KPAI Kecam Tindakan Kepala Sekolah Dasar yang Polisikan Muridnya Karena Merusak Bangunan Sekolah

BandungKita.id, BULUKUMBA – Kasus seorang Kepala Sekolah Dasar (SD) di Desa Bontominasa Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Provinsi, Sulawesi Selatan yang melaporkan puluhan muridnya ke polisi lantaran diduga melakukan perusakan bangunan sekolah, mendapat kecaman dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Komisioner KPAI, Retno Listyarti menilai langkah tersebut tidak mencerminkan seorang pengajar yang baik.

Pada 4 Januari 2019, Kepala Sekolah bernama Haerati melaporkan puluhan anak didiknya ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kepolisian Resor (Polres) Bulukumba.

Bagi KPAI, lanjut Retno, adanya kasus tersebut membuktikan bahwa guru di Indonesia masih ada yang belum memahami undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

“Tindakan mempolisikan para siswa SD tersebut, akan berpotensi kuat berdampak pada trauma psikologis bagi anak-anak tersebut,” imbuhnya.

Tak luput dari sorotan KPAI, adalah sikap oknum aparat kepolisian yang dinilai tidak berpedoman pada UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Padahal dalam UU SPPA telah dijelaskan bahwa tindak pidana tidak dilakukan pada anak dibawah umur 12 tahun.

“Mengingat terduga pelaku masih berusia anak, bahkan kemungkinan besar masih berusia di bawah 12 tahun,” kata Retno

Tak hanya itu, KPAI juga menyayangkan sikap oknum aparat kepolisian yang tidak mampu melindungi identitas anak-anak yang dilaporkan. Hingga video momen interogasi para murid SD itu tersebar di media sosial.

“Kami imbau agar masayarakat menghentikan foto atau video tersebut melalui media sosial, kalau ada yang menerima kiriman konten tersebut, jangan disebarkan lagi, cukup berhenti di kita,” pungkasnya. (Trh/BandungKita)

Comment