Nasdem Tanggapi Santai Fenomena Kader Hijrah ke PSI: “Hanya Guncangan di Cangkir Kopi”

Peristiwa, Politik32204 Views

JAKARTA, BANDUNGKITA.ID – Dinamika politik pasca-Pemilu 2024 terus memanas, salah satunya terkait isu eksodus sejumlah kader Partai Nasdem ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Menanggapi hal tersebut, Ketua DPP Partai Nasdem, Willy Aditya, justru tampak santai dan menilai fenomena tersebut sebagai hal yang lumrah dalam ekosistem partai yang terbuka.

Willy mengibaratkan kondisi partainya saat ini seperti pohon yang sedang tumbuh menjulang, sehingga wajar jika diterpa angin yang lebih kencang.

“Semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya. Dinamika tentu akan semakin besar. Ada yang datang, ada yang pergi, itu keniscayaan yang harus dilewati oleh sebuah organisme hidup,” ujar Willy dalam diskusi Gaspol Kompas.com, baru-baru ini.

Menurutnya, fenomena perpindahan kader di semesta politik yang terbuka adalah hal biasa yang tidak perlu dibesar-besarkan secara berlebihan.

“Ini satu hal yang biasa saja, ibarat guncangan dalam secangkir gelas kopi,” tambahnya berseloroh.

Bukan Cari “Backup” ke Prabowo
Willy juga menampik spekulasi yang menyebutkan bahwa pertemuan antara Ketua Umum Nasdem, Surya Paloh, dengan Presiden Terpilih Prabowo Subianto adalah upaya mencari perlindungan politik di tengah isu goyangnya internal partai.

Ia menegaskan bahwa hubungan kedua tokoh tersebut adalah hubungan “konco dewe” (teman lama) yang didasari oleh gagasan besar, bukan sekadar urusan posisi di kabinet atau ketakutan akan serangan partai lain.

“Kalau kita utak-atik gatuk lalu diambil sebagai konklusi (minta backup), bisa saja. Tapi apakah ada di republik ini partai yang tidak bermasalah? Cek saja, apakah partai yang katanya mau nyomot-nyomot Nasdem itu tidak bermasalah juga di dalamnya?” tegas Willy.

Blok Politik, Bukan Dagang Sapi

Nasdem, lanjut Willy, lebih tertarik mendiskusikan konsep “Blok Politik” yang berbasis pada visi dan program jangka panjang daripada terjebak dalam pragmatisme bagi-bagi kursi kabinet. Ia menyebut Nasdem ingin memberikan pendidikan politik bahwa berkoalisi tidak harus berarti “dagang sapi”.

“Semua proses politik tidak harus disubstitusi dengan dagang sapi. Kita ingin membangun common dreams (mimpi bersama). Blok politik itu kerja sama yang berbasis visi-misi, bukan sekadar bicara kursi,” pungkasnya.

Sikap ksatria untuk siap menang dan siap kalah, menurut Willy, adalah jati diri yang ingin terus dijaga oleh Nasdem sebagai bagian dari pendewasaan demokrasi di Indonesia. (BK/Red)

Comment