BANDUNGKITA.ID – Gelombang demonstrasi besar mengguncang Nepal sejak awal September 2025. Aksi protes yang dipimpin oleh generasi muda meletus setelah pemerintah Nepal memblokir sejumlah platform media sosial, termasuk Facebook, Instagram, WhatsApp, YouTube, dan X.
Kebijakan kontroversial tersebut disebut sebagai upaya pemerintah untuk meredam ujaran kebencian dan penyebaran berita bohong. Namun, publik menilai langkah itu sebagai bentuk pembungkaman kebebasan berekspresi dan tekanan terhadap perusahaan teknologi asing agar tunduk pada regulasi lokal.
Tak berhenti di situ, kemarahan rakyat semakin memuncak akibat maraknya praktik korupsi di kalangan pejabat tinggi dan minimnya peluang ekonomi. Generasi Z, yang berusia antara 13 hingga 28 tahun, menjadi motor utama gerakan ini. Mereka menuding pemerintah gagal memberantas korupsi yang telah mengakar selama puluhan tahun.
Puncak kericuhan terjadi pada Senin, 8 September 2025, ketika ribuan demonstran mencoba menerobos barikade kawat berduri di sekitar kompleks parlemen Kathmandu. Bentrokan tak terhindarkan. Aparat keamanan menembakkan gas air mata, meriam air, peluru karet, bahkan peluru tajam ke arah massa.
Tragedi pun tak terelakkan. Sedikitnya 22 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 400 lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.
Situasi di Nepal kini menjadi sorotan dunia internasional. Pemerintah setempat menghadapi tekanan besar untuk segera merespons tuntutan rakyat dan mengakhiri krisis politik yang kian memburuk.





Comment