by

267 Rumah Terdampak Banjir Bandang di Garut

-JabarKita-172 Views

BandungKita.id, JabarKita – Sebanyak 267 tempat tinggal terdampak banjir bandang di Kabupaten Garut, Jawa Barat pada Sabtu (27/11/2021). Banjir bandang tersebut terjadi di Kecamatan Karangtengah, Sukawening dan Citamengempat.

Berdasarkan data dari BPBD Jawa Barat, 267 rumah tersebut terendam banjir serta tergerus oleh longsor akibat hujan deras yang terjadi pada Sabtu pekan lalu. Penyebab banjir tersebut pun karena terjadinya lualan Sungai Citameng yang menyebabkan jalan penghubung Desa Sukamukti dan Desa Mekarwangi (Jembatan Cinangsi) terendam dan tidak bisa dilalui.

Ada pun dampak dari banjir bandang tersebut yakni 155 unit rumah terendam yang terdiri dari 80 rumah di Desa Cinta, sedangkan 75 rumah di Desa Cintamanik pun turut terendam.

Selain itu, dampak banjir bandang pun terjadi di tiga desa Kecamatan Sukawening yaitu 45 unit rumah di desa Mekarwangi, 15 rumah di desa Sukamukti dan 45 rumah di desa Sukawening.

Baca Juga

Nataru PPKM Level 3, Kadisparbud KBB Berharap Obyek Wisata Tidak Ditutup

Antisipasi Musim Penghujan, Lintasan Jalur Kereta Api Garut Dibersihkan

Sementara itu dampak di Kecamatan Citameng Empat terjadi di Desa Mekarhurip (4 rumah) dan Desa Mekarluyu (3 rumah).

Selain itu beberapa bangunan fasilitas umum pun turut terdampak akibat banjir bandang tersebut seperti rumah ibadah serta sarana pendidikan atau sekolah.

Hingga kini BPBD Jabar masih terus melakukan pendataan terkait warga yang terdampak banjir bandang tersebut.

Sementara Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum mengaku, pihaknya akan menyiapkan segela kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana tersebut. Bahkan Pemprov Jabar akan mencoba melakukan antisipasi agar tidak kembali terjadi banjir bandang.

“Kami berpikir bagaimana di hulu, apakah di situ harus ada pohon tegakan lagi. Karena sebelumnya, di sini tidak pernah ada banjir seperti ini. Baru kali ini. Bahkan ada masyarakat bilang, sudah 46 tahun, baru ada banjir. Memang diakui curah hujan sekarang tinggi. Tapi, kalau memang resapan air di hulu tidak terganggu, tidak akan terjadi bencana semacam ini,” ungkap Uu. (Faqih Rohman Syafei)

Comment