Jalan Lingkar Selatan Bandung Barat Diantara Aspek Teknis, Sosial, dan Ekologis, Aktivis: Simbol Eksklusivisme?

Opini202837 Views

Edisi Khusus: Rencana Pembangunan Jalan Lingkar Selatan Bandung Barat Jadi Sorotan Aktivis David Riksa Buana, Soroti Arah Pembangunan dan Harapan Warga?

OPINI

BandungKita.id, Padalarang — Rencana pembangunan Jalan Lingkar Selatan di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali menuai sorotan. Kali ini, aktivis lingkungan dan tata kota David Riksa Buana angkat bicara, menyoroti berbagai aspek teknis, sosial, dan ekologis yang menurutnya belum sepenuhnya dipertimbangkan oleh pemerintah daerah maupun provinsi.

VIDEO PILIHAN

Kemacetan Kronis dan Solusi Konkret

David memulai dengan mengurai akar kemacetan di kawasan Lingkar Padalarang dan Pertigaan Cimareme. Menurutnya, kemacetan disebabkan oleh:

– Kepadatan arus lalu lintas yang tinggi

– Rekayasa arus yang tidak tepat

– Ketiadaan lampu lalu lintas di titik-titik krusial

– Lebar jalan yang tidak memadai

– Rendahnya kedisiplinan berlalu lintas

– Pasar tumpah yang mengganggu jalur kendaraan

– Tidak adanya jalan alternatif yang layak

VIDEO PILIHAN

Sebagai solusi, David mengusulkan pemasangan lampu lalu lintas di Pertigaan Tagog, G.A. Manulang, dan Pasirhalang, serta pelebaran dan penataan trotoar di Jalan Cihaliwung, Gedong Lima, dan Panaris. Untuk Cimareme, ia menekankan pentingnya pelebaran Jalan Cipeundeuy–Legok Embok–Kota Baru, serta Jalan Cikandang dan Citunjung Haur Ngambang.

VIDEO PILIHAN

Kritik terhadap Rencana Jalan Lingkar Kota Baru

David menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap rencana jalan lingkar yang akan tembus ke Cipatat. Ia menilai rute tersebut kurang tepat karena melewati Kawasan Lindung Karst Citatah yang memiliki nilai ekologis tinggi.

Idealnya jalan lingkar tembus ke Pertigaan Cikuda Desa Saguling–Rajamandala. Pemprov Jabar dan Pemkab KBB seharusnya tahu tentang keberadaan kawasan lindung ini,” tegas David.

BACA JUGA

OPINI: Guru Keberatan dengan Materi Pelajaran Titipan? Begini Solusinya!

Kapan Rakyat Menjadi Raja?

Gaya Rotasi Pemerintahan KBB Disebut Cacat Hukum di Putusan PTUN Bandung, Pengamat : “Ini Tamparan Keras”

Flyover KCIC: Simbol Eksklusivisme?

Rencana pembangunan flyover dari Stasiun KCIC ke Kota Baru juga dikritik. David menilai proyek tersebut terlalu berorientasi pada kepentingan pengembang dan mencerminkan eksklusivisme wilayah.

“Cukup dengan pelebaran dan pembenahan Jalan Gedong Lima dan Panaris. Tidak perlu flyover yang hanya menguntungkan segelintir pihak,” ujarnya.

VIDEO PILIHAN

Harapan: Tata Kota Berbasis Komunitas

David mengajak pemerintah untuk mengembangkan wilayah Lingkar Padalarang dengan pendekatan _Community Based Development_ yang ramah terhadap alam dan seluruh penghuninya.

“KBB tidak punya ruang publik yang memadai. Padahal Lingkar Padalarang sangat ideal untuk ditata menjadi ruang terbuka hijau yang fungsional,” katanya.

PN Kertas dan Stasiun Padalarang: Potensi yang Terlupakan

Menutup wawancara, David mengangkat isu strategis terkait aset bersejarah seperti PN Kertas dan Stasiun Padalarang. Ia menyarankan agar pemerintah daerah mengajukan pemanfaatan aset tersebut kepada pemerintah pusat.

“Bayangkan jika PN Kertas dijadikan ruang publik, area bisnis dan edukasi. Alun-alun KBB tidak perlu sempit dan tidak filosofis seperti sekarang,” pungkasnya.

VIDEO PILIHAN REDAKSI

Comment