by

Kronologi Penangkapan Polda Kalteng Terhadap Ketua Komunitas Adat Laman Kinipan

BandungKita.id, NASIONAL – Polda Kalimantan Tengah (Kalteng) menangkap Ketua Komunitas Adat Laman Kinipan, Effendi Buhing pada Rabu (26/8) siang. Penangkapan ini diduga terkait dengan konflik lahan antara masyarakat adat tersebut dengan sebuah perusahaan sawit.

Effendi Buhing dijemput paksa polisi di rumahnya di Desa Kinipan, Kecamatan Batang Kawa, Kabupaten Lamandau. Hal ini disampaikan Koalisi Keadilan Untuk Kinipan dalam siaran persnya.

Nampak Effendi sempat menolak dibawa oleh polisi dalam video yang dikirimkan warga kepada Koalisi. Disebut bahwa penolakan itu karena penangkapan tidak berdasarkan alasan dan masalah yang jelas.

“Ditambah, penangkapan terhadap dirinya (Effendi) tanpa didahului surat pemanggilan sebagai saksi,” ungkap Koalisi dalam rilisnya, Rabu (26/8).

Polisi tetap memaksa menangkap Effendi meskipun ada penolakan. Ia diseret dari dalam rumah menuju mobil hitam yang sudah disiapkan oleh polisi.

“Sementara itu, terlihat polisi berseragam hitam dan bersenjata api laras panjang sedang berjaga di dekat mobil tersebut,” ujar Koalisi.

BACA JUGA :

Dugaan “Kriminalisasi” Petani Kertasari, Elemen Warga Kabupaten Bandung Gelar Dialog Interaktif

Warga Sunda Wiwitan Pertahankan Tanah Adat Hingga Titik Darah Penghabisan

Rayakan Pabaru Sunda 1954 Saka di Lahan Eks-Palaguna, Sunda Kiwari Ajak Lestarikan Cagar Budaya

Dugaan Koalisi, penangkapan Effendi Buhing tersebut, terkait dengan gencarnya penolakan yang dilakukan masyarakat adat Laman Kinipan terhadap upaya perluasan kebun sawit PT. Sawit Mandiri Lestari (SML) yang membabat hutan adat milik masyarakat Kinipan.

Ketika penangkapan belum terjadi, Koalisi menyebut teror dan berbagai bentuk intimidasi telah banyak menimpa masyarakat adat Laman Kinipan. Bahkan kini eskalasi kekerasannya semakin masif.

“Mulai dari upaya mengkriminalisasi Kepala Desa, penggusuran lahan, penebangan hutan, penangkapan terhadap 4 orang warga, hingga penangkapan terhadap Riswan,” terang Koalisi.

Riswan sendiri merupakan anggota Komunitas Adat Laman Kinipan. Aparat kepolisian mendatangi rumah Riswan di Kinipan dan langsung membawa Riswan ke Rumah Kepala Desa Kinipan, Willem Hengki. Ia ditangkap pada Sabtu (15/8).

Di kediaman Kepala Desa Kinipan, aparat kepolisian menyebut bahwa mereka ingin meminta klarifikasi dari Riswan terkait kegiatan warga Kinipan pada 23 Juni 2020, di hutan pada sekitar tempat perusahaan bekerja.

Pada sore itu juga aparat sempat memaksa Willem Hengki dan Riswan untuk berangkat bersama mereka ke Kantor Polsek Delang namun ditolak oleh Willem Hengki. Sebab, tidak ada surat pemanggilan yang sampaikan oleh aparat kepolisian kepada Riswan dan Kepala Desa sebagai landasan mereka meminta klarifikasi tersebut.

Lalu pada Minggu (16/08), Riswan bersama Kepala Desa Kinipan, menjalani pemeriksaan di kantor Polres Lamandau di Nanga Bulik, dari pemeriksaan tanpa didampingi penasehat hukum tersebut, Riswan akhirnya dibawa ke kantor Polda Kalimantan Tengah.

Adapun Willem Hengki diperbolehkan pulang oleh penyidik untuk menyampaikan informasi tersebut kepada keluarga Riswan.

Riswan lalu ditetapkan menjadi tersangka oleh oleh aparat. Ia dituduh melakukan tindak pidana pencurian dengan kekerasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 365 KUHPidana.

Atas dasar penangkapan Effendi Buhing, Riswan dan beberapa warga lainnya, Koalisi mendesak Polda Kalimantan Tengah segera membebaskan mereka semua.

Ilustrasi perkebunan kelapa sawit (foto:net)

Koalisi juga meminta penghentian upaya kriminalisasi terhadap pada Tetua, Tokoh, Masyarakat Adat dan Pejuang Lingkungan yang mempertahankan Hak, Hutan, Wilayah Adat dan Ruang Hidup mereka dari ancaman alih fungsi kawasan.

“Mendesak agar pemerintah melakukan evaluasi terhadap izin PT. Sawit Mandiri Lestari yang beroperasi di wilayah adat Kinipan,” kata Koalisi.

Dihubungi terpisah, Kepala Hubungan Masyarakat PT Sawit Mandiri Lestari, Wendy Soewarno mengatakan penangkapan terhadap Ketua Komunitas Adat Laman Kinipan Effendi Buhing murni terkait tindak pidana . Wendy membantah pihaknya mengkriminalisasi pejuang adat Laman Kinipan.

“Tidak benar ada kriminalisasi. Silahkan cek juga di Polda apakah kasus ini masalah hutan atau tindak pidana lain karena tidak ada kasus masalah hutan, permasalahan ini adalah tindak pidana murni,” jelasnya seperti dikutip BandungKita.id dari CNN, Kamis (27/8).

Sementara itu, Kabid Humas Polda Kalimantan Tengah Kombes Pol Hendra Rochmawan membantah bahwa pihaknya tidak menunjukkan surat tugas saat melakukan penangkapan. Dia mengatakan bahwa penangkapan terhadap Effendi telah dilakukan secara profesional.

“Penangkapan terpaksa dilakukan dengan upaya paksa secara terukur dan profesional. Sebelumnya kami sudah persuasif dan bernegosiasi lewat penyampaian surat tugas, namun pihak keluarga dan warga menghalangi proses penangkapan tersebut,” kata Hendra saat dihubungi, Kamis (27/8).

Penangkapan dilakukan berdasarkan atas laporan polisi Nomor: 173 / VII / SPKT tanggal 09 Agustus 2020 yang dilakukan oleh tim Ditreskrimum Polda Kalteng. Dia menuturkan penangkapan itu dilakukan pada Rabu (26/8) sekitar pukul 15.00 WIB atas tuduhan yang bersangkutan sebagai terduga pelaku tindak pidana pencurian dengan kekerasan (curas).

Hingga saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap terduga pelaku itu di Polda Kalteng. Maka, ia belum dapat merinci lebih jauh terkait dengan penanganan kasus terhadap Effendi. (*)

Editor : Azmy Yanuar Muttaqien

Comment