BandungKita.id, BANDUNG — Di balik gemerlap penghargaan dan pujian sebagai penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar, PT Bandung Daya Sentosa (BDS) menyimpan luka yang dalam. Kasus gagal bayar yang melibatkan BUMD kebanggaan Kabupaten Bandung ini telah meruntuhkan harapan puluhan pengusaha lokal, memenjarakan beberapa di antaranya, dan membuat karyawan hidup tanpa gaji selama berbulan-bulan.

Beberapa vendor yang sebelumnya menjadi mitra resmi PT BDS kini justru ditersangkakan oleh rekan bisnis mereka sendiri. Tuduhan pidana, manipulasi kontrak, dan penggelapan dana menjadi senjata balik yang membuat para korban terpojok. Bahkan, ada yang telah ditahan, meski mereka mengaku hanya menagih hak pembayaran atas pengadaan ayam boneless dada dan produk pangan lainnya.

Deded Aprila, CEO CV Indofarm, adalah salah satu korban yang mengalami kerugian hingga Rp33 miliar. Ia menyebut skema kerja sama ini sebagai “pola sistematis” yang diduga melibatkan oknum pejabat daerah dan digunakan untuk kepentingan politik.
Istri-Istri yang Bangkit Demi Keadilan
Tak hanya para pengusaha, istri-istri mereka pun ikut bersuara. Dalam konferensi pers di Jakarta, mereka menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto, memohon agar negara turun tangan. “Penderitaan kami mungkin bisa dipahami dan menimbulkan empati dari Bapak Presiden,” ujar Yuan, salah satu istri vendor.
Kerugian total dari 18 perusahaan yang terdampak mencapai Rp105 miliar. Banyak yang mengalami PHK massal, penutupan usaha, dan tekanan mental. Beberapa keluarga bahkan harus menjual aset pribadi demi bertahan hidup.
Karyawan Tanpa Gaji di Balik Gemerlap Penghargaan
Mirisnya, diduga seorang karyawan PT BDS mengungkap bahwa sejak Januari 2025, ia dan rekan-rekannya belum menerima gaji. “Kami memiliki bukti penyelewengan kekuasaan, baik oleh Direksi BUMD maupun Kepala Daerah beserta OPD-nya,” tulisnya dalam komentar di kanal YouTube, berharap suaranya didengar.
Beberapa karyawan terpaksa berutang demi bertahan hidup, anak-anak mereka berhenti sekolah, dan tekanan mental semakin memburuk. Sementara itu, BDS tetap menerima penghargaan dan pujian dari pemerintah daerah, seolah tak ada krisis yang terjadi.

Kuasa hukum PT BDS menyebut kasus ini sebagai murni urusan bisnis dan menolak tuduhan dan menyeret nyeret Bupati Dadang Supriatna. Namun, para korban sampai saat ini tidak mendapatkan kejelasan selain sehelai pernyataan mutlak
Kejaksaan Negeri Kabupaten Bandung mulai mengusut dugaan korupsi di tubuh PT BDS, sehingga penyidikannya telah ditingkatkan menjadi penyelidikan, dan hari ini, Deded, CeO Indofarm akan memenuhi panggilan POLDA JABAR, sementara direksi PT.BDS mangkir dalam pemanggilan pertamanya.
(Dhomz Hermawan||Bandungkitaid)





Comment