BandungKita.id, BANDUNG – Meski kini usianya menginjak lebih dari setengah abad, tak menyurutkan langkah Sri Wahyuni untuk tetap berjuang mencari pundi-pundi rupiah disejumlah titik di Kota Bandung.
Perempuan berusia 53 tahun tersebut bekerja banting tulang setiap hari menjajakan cangkir per cangkir jamu tradisional. Berangkat setiap pukul 08.00 pagi, dagangan Sri biasa habis sekira pukul 12.00 siang.
“Tadi berangkat pagi, dari rumah sampai sekarang, nih tinggal sedikit lagi alhamdulillah walaupun pengdapatnya engga menentu,” kata ibu satu anak tersebut.
Sebelum berangkat, setiap pukul 02.00 dini hari Sri selalu mempersiapkan segala kebutuhan dagangannya sendiri. Mulai dari mempersiapkan alat hingga meracik jamu, ia lakukan sendiri secara manual
Di zaman yang serba modern ini, Sri mengakui gempuran industri jamu pabrikan terasa cukup mengganggu pendapatnya. Namun tak ada pilihan lain, Sri harus bertahan melanjutkan usaha jamu gendong demi menyambung hidup keluarganya.
“Saya di Bandung sejak tahun 1966, dan ya ini usaha ibu saya yang saya lanjutkan. Alhamdulillah sudah punya langganan walaupun ya jamu pabrikan juga banyak kan sekarang,” kata Sri, saat di temui di sekitar jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin (25/3/2019).
Di Kota Bandung, perempuan asal Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah tersebut tinggal di daerah Tamansari bersama suaminya yang yang bekerja sebagai pedagang Bakso.
Dengan logat Jawa yang kental, Sri piawai meracik setiap jamu yang diinginkan pembelinya. Pasalnya, setiap datang pembeli Sri akan bertanya keluhan apa yang dirasakan.
Baca juga: Azis, Si Bocah Pencipta Ribuan Layang-Layang Asal Singajaya
“Kalau beras kencur buat ngurangin badan pegel dan sakit pinggang, temulawak buat nafsu makan, kunir, asem, sama gula merah buat ngurangin lelah. Kalau buat yang baru nikah, cocok minum gingsen sama jambe pinang nambab stamina juga,” papar Sri.
Dengan harga 10 per cangkir, Sri biasanya mengantongi untung sampai Rp 100 ribu per-harinya. Meski tidak banyak namun hal itu dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.
“Karena usaha yang lain saya ga bisa, SD juga ngga tamat, jadi usaha jamu ini saya jalani aja alhamdulilah buat nambah nambah,” pungkas Sri. (Tito Rohmatulloh/BandungKita)
Editor: Dian Aisyah





Comment