Batulayang, Umbul yang Direbus Sejarah: Saatnya Warga Bandung Barat Merebut Kedaulatan Naratif


EDITORIAL SEJARAH

BANDUNGKITA.ID, SEJARAH – Kabupaten Batulayang pernah menjadi pusat kekuasaan lokal di Tatar Ukur, Priangan. Namun sejarah mencatat, wilayah ini dihapus oleh pemerintah kolonial hanya karena penduduknya tertidur saat kunjungan Gubernur Jenderal. Kini, jejak Batulayang masih hidup dalam nama-nama tempat dan darah para tokoh nasional. Warga Bandung Barat diajak untuk merebut kembali kedaulatan naratif yang telah lama direbus, dibakar, dan ditumbuk oleh sejarah.

BACA JUGA

Pilkada Telah Usai, Aktivis: Kedaulatan KBB Bisa Dilihat dari Batas Wilayah dan Pengelolaan Sumber Daya!

Editorial: Bisakah MBG Menjadi Mesin PAD, Bukan Sekadar Program Konsumsi!

Aset Air di Bandung Barat, PAD ke Pemkab Bandung: DPRD KBB Ungkap Retaknya Diplomasi Antar Kepala Daerah


VIDEO PILIHAN

Batulayang, kini hanya dikenal sebagai desa di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, menyimpan jejak kekuasaan yang pernah berdiri sebagai kabupaten mandiri. Nama Batulayang berasal dari salah satu umbul—satuan kekuasaan lokal di Tatar Ukur abad ke-17. Dalam struktur kekuasaan Dipati Ukur, Batulayang adalah salah satu dari sembilan umbul yang disebut Ukur Sasanga.

VIDEO PILIHAN

Ketika Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk menyerang Batavia, ia dibantu oleh para pemimpin umbul, termasuk Ki Tumenggung Batulayang. Namun setelah pemberontakan gagal, hukuman yang dijatuhkan sangat brutal: Tumenggung Batulayang direbus hidup-hidup, sementara pemimpin umbul lain digantung, dibakar, dan ditumbuk. Ini bukan sekadar hukuman, tapi penghapusan simbolik terhadap kedaulatan lokal.

BACA JUGA

Soal Aset Masih Dikuasai Pemkab Bandung, Warga KBB: “Masa Ia Sudah 18 Tahun…

20 Tahun Tragedi Semanggi dan Upaya Penuntasan Pelanggaran HAM yang Masih Jalan di Tempat

Wilayah Batulayang kemudian dibagi-bagikan kepada pihak yang berjasa memadamkan pemberontakan. Kabupaten Batulayang resmi dilebur ke dalam Kabupaten Bandung pada tahun 1802, setelah insiden penyambutan yang gagal terhadap Gubernur Jenderal. Penduduk tertidur, bupati terlambat bersiap, dan keputusan kolonial pun dijatuhkan: kabupaten dihapus, pejabatnya dijadikan bawahan, dan keturunannya hanya menjadi patih.

VIDEO PILIHAN

Meski secara administratif Batulayang telah hilang, jejaknya masih hidup. Nama-nama seperti Gajah Mekar, Leuwi Gajah, dan Stadion Si Jalak Harupat adalah warisan dari trah Dalem Gajah, keturunan Batulayang. Tokoh nasional seperti Oto Iskandar di Nata dan R. Ating Atmadinata berasal dari garis keturunan ini.

Dalam konteks ini, “umbul” bukan hanya kolam atau mata air seperti Tirtomarto di Pengging, Solo—yang juga dibangun sebagai pesanggrahan raja. Umbul adalah simbol kekuasaan, spiritualitas, dan martabat lokal. Maka, merebut kembali kedaulatan bukan hanya soal wilayah, tapi soal mengembalikan narasi yang pernah dipadamkan.

“Umbul bukan hanya air, tapi warisan yang mengalir dalam darah Priangan. Batulayang tidur, kedaulatan dirampas. Kini kita bangun, dan menuntut kembali.”


VIDEO PILIHAN

Warga Bandung Barat diajak untuk mengenali kembali sejarah Batulayang sebagai bagian dari identitas dan martabat lokal. Kedaulatan naratif harus direbut, agar warisan yang pernah direbus dan ditumbuk oleh sejarah bisa kembali berdiri tegak dalam ingatan publik.


Comment