oleh

Dipindahkan ke Lapas Gunung Sindur, Apakah Sikap Bandel Setya Novanto Bisa Dijinakkan?

BandungKita.id, BANDUNG – Tersangka kasus korupsi penyalahgunaan anggaran KTP elektronik tahun 2011-2013, Setya Novanto kerap membandel selama menjalani penahanan.

Pada April 2019, Koruptor yang merugikan negara hingga Rp 2,3 triliun itu kedapatan makan di rumah makan Padang di sekitar RS PAD Jalan Gatot, Subroto Jakarta. Tak hanya itu, dia juga pernah punya ruang khusus bak hotel bintang lima lengkap dengan fasilitas mewah di Lapas Sukamiskin.

Terpidana yang divonis 15 Tahun penjara itu, juga pernah kedapatan berada di rest area di KM 97 tol Cipularang pada September 2018 lalu. Saat sedang istirahat, foto Setnov juga viral di Medsos.

Terbaru, Jumat (14/6/2019), pria kelahiran Bandung 63 tahun lalu itu kedapatan pelesiran di Padalarang bersama sang istri. Foto adegan tersebut juga viral di jagad media sosial.

Baca juga:

Duh, Usai Berobat Bukanya Balik ke Sel, Setnov Malah Keluyuran di Padalarang

 

Pasca kejadian tersebut Kakanwil Kemenkumham Jawa Barat Liberty Sitinjak, memutuskan Setyo Novanto pindah ke Lapas Gunung Sindur Kabupaten Bogor.

Dengan kelakuan yang kerap membandel, pemindahan lokasi penahanan Setya Novanto memicu beragam komentar.

Salah satunya, Direktur Lembaga Kajian Hukum dan Kriminal, Institute For Criminal Justice Reform (ICJR), Anggara Suwahju mengumpamakan pemindahan tersebut seperti dua sisi mata pisau.
Pasalnya, lapas tersebut memang dikenal sangat tertutup. Namun seiring dengan itu, akses publik untuk melakukan fungsi pengawasan bagi penghuni lapas jadi sangat terbatas.

“(Pemindahan Setnov) bisa jadi efektif bisa jadi enggak. Gunung Sindur itu out of knowhere, artinya gak diketahui siapa pun, di situ susah banget akses. Artinya pengawasan publik juga jadi lemah, enggak ada orang mengawasi, beda dengan di Sukamiskin semua orang bisa lihat,” kata Anggara saat dihubungi BandungKita, Sabtu (15/6/2019).

Baca juga:

Mengapa Izin Berobat di Lapas Sukamiskin Sering Disalahgunakan Napi Untuk Pelesiran?

 

Meski begitu, Anggara mengatakan fasilitas pengamanan di Lapas Gunung Sindur memang lebih ketat. “Makanya kita belum pernah dengar ada napi yang pelesiran, semoga memang tidak ada, bukan karena ada sebab lain (ketertutupan informasi),” kata Anggara.

Sementara itu, Wakil Direktur pusat kajian penahanan, Centre For Detention Studies (CDS) Gatot Goei mengatakan yang terpenting bukan soal pemindahan, namun soal sejauh mana Kemenkumham melakukan evaluasi terhadap para petugas.

“Kalau misalnya standar pengawalan tidak diubah, tidak akan perubahan secara signifikan. Dipindahkan ke mana pun kalau secara mental integritas petugasnya seperti itu, akan terjadi di tempat-tempat lain juga,” kata Gatot melalui sambungan telepon.

Baca juga:

Selain Setya Novanto, Ini 4 Narapidana yang Punya ‘Kesaktian’ Keluar-masuk Lapas Sukamiskin

 

Gatot menegaskan, menjalankan standar prosedur lebih penting daripada sekadar memindahkan lokasi penahanan. Salah satu contohnya yakni tahanan saat keluar dari penjara, harus diborgol, apa pun kepentingannya.

“Sebetulnya, berobat ke rumah sakit adalah hak, dengan syarat memenuhi standar. Pengawalan itu menjadi penting untuk menghindari kasus-kasus tahanan melipir ke mana-mana. Misal, saat diperiksa, pasien tahanan ini ya diborgol di ranjang, saat jalan juga diborgol dan dikawal, biar enggak bisa kemana-mana,” tegasnya.

Sementara itu berdasarkan foto yang viral yang diduga sosok Setya Novanto. Mantan Ketua DPR RI itu tapak pelesiran di Padalarang tampak mengenakan topi, masker, kemeja lengan pendek, celana hitam, sepatu hitam, dan kedua tangannya juga tampak bebas tanpa borgol.***(Tito Rohmatulloh/BandungKita)

Editor: Restu Sauqi

Komentar