by

Ultah ke-65, Kriminolog Unpad Yesmil Anwar Launching Buku Kumpulan Puisi Berjudul Koran Pagi

BandungKita.id, BANDUNG – Kegemaran menulis sastra membuat Kriminilog Unpad yang juga seorang seniman, Yesmil Anwar menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi. Buku kumpulan puisinya itu diberi judul “Koran Pagi” yang diterbitkan oleh penerbit HaikuKu Indonesia.

Menurut Yesmil, kegemarannya di bidang sastra terkhusus menulis puisi sudah ia lakoni sejak lama. Seingatnya pada tahun 1970-an, atau sekitar tahun 1974. Tak hanya puisi, Yesmil muda kala itu juga aktif di seni teater.

Beberapa tahun kemudian, atau tepatnya pada tahun 1978, puisinya yang berjudul “Hari Pernikahan” memenangkan lomba penulisan puisi se-Jawa Tengah. Sedangkan naskah drama berjudul “Peti Mati” pada tahun 1984, menjadi naskah drama terbaik yang diselenggarakan Taman Budaya Yogyakarta.

“Buku kumpulan puisi ini isinya saya tulis sejak tahun 2017 hingga 2019,” ujar pria kelahiran Jakarta 11 September 1954 lalu seusai Launching Dua Buku Kumpulan Puisi Koran Pagi karya Yesmil Anwar dan Kumpulan Puisi Antologi Haiku dan Haiga, Garis Langit karya Reny Hasanah Ninit di Gedung Indonesia Menggugat, Kota Bandung, Minggu (15/9/2019).

Buku kumpulan puisi karya Kriminolog Unpad, Yesmil Anwar (R Wisnu Saputra/BandungKita.id)

 

Yesmil mengatakan, pemilihan judul “Koran Pagi” pada buku kumpulan puisinya alasannya karena ia aktif menulis di berbagai media cetak. Selain itu, kata dia, dari 42 judul puisi di bukunya itu juga berjudul “Koran Pagi”. Ke 42 judul puisi itu sebelumnya ia tulis di Facebook.

Kumpulan puisi yang pernah ditulis dan dipublikasikannya di Facebook akhirnya dibukukan. Pembukuan kumpulam puisi ini karena banyak mencuri perhatian khalayak dan penulis sastra lainnya. Bahkan, buku kumpulan puisi Yesmil Anwar sendiri diberi pengantar oleh penyair terkemuka Indonesia, Acep Zamzam Noor sebagai bentuk apresiasi.

“Sebetulnya ini adalah peringatan ulang tahun saya ke 65 dan ulang tahun istri saya, Ninit yang ke 60. Tapi kami isi dengan launching buku karya kami. Kami berdua ingin menunjukkan bahwa dunia sastra itu butuh sentuhan, bukan hanya ilmu pengetahuan saja yang butuh sentuhan. Karena kurang sentuhan, sastra kini juga berkembang di media sosial, berbentuk digital. Makanya kami sikapi dengan membukukan puisi kami yang dipublikasi di facebook,” kata dia.

Buku kumpulan puisi berjudul “Koran Pagi” merupakan buku buah tangan Yesmil untuk kesekian kalinya. Sebelumnya, tujuh buku puisi karyanya juga telah ia terbitkan. Yaitu Buku Kumpulan puisi berjudul “Yang Muda” (1975), “Kaki Langit” (1979), “Jiwa Kebebasan” (1998), “Dari Sebuah Pengabdia” (2014), “Sujud Abadi” (2017), dan “Bunga Ilalang” (2017).

BACA JUGA :

Buku ‘Kata Fadli’, Menilik Catatan Kritis di Balik Kursi Pimpinan DPR

 

Keren! Dibiasakan Membaca Buku di Sekolah, Siswa SDN 137 Cijerokaso Bandung Terbitkan Buku Antologi Puisi

 

Sementara istri Yesmil, Reny Hasanah Ninit mengaku memilih menulis puisi dengan teknik Haiku karena memiliki unsur Kigo (penanda waktu saat Haiku ditulis) dan Kireji (estetika memotong kalimat saat menulis Haiku). Dan Haiku sendiri hanya memiliki 3 baris.

Haiku sendiri merupakan karya sastra asli Jepang yang merupakan puisi pendek yang ditulis dengan bahasa sensorik untuk menangkap perasaan atau gambar tentang alam dan kehidupan.

“Dengan menulis dengan teknik Haiku dan membawa unsur Garis Langit, saya betul-betul merasakan menjadi sangat dekat dengan Allah. Maka dari itu saya suka dengan Haiku,” kata dia.

Pemilihan judul buku kumpulan puisi “Garis Langit” yang berisi 60 judul puisi itu dipilih Ninit, sapaan akrabnya, sebab garis langit merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Tanda-tanda kebesaran Allah itu juga tertuang di dalam Alquran.

“Garis langit tidak kemana. Garis langit adalah batas antara bumi dan langit. Didalamnya terjadi banyak peristiwa. Kita yang hidup tentu memandang peristiwa kebesaran tuhan dengan cara yang berbeda. Inilah yang menyebabkan saya memberi judul buku itu,” kata dia.

Ninit sendiri sudah cukup lama menulis sastra. Lamanya, hampir sama dengan sang suami. Menurut Ninit, dirinya dan Yesmil adalah salah satu murid Saini KM, maestro sastra di bidang penulisan puisi dan naskah drama.

“Saya dan Pak Yesmil sudah lama menulis puisi. Nah baru kembali aktif menulis lagi saat bergabung dengan grup Facebook HaikuKu Indonesia yang jumlah pengikutnya mencapai 17 ribu orang pada 2015. Kalau HaikuKu sendiri terbentuk tahun 2014,” kata perempuan berusia 60 tahun ini.(R Wisnu Saputra)

Editor : M Zezen Zainal M

Comment