan tua tersebut berdiri di belakang deretan kios-kios.

Kini keberadaanya mulai terlihat kembali, tat kala kios-kios yang mengepungnya dirubuhkan lantaran terkena proyek pelebaran jalan.

“Sebelumnya memang tertutup oleh kios kios makanan puluhan tahun. Setelah ada penertiban ba:ru tersingkap bentuk bangunan tersebut,” ungkap Ketua Tjimahi Heritage, Mahmud Mubarok kepada BandungKita.id, Rabu (10/4/2019).

BACA JUGA:

Peringati 25 Tahun Kematian Kurt Cobain, Sang Putri Unggah Foto Ini

 

Inilah bangunan bekas Hoefsmidschool yakni sekolah Ladam kuda atau sekolah tukang kuda zaman belanda yang dibangun Belanda sekitar tahun 1930-an.

“Bahasa belandanya Hoefsmidschool. Sekarang digunakan markas Zeni Bangunan Kodam Siliwangi III,” paparnya.

Mahmud melanjutkan, pada zaman Belanda, Selain Kavaleri, pasukan Artileri pun membutuhkan perawat kuda.

Sebab, Depot Mobile Artileri (DMA) menggunakan senjata berjenis meriam gunung yang tidak memungkinkan diangkut oleh manusia. Maka dibutuhkan kuda-kuda untuk menarik senjata berat tersebut.

“Nah kuda-kuda itu butuh perawat, pemberi makan dan lain lain. Maka dibentuklah sekolah kuda tersebut,” ujarnya

Kuda-kuda tersebut, kata Mahmud, dikandangkan di istal-istal kuda di Komplek Basis.

“Jadi tempat kuda-kuda dipelihara itu di situ di daerah Basis. Di sana sekaligus jadi tempat tinggal para perawat kuda,” ungkap Mahmud.***(Bagus Fallensky/BandungKita.id)

Editor: Dian Aisyah

Comment