Memutus Rantai Kriminalitas Remaja: Antara Kritik Keras Pasha Ungu, Analisis Kriminolog, dan Solusi “Life Skill” DPRD Kab. Bandung

“Kecerdasan tanpa moral hanya melahirkan individu yang mencelakakan orang lain”.

BANDUNG, BANDUNGKITA.ID – Tragedi pembacokan seorang pria di Cimahi oleh sembilan remaja asal KBB kembali menghentak publik. Ironisnya, mayoritas pelaku masih di bawah umur. Fenomena ini memicu debat panas di tingkat nasional, termasuk teguran keras politisi Pasha Ungu kepada KPAI di Senayan terkait absennya solusi preventif negara, hingga analisis tajam pakar kriminologi mengenai rapuhnya pembangunan karakter di daerah.

Kritik Senayan dan Alarm Kriminolog

Dalam rapat dengar pendapat di DPR RI, Pasha Ungu sempat menyemprot KPAI yang dianggap hanya fokus pada laporan kekerasan tanpa menyodorkan solusi nyata bagi guru ngaji sebagai benteng moral. Senada dengan itu, Kriminolog Universitas Islam Bandung, Prof. Nandang Sambas, menegaskan bahwa indikator keberhasilan daerah bukan sekadar infrastruktur jalan atau gedung.

“Kecerdasan tanpa moral hanya melahirkan individu yang mencelakakan orang lain. Pembangunan fisik memang menunjang ekonomi, namun tanpa pembangunan SDM yang matang secara moral, lahirlah penyakit masyarakat seperti kriminalitas anak di bawah umur,” tegas Prof. Nandang. Ia menyebut, carut-marut tata kelola yang tidak fokus pada peningkatan kapasitas masyarakat menjadi akar masalah.

Jejak Solusi Konkret: Dari Insentif Guru Ngaji ke Kemandirian Ekonomi

Jika Kota Bandung pernah memiliki Maghrib Mengaji dan Pemkab Bandung mengucurkan insentif Rp109 Miliar bagi guru ngaji, kini Ketua DPRD Kabupaten Bandung, Hj. Renie Rahayu Fauzi (Fraksi PKB), melengkapi puzzle solusi tersebut dengan pendekatan ekonomi dan life skill bagi Gen Z. Melalui program aspirasi E-Pokir, Hj.Renie Rahayu.

Renie menginisiasi pelatihan berbasis asrama (boarding) selama 15 hari bagi para pencari kerja muda. Program ini meliputi Kejuruan Service HP/Elektronik dan Daur Ulang Sampah, sebuah langkah yang dianggap sebagai “obat penawar” terhadap sisi gelap remaja yang kerap terjebak dalam aksi kekerasan akibat ketiadaan arah masa depan.

Menghalau “Sisi Gelap” dengan Martabat

Hj. Renie Rahayu Fauzi menyatakan bahwa solusi negara harus hadir dalam bentuk pemberdayaan yang menyentuh akar ekonomi.

“Berita kekerasan remaja adalah alarm bahwa energi mereka harus dialihkan. Melalui pelatihan Service HP dan pengolahan sampah ini, kami memberikan mereka martabat. Anak muda yang punya keahlian dan harapan ekonomi tidak akan tertarik untuk turun ke jalan melakukan tindakan kriminal,” ujar Hj. Renie di sela penutupan pelatihan yang didanai APBD 2026 tersebut.

Sinergi Moral dan Kompetensi

Langkah DPRD Kabupaten Bandung ini seolah menjawab kegelisahan para kriminolog dan kritik di Senayan. Jika insentif guru ngaji berperan membangun benteng spiritual, maka pelatihan kejuruan yang digagas Hj. Renie berperan membangun benteng ekonomi.
“Walau lelah mengikuti pelatihan intensif 15 hari, semangat peserta adalah bukti bahwa mereka butuh wadah. Inilah peran pemerintah yang sebenarnya hadir memberikan ‘kail’ kompetensi agar ilmu yang didapat benar-benar bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan masyarakat sekitar,” tambahnya.

Dengan integrasi antara pembangunan moral (melalui guru ngaji) dan pembangunan kompetensi (melalui pelatihan kerja), Kabupaten Bandung berupaya menciptakan ekosistem yang menghalau Gen Z dari jalanan menuju kemandirian ekonomi. Ini adalah jawaban nyata atas tantangan bahwa daerah harus mulai membangun manusia, bukan sekadar benda mati.(Dhomz/BandungKita.id)

Redaksi BANDUNGKITA.ID
Mengawal Aspirasi, Membangun Solusi.

Comment