by

Cerita Atip Soal Banjir, Kakek Sebatang Kara Asal Dayeuhkolot yang Puluhan Tahun Rumahnya Terendam Banjir

BandungKita.id, KAB BANDUNG,- Banjir yang akhir-akhir ini menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung, kian memprihatinkan. Masyarakat di lokasi terdampak mengaku sangat terhambat beraktifitas, lantaran banjir melanda sudah hampir satu bulan.

Salah seorang warga yang tinggal di Kampung Bojongasih, Kelurahan Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Atip (63) menuturkan, banjir di wilayah tersebut kerap melanda ketika hujan datang. Bahkan, tingginya debit air yang sampai masuk ke dalam rumah dirasa sangat menyulitkan.

Saking seringnya banjir melanda, membuat Atip menyisakan terlalu banyak kenangan pahit saat berusaha menyelamatkan dirinya dan keluaraga dari terjangan bencana yang bisa datang tanpa terduga.

“Saya masih ingat yang paling besar itu banjir tahun 2005. Air sampai sedada dan datang sore hari. Air datang tiba-tiba begitu saja seperti tsunami. Waktu itu istri sedang sakit parah, lumpuh, pikun juga, beruntung ada tetangga yang membantu saya menyelamatakan istri diangkat ke loteng,’ ujar Atip saat ditemui BandungKita, Jumat (8/3/2019).

Atip yang merupakan warga asli Bojongasih pernah berharap, agar memiliki tempat tinggal yang nyaman dan aman dari ancaman banjir, tapi nampaknya itu hanya isapan jempol belaka. Pasalnya, seingat Atip banjir telah melanda wilayah tersebut bahkan sejak Atip masih muda.

“Kejadian (Banjir) mah sudah bukan puluhan lagi. Saya lupa pokoknya sering lah, setiap datang hujan pokoknya. Bahkan kalau di sini enggak hujan juga, tapi di daerah lain hujan, pasti yang banjirnya mah di sini,” ungkapnya.

BACA JUGA :

Asrama Polisi Polda Jabar di Cibiru Hilir Selalu Kebanjiran, Warga Minta Perhatian Pemkab Bandung

 

Warga Baleendah Tewas Mengambang di Rumahnya Yang Terendam Banjir, Ini Penyebabnya Menurut Basarnas

 

Banjir Kabupaten Bandung, Akses Jalan Dayeukolot-Banjaran Terputus

 

Meski kini Atip tak lagi muda, namun ia tetap punya keinginan agar penataan sungai segera dilakukan juga diiringi dengan mengurangi perilaku buruk masyarakat yang bisa menimbulkan banjir. Lantaran, bila banjir datang akan lebih banyak orang yang dirugikan.

“Ya saya mah kalau pun enggak bisa merasakan hidup di tempat yang aman, minimal generasi anak-anak setelah saya bisa hidup nyaman tanpa harus bayar mahal. Artinya meskipun di daerah kampung begini ya tetap terhindar dari musibah terutama banjir,” tutur pria yang kini hidup sebatang kara, setelah ditinggal wafat istrinya.

Berdasarkan data dari pusat pengendalian operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, ketinggian banjir di Dayeuhkolot hingga Kamis (07/03/2019), pukul 14.00 WIB, mencapai 40-250 centi meter. (Tito Rohmatulloh/BandungKita.id)

 

Editor : M Zezen Zainal M

Comment