oleh

Dikeluarkan Tanpa Alasan Jelas, Orang Tua Murid SMA Pelita Nusantara Laporkan Pihak Sekolah dan Minta Perlindungan Pemerintah

Berencana Seret Sekolah ke Jalur Hukum

BandungKita.id. BANDUNG – Orang tua murid SMA Taruna Pelita Nusantara Bandung melaporkan pihak sekolah ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A).

Salah seorang orang tua murid, Andi M Ridwan F (51) melaporkan pihak sekolah karena anaknya bernisial AR dikeluarkan tanpa pemberitahuan oleh pihak sekolah. Ridwan sapaan akrabnya, menuturkan pelaporan tersebut juga dilakukan orang tua murid lainnya, berinisial EAY.

“Ya anak kami dikeluarkan oleh pihak sekolah dengan alasan yang tidak jelas, padahal anak kami tidak memiliki masalah secara akademik bahkan terbilang anak yang baik,” kata Ridwan seusai melapor ke UPT P2TP2A Kota Bandung Jalan Ibrahim Adjie Nomor 84 Kota Bandung.

“Ini kan merenggut hak pendidikan anak kami. Kami meminta perlindungan pemerintah,” lanjut Ridwan.

Orang tua murid SMA Pelita Nusantara melaporkan tindakan sewenang-wenang SMA Pelita Nusantara yang mengeluarkan tiga orang siswa hanya karena belum membayar SPP selama tiga bulan (M Zezen Zainal M/ BandungKita.id)

 

Usut punya usut, Ridwan bercerita bahwa pihak sekolah mengeluarkan buah hatinya tersebut dengan alasan menunda pembayaran SPP selama tiga bulan terhitung sejak Januari, Februari, dan Maret 2019.

Penundaan iuran SPP tersebut, kata Ridwan sebagai bentuk desakan para orang tua murid agar kurikulum, fasilitas serta pelayanan di sekolah tersebut bisa lebih baik. Sebab, sudah sejak lama fasilitas dan sarana prasarana di SMA Pelita Nusantara dibiarkan kumuh dan tidak terawat sehingga dikeluhkan para orang tua murid.

Meski begitu, iuran tersebut kini sudah dilunasi Ridwan beserta orang tua korban lainya dengan nominal 3,4 juta per bulan. Jika ditotalkan maka SPP AR dan EAY dalam tiga bulan tersebut masing-masing Rp 10,2 juta.

“Tapi anak kami tetap tidak bisa kembali lagi bersekolah. Kami ya merasa keberatan. Makanya kami melapor ke berbagai pihak-pihak terkait salah satunya ini. Kami juga sudah melapor ke Dinas Pendidikan Wilayah 7 yang menaungi Kota Bandung dan Kota Cimahi ” kata Ridwan.

BACA JUGA :

Waduh! Gara-gara Telat Bayar SPP 3 Bulan, Tiga Siswa SMA di Bandung Dikeluarkan dari Sekolah

 

Wasekjen Majelis Zikir SBY Laporkan Dua Oknum TNI ke Denpom Bandung, Ini Penyebabnya

 

Ridwan yang merupakan Ketua Komite Sekolah SMA Pelita Nusantara, mengaku berkewajiban memantau aktifitas sekolah agar terselenggara dengan baik.

Ia seringkali menyampaikan keluhan dan aspirasi dari para orang tua murid lain.

Ridwan menyebut para orang tua murid sejak lama mengeluhkan tentang fasilitas dan sarana prasarana sekolah yang dinilai tidak layak.

Apalagi, para orang tua murid harus merogoh kocek dalam-dalam untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.

Ketika masuk, para orang tua dijanjikan fasilitas dan sarana prasarana serba wah.

Namun faktanya berbeda. Fasilitas dan sarana prasarana sekolah sangat tidak layak bahkan sangat kumuh untuk ukuran sekolah elit dan mahal.

Keluhan yang disampaikan Ridwan pada pihak sekolah pun disinyalir menjadi penyebab anaknya dikeluarkan.

“Ya memang nuansa itu sangat kental, jadi kami komite sekolah selalu menyampaikan saran masukan kepada yayasan, kepada sekolah, manajemen, tujuanya untuk perbaikan mutu pendidikan, mutu pelayanan kegiatan belajar mengajar di SMA tersebut. Juga untuk peningkatan kenyamanan anak-anak di barak, hal ini lah yang tidak disukai mereka,” kata Ridwan.

“Oleh sebab itulah kami oleh yayasan dipandang bikin gaduh mungkin. Masalahnya kami komite sekolah dengan pihak sekolah atau yayasan. Tapi kenapa anak kami dijadikan korban ketidaksenangan mereka kepada kami. Anak-anak kami dikeluarkan dengan alasan yang tidak jelas,” lanjutnya.

Akibatnya, anak-anak mereka kini ‘menganggur’ di rumah. Padahal, kata Ridwan, para siswa seharusnya belajar di sekolah. Terlebih, tak lama lagi mereka hendak mengikuti ujian.

“Saat ini anak-anak kami tertekan secara psikis. Mereka malu karena nama mereka dipampang di sekolah. Di mana perlindungan pemerintah melihat hal ini. Tolong selamatkan nasib anak-anak kami,” kata Ridwan.

Orang tua murid SMA Pelita Nusantara melaporkan tindakan sewenang-wenang SMA Pelita Nusantara yang mengeluarkan tiga orang siswa hanya karena belum membayar SPP selama tiga bulan (M Zezen Zainal M/ BandungKita.id)

 

Pasca pelaporan ini, lanjut Ridwan pihaknya akan menempuh jalur hukum jika memang tidak ada solusi yang bisa menyelamatkan hak pendidikan anak dan murid lainnya.

“Jadi kami pun akan menempuh jalur hukum bila ini tidak bisa selesai. Kami akan tempuh jalur hukum karena banyak yang kami ketahui bahwa perbuatan dari yayasan sekolah yang menyimpang dari aturan dan kami punya datanya. Kalau tidak ada solusi kami akan laporkan ini ke jalur hukum,” tegas Ridwan.

Sebelumnya diberitakan BandungKita.id, hanya gara-gara telat membayar uang SPP selama tiga bulan, tiga orang siswa SMA Taruna Pelita Nusantara Bandung dikeluarkan secara sepihak oleh pihak sekolah. Ketiganya, adalah PM, AR, dan EAY.

Ketiga siswa teersebut kini ‘menganggur’ tak jelas nasibnya. Padahal, tak lama lagi mereka akan menghadapu ujian. Akibatnya, para orang tua murid mengadu ke Dinas Pendidikan Wilayah 7 yang meliputi Kota Bandung dan Kota Cimahi.

Salah seorang orang tua siswa, Andi M Ridwan mengatakan anaknya AR dan dua siswa lainnya tiba-tiba dikeluarkan pihak sekolah dengan alasan telat membayar kewajiban mereka membayar SPP selama tiga bulan. Namun anehnya, ketiga anak itu dikeluarkan tanpa adanya surat pemberitahuan atau peringatan terlebih dahulu dari pihak sekolah maupun pihak yayasan.

“Dikeluarkannya anak kami bersama dua siswa lainnya hanya disampaikan melalui anak-anak kami. Padahal anak kami tidak tahu apa-apa. Mereka tugasnya hanya belajar,” kata Andi saat ditemui usai melaporkan pemecatan ketiga siswa kepada Dinas Pendidikan, Kamis (18/4/2019) lalu.

Pihak sekolah bahkan mengumumkan nama ketiga siswa itu di sekolah sehingga menimbulkan dampak psikologis bagi anak. Padahal, ketiga siswa tersebut sama sekali tidak melakukan pelanggaran apa pun di sekolah.

Tak berselang lama, pihak sekolah mengirimkan surat pemberitahuan kepada para orang tua murid. Surat itu berisi keputusan bahwa ketiga anak mereka dikeluarkan dengan alasan karena belum membayar SPP selama tiga bulan.

“Tidak ada peringatan dulu, ini siswa langsung dikeluarkan oleh pihak sekolah. Kami menganggap mereka telah semena-mena dan arogan. Pihak sekolah telah menghalangi hak anak kami untuk memperoleh pendidikan,” kata Andi Ridwan.

Terpisah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 7 Jawa Barat, Husen R Hasan mengatakan pihaknya sudah menerima pengaduan para orang tua murid SMA Pelita Nusantara tersebut. Ia berjanji akan mengupayakan agar hak-hak siswa untuk memperoleh pendidikan tidak hilang.

“Apalagi ini siswa dikeluarkan hanya gara-gara belum membayar kewajiban SPP selama tiga bulan. Tidak boleh siswa dikeluarkan karena belum membayar SPP. Itu melanggar aturan. Tidak boleh urusan administrasi dikaitkan dengan proses pembelajaran siswa,” kata Husen.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan apa pun dari pihak sekolah maupun yayasan SMA Pelita Nusantara. Kepala Sekolah SMA Pelita Nusantara, Linlin tidak menjawab telepon BandungKita.id. Pesan instan yang dikirim via whatsapp pun tidak dijawab. (M Zezen Zainal M/Tito Rohmatullah/BandungKita.id)

Editor : M Zezen Zainal M

 

Komentar