“Aroma tidak sedap tercium saat UTDRS dibangun ditengah management RSUD”
SOREANG, BandungKita.id – Gerbong mutasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung kembali bergerak. Bupati Bandung, Dadang Supriatna, resmi melantik 7 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (Eselon II) beserta puluhan pejabat administrator dan fungsional di Gedung Moh Toha, Kompleks Pemkab Bandung, Jumat (20/2/2026).
Pelantikan yang bertepatan dengan satu tahun kepemimpinan pasangan Dadang Supriatna–Ali Syakieb ini disebut sebagai upaya penyegaran organisasi agar birokrasi tetap adaptif dan inovatif. Namun, di balik seremonial tersebut, publik justru menyoroti perpindahan posisi dr. Yani Sumpena Muchtar.
dr. Yani Sumpena Pindah ke Cicalengka, Pegawai dan Warga Bertanya-tanya Salah satu rotasi yang paling memicu perbincangan adalah digesernya dr. Yani Sumpena Muchtar dari jabatan Direktur Utama RSUD Otista Soreang menjadi Dirut RSUD Cicalengka.
Jabatan yang ditinggalkannya di RSUD Otista kini diisi oleh dr. Yuli Irnawaty Mosjasari yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Kesehatan.











Banyak pihak, mulai dari kalangan pegawai internal RS hingga elemen masyarakat, mengaku heran dan menyayangkan perpindahan tersebut. Dikalangan management RSUD Otista dan lingkungan Pemkab, muncul berbagai pernyataan bernada tanya: “Kenapa dr. Yani harus dipindah di tengah performa RSUD Otista yang sedang berada di puncaknya?”
Keberhasilan Manajerial dan Penyelamatan Keuangan RSUD Otista
Publik memiliki alasan kuat untuk merasa kehilangan. Di bawah kepemimpinan dr. Yani, RSUD Otista Soreang tercatat berhasil melewati masa-masa sulit terutama dalam menghadapi tantangan keuangan yang kompleks.
BACA JUGA
Secara manajerial, dr. Yani dinilai sukses melakukan efisiensi dan tata kelola keuangan yang transparan, sehingga RSUD Otista mampu menjaga stabilitas operasional di tengah dinamika beban biaya kesehatan yang tinggi.
Layanan kepada masyarakat pun mengalami peningkatan signifikan, mulai dari percepatan antrean hingga modernisasi beberapa unit fasilitas kesehatan yang membuat RSUD Otista menjadi RS rujukan utama kebanggaan warga Kabupaten Bandung.
“Secara manajerial beliau sangat kuat, terutama keberaniannya membereskan persoalan internal dan keuangan. Sayang sekali jika harus pindah saat pondasi yang ia bangun sedang kokoh-kokohnya,” ujar salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya.
BACA JUGA
Ditengah isu yang beredar, dirut yang telah menerapkan sistem kerja ISO di RSUD Otista itu tidak mampu dibebani kepentingan politisasi beberapa project yang kini memang bermasalah bahkan mangkrak.
Sebut saja, Management RSUD Otista tiba-tiba terkaget kaget ketika harus mengelola Unit Transfusi darah di dalam management RSUD, dimana sebelumnya dikabarkan management RSUD Otista “menolak” diproyeksikan berbisnis darah.
Selain itu, terdapat beberapa bisnis yang dirasa bertolak belakang dengan management, dimana pengadaan kantung labu darah juga diroyeksikan dari lahirnya Unit Transfusi Darah UTDRS OTISTA dan juga diproyekaikan dapat memasok Rumah sakit lain dan kabarnya sampai ke RSHS.
Kabar tak sedap menyeruak, Narasumber Bandungkita.id menyebut, rencana pembangunan Gedung UTDRS yang mangkrak dan diduga merugikan keuangan negara melalui pinjaman ke BPR Kertaraharja kabarnya membuat gaduh di sisi benteng pertahanan rumah dinas Bupati.
Dari beberapa persoalan proyek yang mangkrak itulah kemudian Bandungkita.id melakukan penulusuran dan berhasil menghimpunnya di artikel sebelumnya.
Pesan Bupati: Tinggalkan Zona Nyaman
Menanggapi rotasi secara umum, Bupati Bandung Dadang Supriatna atau Kang DS menegaskan bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia meminta para pejabat baru untuk segera bergerak cepat dan tidak terpaku pada rutinitas lama.
“Segera lakukan konsolidasi, tinggalkan zona nyaman. Berani mengambil langkah perbaikan, berinovasi, dan responsif terhadap perubahan,” tegas Kang DS dalam sambutannya.
Bupati menekankan bahwa prinsip rotasi kali ini berpegang pada tiga hal utama: kompetensi, integritas, dan administrasi. Ia berharap seluruh pejabat yang dilantik menunjukkan loyalitas dan dedikasi tinggi demi mewujudkan visi Kabupaten Bandung yang makin “Bedas”.
Meski perpindahan dr. Yani menimbulkan riak pertanyaan, Pemkab Bandung berharap dr. Yani mampu mereplikasi kesuksesan manajerialnya di RSUD Cicalengka, sementara dr. Yuli diharapkan mampu melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di RSUD Otista dengan standar yang telah tinggi.
Editor: Joe
Reporter: DHOMZ/BandungKita.id





Comment